Selasa, 14 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Suku Anak Dalam

Merasa dari Kalangan Marjinal, SAD Pertama yang Jadi Tentara Kerap Merasa Pesimis

Mempunyai cita-cita menjadi tentara sudah tertanam dalam diri M Firman Haryanto (19) sejak ia kecil.

Penulis: qomaruddin | Editor: Fifi Suryani
TRIBUN JAMBI/QOMARUDDIN

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Qomaruddin

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Mempunyai cita-cita menjadi tentara sudah tertanam dalam diri M Firman Haryanto (19) sejak ia kecil. Diawali kala itu dirinya melihat tentara masuk di kampung memperbaiki jalan.

Rasa miris dan pesimis merasa tidak mungkin selalu tertanam di benak anak pertama dari tiga bersaudara pasangan
Nawawi Dahlan dan Fatmawati ini untuk lulus dan masuk menjadi personil angkatan bersenjata.

Apalagi terlahir dari kalangan marginal dianggap sebagian kalangan yakni hanya putra Suku Anak Dalam (SAD). Berkelana di hutan mencari penghidupan saban hari, dan tamat di SMP 36 Sungai Bahar saja dianggapnya sudah cukup.

Sehingga perasaan minder melihat sejawatnya lulus menjadi anggota TNI, memiliki dan terlengkapi sejumlah fasilitas dianggapnya mewah.

"Ya. Cita cita ingin jadi tentara dari kecil. Pengen dihormati orang aja, kita lihat tentara itu sangat dihormati," katanya ditemui Tribun, di Makorem 042/Gapu, Kamis (6/4) kemarin.

Kala itu, kata Alumni SD 202 Unit 22 Sungai Bahar tersebut, melihat tentara masuk kampung masuk memperbaiki jalan.

"Di situlah saya terpikir dan lihat tentara dihormati, jadi maunya jadi tentara. Jelas raso dak percaya bisa diterima," ujarnya.

Selain itu sebelum menjadi Scata (siswa calon tamtama), menjadi tentara itu selalu dibayangkannya. Tapi harapan itupun rasanya pupus kala ia menaksir siapa dirinya sesungguhnya.

"Cuma bisa bersyukur dan terima kasih. Dulu cuma lihat saja tentara tentara dan kemudian saya bayangkan enak jadi tentara," kata putra kelahiran Sungai Bahar 25 April 1997.

Bahkan sampai saat ini pun menurutnya, perasaan tak mungkin menjadi tentara masih menghantui Firman, tak hanya dirinya tapi keluarga beserta kerabatnya sesama SAD di Dusun Muaro Panyerukan unit 15 Sungai Bahar Komunitas SAD Bathin IX.

Lantaran yang terpikir bila masuk tentara jutaan rupiah akan dikeluarkan. Namun katanya, tuhan berkehendak dan punya rencana lain.

"Saya pun ngukur diri saya, siapa saya, tapi mungkin Tuhan punya rencana lain. Saya bisa lulus dan juga berkat bantuan Bang Desnat, abang-abang di Intel Korem termasuk Danrem 042/Gapu, yang berikan waktu saya bisa lulus," ujarnya.

Katanya Firman, mungkin dengan cara ini pulalah SAD tak lagi dipandang sebelah mata, tapi SAD punya hak sama dengan masyarakat lain.

"Masih. Kami masih cari makan di hutan. Kalau gak gitu mau makan apa, termasuk sebelum tes tentara saya selalu kerja di hutan bantu orang tua," katanya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved