Peneliti Dapati Bayangan Terpendek di Candi Muaro Jambi
Sabtu (19/3) pukul 11.00. Sengatan matahari terasa panas. Tapi, siapa peduli. Justru sejumlah peneliti
Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM - Sabtu (19/3) pukul 11.00. Sengatan matahari terasa panas. Tapi, siapa peduli. Justru sejumlah peneliti tengah serius dalam kesibukannya di Candi Kedaton kompleks percandian Muarajambi. Mereka memerhatikan penunjuk bayangan di salah satu bangunan candi di sana.
Semua bermula dari penggalan catatan I-Tsing (Yi Jing) yang masih misteri. Dialah pendeta Budha yang namanya tak akan bisa dilepaskan dari keberadaan situs Muarajambi di Kabupaten Muaro Jambi.
Sejumlah peneliti, diantaranya dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mencoba memecahkan teka-teki I-Tsing itu.
![]()
Di atas permukaan candi diletakkan beberapa alat yang bisa menunjukkan jam melalui bayangan. Tujuannya untuk membuktikan bahwa pada tengah hari bayangan tidak dapat dilihat karena posisinya tepat di atas kepala manusia.
Pembuktian ini mengacu pada pada catatan I-Tsing, pada tahun 600-an yang menuliskan gambarannya tentang Shihlifoshih (Shih-li-fo-shih).
“Di negeri Shihilifoshih, kita melihat bahwa bayang-bayang welacakra (jam matahari) tidak menjadi panjang, atau menjadi pendek pada pertengahan bulan delapan,” begitu terjemahan tulisan I-Tsing sebagaimana Tribun sitat dari laporan yang pernah dimuat oleh National Geographic Indonesia (NGI) pada 2013.

Agus Widiatmoko, salah satu peneliti mengatakan memang penelitian yang dilakukan kemarin tersebut dilatarbelakangi catatan soal Shihlifoshih. Mengapa percandian Muarajambi dipilih? Dugaannya, Shihlifoshih adalah Muarajambi itu sendiri.
Adapun terakait waktu pengujian yang dilakukan kemarin juga didasarkan pada penanggalan tertentu. Mereka bersandar pada catatan Profesor Takakusu dari Tiongkok. Menurutnya penanggalan Tiongkok pada satu tahun dibagi empat musim dan masing-masing tiga bulan.
Pembagiannya yaitu bulan 1, 2 dan 3 masuk musim semi. Bulan 7, 8 dan 9 masuk musim gugur. Dalam penanggalan Tiongkok matahari melewati khatulistiwa satu hari sebelum atau sesudah tanggal 15 bulan 2 atau tanggal 15 bulan 8.

Menurut peneliti jika yang dikatakan pertengahan bulan 8 menurut I-Tsing adalah persis saat matahari melintasi khatulistiwa di musim gugur dan musim semi, akan lebih mudah untuk mengetahui letak Shilifoshih.
Menurut Agus penelitian ini penting. “Temuan ini setidaknya memperkuat bahwa kedudukan Sriwijaya berpusat di Jambi,” katanya.
Candi Muarajambi yang diduga sebagai pusat kerajaan Sriwijaya adalah polemik panjang dalam dunia akademik. Catatan I-Tsing menjadi referensi yang selama ini banyak dibahas kalangan arkeolog dan akademisi lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20032016_bayangan2_20160320_180521.jpg)