Breaking News:

Diskriminasi di Imigrasi: Larang Pria Bercelana Pendek, Perempuan Tidak

KANTOR Imigrasi Jakarta Timur yang berada di bawah naungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

TRIBUNJAMBI/TEGUH SUPRAYITNO
Ilustrasi 

Miharno menjelaskan, memang tak ada aturan negara atau Kementerian. "Ini aturan di kantor ini saja, budaya," kata Miharno.

Saya lalu berdiri. "Bapak lihat, ini celana pendek lebih dari lutut. Di zaman pergerakan kemerdekaan, Bung Hatta pakai celana seperti ini. Cari saja foto-foto mereka zaman itu. Ini celana formal saat itu. Jadi budaya mana yang Bapak maksud? Jika memang tak boleh betis kelihatan, lalu mengapa istri saya yang pakai rok mini boleh masuk? Apa saya perlu pakai rok mini pula untuk bisa masuk gedung ini?" kata saya.

Tak lama usai mengatakan itu, masuk pesan singkat dari istri saya yang sudah antre mengambil paspor anak. Dia mengabarkan, banyak perempuan pakai celana pendek di dalam gedung, bahkan sebagian bersandal jepit.

Saya lalu menyampaikan SMS itu kepada Miharno dan Edi Mariyono. "Ini diskriminasi, Pak," kata saya. "Laki-laki bercelana pendek tak boleh masuk, sementara perempuan bercelana pendek boleh," kata saya.

Saya lalu meminta, Kantor Imigrasi Jakarta Timur mencabut aturan diskriminatif ini. Namun, tak ada jawaban memuaskan dari pejabat-pejabat level menengah di Kantor Imigrasi ini. Saat akan meninggalkan ruangan, pejabat yang paling muda di ruangan itu malah menyeletuk, "Namanya etiket masuk kantor orang."

Saya yang sudah tenang karena mendapat sambutan baik sebelumnya tentu saja tersengat mendengar kata itu. "Anda tolong ralat pernyataan itu. Ini kantor negara yang dibiayai pajak rakyat. Saya ikut bayar pajak," kata saya.

Setelah itu, saya meninggalkan ruangan kantor. Saya pergi ke bagian para pengurus paspor sedang antre. Saya menemukan, banyak orang-orang di dalam yang mengenakan sandal jepit yang hampir mirip saya pakai, namun bercelana panjang. Tapi sejumlah perempuan terlihat bercelana pendek dan bersandal.

Saya lalu menarik seorang Satpam untuk melihat seorang perempuan bercelana pendek. "Itu juga bercelana pendek dan bersandal, mengapa dia boleh masuk?" saya bertanya.

Si satpam ini menjawab, "Kan beda, Pak. Dia perempuan."

Saya pun akhirnya memilih keluar lagi, tak meladeni. Saya berdiri di pintu depan, menunggu istri dari luar. Dan lebih kurang setengah jam menunggu, sejumlah orang bersandal jepit pun lalu-lalang masuk dan keluar gedung. Memang ini aturan yang aneh, tidak perlu dan tidak efektif diterapkan.

Editor: fifi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved