Pembunuhan Sadis di Sarolangun

Kisah Bripka Anton Mengawal Hendi, Pemenggal Istri

Ditemui di ruang Alfa, RSJ Jambi Jumat (20/2), lelaki berportus tinggi tegap ini mengaku, ini merupakan kasus sadis pertama yang pernah di tanganinya

Penulis: qomaruddin | Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUNJAMBI/DEDY NURDIN
Bripka Anton 

Satu tugas polisi adalah melakukan pengawalan. Tak hanya pengawalan terhadap pejabat atau hal tertentu semata, namun juga mengawal tersangka. Termasuk diantaranya mengawal pelaku pembunuhan sadis.

Inilah yang dialami oleh para personel kepolisian dari Polres Sarolangun, Jambi. Diantaranya Bripka Anton Purwanto. Sosok polisi dari Polsek Tanjung Pauh ini merupakan satu diantara prsonel yang ditugaskan mengawal Hendi, tersangka pembunuhan sadis terhadap isterinya guna menjalani pemeriksaan kejiwaan di Rumah Sakit Umum Daerah Jambi.

Ditemui di ruang Alfa, RSJ Jambi Jumat (20/2), lelaki berportus tinggi tegap ini mengaku, ini merupakan kasus sadis pertama yang pernah di tanganinya, setelah 14 tahun menyandang sebagai personel polri.

"Baru ini ketemu kasus yang sadis, kalau dipikir-pikir diluar logika. Dia bisa membunuh istrinya sendiri, terus kepalanya ditenteng. Waduh ini susah dipercaya," katanya saat berbincang dengan Tribun. Ia pun mengaku mendapat pelajaran luar biasa dari kasus Hendi ini.

Diceritakan Bripka Anton, selama dalam perjalanan, Hendi terpaksa harus diborgol. Lantaran, pernah pada satu waktu saat akan dibawa ke RSJ tersangka sempat mencoba melarikan diri. "Waktu di bawa, pake mobil Kapolsek. Diperjalanan dia sempat mau kabur. Tapi karena tangannya diborgol kekursi, dia tidak bisa lari. Dia cuma ketawa," katanya.

Bahkan saat hari pertama tiba di RSJ, pada hari Rabu (18/2) kemarin. Hendi sempat mengancam seorang perawat disana. Hal ini terulang kembali pada hari kedua, dengan ancaman sama akan membunuh perawat disana.

"Dia kalau nengok orang yang baru ditengoknya seperti itu. Makanya harus kita kawal, takutnya ada apa-apa. Karna dia kalau sudah kenal dia mau dikasi tahu," tutur Anton.
Selama menjalani observasi di RSJ. Kondisi hendi terkadang normal dan terkadang hanya berdiam diri saja. Bahkan, satu ketika ia pernah menyampaikan rasa penyesalannya. Hendi pernah meminta untuk dihukum mati saja.

"Tapi saya jelaskan baik-baik kedia, hen kau kesini nak berobat biar sembuh. Kalau dikasi tau seperti itu dia ngangguk,"katanya.

Seperti terpantau, dari kejauhan pada Jumat sore, sekitar pukul 15.53 WIB Hendi menempati satu ruang observasi RSJ, di ruang Alfa no 4. Saat Tribun melihat keadaannya, ketika itu ayah lima anak ini tengah menyuap nasi yang diberikan perawat. Ia tampak mengenakan baju t sirt berwarna merah dengan garis tipis putih dan hitam. Ia bersandar di besi penopang ranjang. Sementara, tangan kirinya diborgol ke besi penopang ranjang.

Saat disapa Bripka Anton ia hanya terlihat mengangguk sesekali sambil matanya terus menatap Tribun yang ketika itu berdiri di kejauhan. Bahkan saat ditanya nama anak ke empat dan kelimanya ia masih mengingat.

"Ini aku bawa pak dokter, katanya makan yang banyak ya. Biar kau cepat sembuh,"kata Bripka Anton, yang disambut tersangka hendi dengan anggukan kepala. Gitu lah, kadang dia bisa diajak ngomong. Kadang cuma diam. Kemarin dia sempat ngeluh kepalanya sering sakit. Katanya ada orang yang ngikutinya. Kadang nabrak kepala belakangnya," tutur Bripka Anton menyampaikan keluhan tersangka.

Kepada Tribun, Bripka Anton juga menceritakan saat penangkapan tersanga yang berlangsung sekitar 1 jam. Pihak kepolisian dibantu dengan warga sekitar sempat berupaya membujuknya. Namun, tersangka Hendi menolak menyerahkan kepala istrinya. Sambil mengayunkan parang di tangan kananya kearah warga yang berupaya mendekat.

"Setelah dikepung, sambil dibujuk. Akhirnya ada warga yang mukul tangannya dengan kayu. Parangnya jatuh, baru kita tangkap rame-rame," kata Anton.

Dari informasi beberapa saksi, tersangka sebelumnya memiliki riwayat gangguan kejiwaan. Bahkan ini sudah diketahui anak-anaknya. Kecurigaan pihak kepolisian muncul saat di lakukan BAP terhadap Hendi.

"Pas pertanyaan ke delapan dia ngawur jawabannya. Dia sempat kesal juga, karna waktu ditanya berapa kali dia ngeyunkan parang jawabnya beda-beda,"tutur Anton.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved