Inspirasi, Si Pengumpul Data Si Peraup Untung
Kesadaran instansi bisnis dan pemerintah akan pentingnya data membuat perusahaan kebanjiran proyek.
Perlu waktu dua bulan untuk membangun sistem mesin agar bisa bekerja dan punya tingkat akurasi hampir 90% itu.
Saat ini, sudah ada sekitar 140 fitur tersedia di dalam mesin miliki Awesometrics. Hanya, untuk menggunakan fitur sebanyak ini klien perlu pendampingan dari analis agar mereka dapat menggunakan sistem dengan baik. Tapi secara umum, klien sudah mampu menggunakan mesin ini untuk memonitor informasi dan data seputar mereknya.
“Mereka akan dapat satu akun dan password untuk bisa akses dashboard dan mencari kata kunci dari merek produknya atau nama perusahaannya di sana,” kata Ismail.
Namun, kekuatan menjalankan bisnis ini tak hanya pada mesin, melainkan juga pada individu sebagai tenaga ahli riset. Selain itu, bisnis ini masih butuh sumber daya manusia sebagai data trainer.
Data trainer ini bekerja untuk mengajari mesin membaca kata agar sesuai dengan konteks. Sebab belakangan muncul istilah dan bahasa baru, seperti bahasa alay, di masyarakat.
Selain itu, kekuatan bisnis penambangan data (data mining) dan analisis ada pada tim riset yang bisa membaca data. Sebab, di tangan mereka data dapat diramu dan diracik sampai menghasilkan kesimpulan.
Memenuhi kebutuhan itu, Awesometrics menyediakan sedikitnya 8 orang tenaga ahli analis yang bertugas meramu dan meracik data dan informasi yang masuk ke sistem mereka.
Untuk membangun usaha ini pada 2012 silam, Awesometrics harus merogoh anggaran sebesar Rp 3 miliar dalam tiga tahun awal. Selain membangun mesin, uang juga digunakan untuk menjalin kerjasama dengan instansi lain sebagai sumber data.
Sebab, tak semua data tersedia secara online di media massa. Misalnya, beberapa daerah seperti Poso atau wilayah Indonesia Timur, peran media cetak masih dominan. “Jadi, perlu menempatkan orang-orang yang bisa terus menghimpun data dan informasi dari media lokal di daerah-daerah,” ungkap Ismail.
Nah, jika Anda tertarik masuk ke bisnis ini, selain butuh modal yang cukup besar, Anda juga dituntut untuk memahami seluk beluk proses analisis data.
Oleh karena itu, pengamat startup Heru Sutadi menilai, tak sembarang orang berduit bisa bangun bisnis seperti ini. Perlu keahlian dan minat dalam olah data.
“Kalau teknologi memang bisa dibeli, tapi perlu orang khusus yang punya minat dan pengalaman dalam soal riset, baik kualitatif maupun kuantitatif,” kata Heru.
Anda juga harus siap menghadapi kendala terbatasnya sumber daya manusia yang paham mengolah big data. Anda harus pandai memilih partner yang tidak hanya mengerti soal teknologi, tapi juga ekosistem bisnis ini dengan baik. “Kalau tidak, mubazir, karena hanya akan buang uang untuk bisnis yang dia tidak pahami,” tandas Heru.