Sabtu, 25 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Saat Istri Hamil, Suami Jangan Sampai Depresi, Bisa Berdampak Seperti Ini

Penelitian menunjukkan, kasus baru maupun depresi berulang pada ibu meningkatkan risiko kelahiran prematur sedang sekitar 30-40 persen.

Editor: Duanto AS
Net
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM - Tak hanya ibu, ayah yang mengalami depresi saat sang istri hamil ternyata juga berisiko membuat bayi yang dilahirkan menjadi prematur atau berat badan rendah. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan di Swedia dan dipublikasikan dalam jurnal BJOG: An International Journal of Obstetrics and Gynaecology.

Penelitian dilakukan terhadap lebih dari 350.000 kelahiran pada tahun 2007-2012. Peneliti mengamati bayi-bayi yang lahir sangat kecil, yaitu antara 22 dan 31 minggu kehamilan dan kelahiran prematur sedang, yaitu pada 32-36 minggu kehamilan.

Penelitian menunjukkan, kasus baru maupun depresi berulang pada ibu meningkatkan risiko kelahiran prematur sedang sekitar 30-40 persen.

Sementara itu, depresi pada ayah meningkatkan risiko kelahiran bayi sangat prematur sebesar 38 persen. Meski demikian, depresi berulang pada ayah tidak memengaruhi kelahiran prematur.

Menurut Prof Andres Hjern dari Centre for Health Equity Studies, Stockholm, depresi yang terjadi pada ayah juga menjadi sumber stres bagi ibu hamil. "Menurut penelitian kami, hal ini dapat menyebabkan peningkatan risiko kelahiran sangat prematur," ujar Andres.

Bahkan, menurut penelitian, depresi pada calon ayah atau dikenal dengan depresi paternal juga memengaruhi kualitas sperma dan efek epigenetik pada DNA bayi. Selain itu juga memengaruhi fungsi plasenta. Namun, risiko menurun jika terjadi depresi berulang pada ayah dan depresi diobati.

Menanggapi penelitian ini, dokter kandungan dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), Patrick O'Brien mengimbau pasangan suami istri, khususnya ketika masa kehamilan untuk menghindari depresi.

Jika mengalami perubahan suasana hati, mudah marah, dan cemas, segera konsultasi ke dokter dan menangani masalahnya. Mencegah akan jauh lebih baik.

Sumber: The Mirror

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved