Breaking News:

Kisah Betadine dan Apollo 11, Ternyata Menarik

Ketika awak Apollo 11 mendarat di Samudera Pasifik, para astronot yang terdiri dari manusia-manusia pertama yang mendarat di bulan,

hornetevents.com
Dalam misi Apollo 11 (20/7/1969) yang membawa keberhasilan pendaratan pertama manusia di bulan, para dokter NAS dipenuhi kekhawatiran tentang apa yang mungkin dihadapi dan dibawa para astronot sekembalinya dari luar angkasa. 

TRIBUNJAMBI.COM - Dalam misi Apollo 11 (20/7/1969) yang membawa keberhasilan pendaratan pertama manusia di bulan, para dokter NASA dipenuhi kekhawatiran tentang apa yang mungkin dihadapi dan dibawa para astronot sekembalinya dari luar angkasa.

Percaya dengan ungkapan “lebih baik aman daripada menyesal” NASA berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi bumi dari beragam ancaman yang mungkin tersebar di tata surya kita.

Oleh karena itu, ketika awak Apollo 11 mendarat di samudar Pasifik, para astronot yang terdiri dari manusia-manusia pertama yang mendarat di bulan, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin, langsung diminta mengenakan Biological Isolation Garments yang disediakan oleh UDT spesialis dekontaminasi, LT Clancy Hatleberg, dari tim pengambilan lebah.
Sebelum meninggalkan modul pendaratan, semua orang di atas kapal itu mengelap dengan natrium-hipoklorit.

Sementara seluruh bagian di dalam modul pendaratan tersebut langsung disterilkan dengan Betadine, sebuah merek antiseptik yang rasanya sudah sangat tidak asing di telinga kita. Bahkan setelah para astronot berada di darat, seluruh pakaian serta perahu yang mengangkut mereka turut disterilkan dengan Betadine.

Betadine dan Indonesia

Siapa sangka, peran Betadine dalam misi Apollo 11 itulah yang menjadi salah satu alasan dr. Kahar Tjandra dengan bendera Mahakam Beta Farma mengenalkan dan memproduksi Betadine, yang mereknya dimiliki oleh Mundipharma, ke Indonesia pada 1975.

Kerjasama tersebut berlangsung selama lebih dari 40 tahun, hingga akhirnya pada 19 Mei 2016 bertempat di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta, kesepakatan tersebut berubah. Mundipharma yang sebelumnya hanya memiliki paten, kini akan secara langsung mempromosikan dan memberikan edukasi terkait Betadine di Indonesia.

Sementara Mahakam Beta Farma akan fokus memproduksi Betadine, tidak hanya untuk pasar Indonesia, namun juga untuk pasar internasional.

“Model kemitraan bisnis antara Mundipharma dan PT. Mahakam Beta Farma ini merupakan pendekatan yang unik dimana Mundipharma sebagai pemilik merek Betadine dan PT. Mahakam Beta Farma akan tetap menjadi produsennya,” ujar Mada Shinta Dewi, Country Manager Mundipharma Healthcare Indonesia.

Apalagi, menurut Raman Singh, Presiden untuk Mundipharma Asia Pacific, Latin America, Middle East & Africa, “Betadine berkembang dengan cepat di Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan sektor layanan kesehatan terbesar dan paling dinamik yang melayani kebutuhan lebih dari 250 juta orang Indonesia.”

Sumber: Intisari online

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved