Hari Pers Nasional 2012

Radio Jambi, Awal Mula Pers di Jambi

Pers harusnya tak hanya menulis sejarah perjalanan bangsa ini, namun luput menulis sejarahnya sendiri.

Penulis: Deddy Rachmawan | Editor: Deddy Rachmawan
zoom-inlihat foto Radio Jambi, Awal Mula Pers di Jambi
TRIBUNJAMBI/HANIF BURHANI
Kantor pertama RRI Jambi

Pers harusnya tak hanya menulis sejarah perjalanan bangsa ini, namun luput  menulis sejarahnya sendiri. Tulisan minim ini, hanya upaya kecil yang semoga bisa membawa manfaat di hari ini, esok atau di masa kemudian. Sebuah tulisan singkat tentang pers di Jambi. Kota yang didapuk sebagai tuan rumah peringatan Hari Pers Nasional tahun 2012.

Kata pers, boleh jadi lebih identik dengan media cetak. Setidaknya bila kita melihat asal kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia. Press dalam bahasa Inggris, presse untuk Prancis yang berasal dari bahasa latin, pressare yang bermakna  tekan” atau  cetak”. Toh bagi Provinsi Jambi, bukan media cetak yang memelopori hadirnya dunia jurnalistik di sini.
Mencari orang-orang yang berkompeten mengenai sejarah pers di Jambi ternyata tak sesulit yang dibayangkan awalnya. Beruntung Tribun mendapati sosok yang tepat lantaran ia adalah pelaku sejarah yang terlibat di dalamnya.
Berbekal nama yang  direkomendasikan Kepala Siaran RRI Jambi, Rozali, Rabu (1/2), Tribun menyisir nama itu satu per satu. Dua dari beberapa nama yang disarankan Rozali adalah Udin Thayib (70) yang merupakan penyiar pertama di RRI Jambi dan Asrie Rasyid (84), mantan Kepala Kanwil Penerangan Jambi.
Asrie yang dua kali ditemui, tampak sehat di usia senjanya. Ingatan kakek 15 cucu itu masih segar ketika berbagi cerita. Lancar ia bertutur. Kecuali, dalam beberapa hal, utamanya ketika mengingat tanggal dan bulan suatu peristiwa.
Radio. Melalui media berfrekuensi inilah diyakini jadi awal lahirnya pers di Jambi. Pers di sini tentu dimaknai sebagai mereka yang melakukan aktivitas jurnalistik, mulai dari mendapatkan, mencari, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi. Dan para pendahulu, memilih radio untuk melakukan kegiatan jurnalistik itu.
Bicara radio di masa lampau, tentu Radio Republik Indonesia (RRI) tak bisa diabaikan. Tapi ternyata, bukan RRI yang pertama hadir di Jambi. Adalah Radio Jambi yang lebih dulu lahir dan menjadi cikal bakal RRI Jambi. Begitu cerita dari Asrie saat menuturkannya kepada Tribun, Jumat (3/2) sore.
Radio ini lahir dipicu situasi keamanan ketika itu dan telah munculnya keinginan agar Jambi menjadi provinsi sendiri. Asrie tak menyebut waktu pasti hadirnya Radio Jambi. Yang ia ingat adalah, itu dimulai di pengujung tahun 1956, ketika Jambi masih menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Tengah.
 Dalam perang atau bahaya, ketika itu masalah keamanan sangat menonjol. Sehingga penguasa keamanan butuh menyampaikan informasi yang cepat,” papar Asrie ketika ditemui di rumah Situasi keamanan yang dimaksud Asrie merujuk pada pemberontakan yang dilakukan PRRI yang berpusat di Sumatera Barat.
Satu-satunya pilihan agar informasi tersebar luas dan cepat di masa itu adalah, radio.  Penguasa perang akhirnya membuat hubungan elektronik yang dapat menjangkau wilayah karasidenan Jambi (Batanghari, Jambi, Merangin, dan Kerinci).
Menurut Asrie, militer melibatkan Jawatan Penerangan Batanghari dalam mendirikan Radio Jambi ini. Adapun Asrie muda yang ketika itu berusia 29 tahun bekerja di Jawatan Penerangan Kabupaten Batanghari otomatis terlibat.
Kantor Pos yang di masa itu bernama Pos Telepon dan Telegram (PTT) turut menyumbang andil akan kelahiran Radio Jambi. Sebagai satu-satunya jawatan  yang memiliki daya untuk memancarluaskan, pemancar PTT dimanfaatkan.
 Akhirnya di akhir tahun 1956 itu berdiri Radio Jambi. Cuma ketika itu, pusat Jawatan PTT di Bandung mensyaratkan  siarannya hanya untuk bicara, musik tidak boleh,” kata pria yang ikut dilibatkan di Radio Jambi tersebut.
Alhasil, lantaran PTT juga harus menjalankan tugasnya, Radio Jambi mengudara hanya dua jam dalam sehari, mulai siaran pukul 18.00-20.00. Lalu, ditunjuk sebagai pelaksana tugas studio Letnan Dua Syamsudin Uban yang kini namanya diabadikan sebagai nama jalan.
Asrie muda yang pernah menjadi koresponden Pers Biro Indonesia (PIA) Aneta, yang mulanya merupakan kantor berita Belanda menuturkan saat itu Radio Jambi memiliki tiga orang reporter.  Sembari duduk di kursi ruang tamu, ia mengingat-ingat nama tiga wartawannya itu. Mereka adalah Zaini, Rosmara dan Rosdan Thaib.
Lantaran meminjam fasilitas milik PTT, Radio Jambi pun berkantor pula di PTT.  Untuk siaran, kami siaran di gedung yang ada di belakang kantor pos sekarang (Ancol,red). Studionya, studio radio teleponi,” ujar Asrie mengenang.
Ia menyebut, sementara kantor redaksi berada di kawasan Pasar. Kini, sisa-sisa redaksi Radio Jambi berupa rumah itu tak lagi tampak. Menurutnya, di bangunan yang kini berdiri Hotel Pundi dan di sampingnya, di sanalah dulu keredaksian radio pertama di Jambi tersebut. Itu, kata dia, hanya berupa rumah.
Ketika itu, isi berita Radio Jambi lebih kepada informasi tentang pemerintahan. Apalagi itu masa transisi jelang berdirinya Provinsi Jambi. Para wartawannya mengumpulkan bahan pula dari para petugas penerangan di daerah.
Mantan Kepala Kanwil Penerangan Riau (1979-1983) ini bercerita, Radio Jambi juga berperan dalam mencerahkan masyarakat ketika konstelasi politik antara Indonesia dan Malaysia memanas. Di masa Dwikora, Malaysia  menurut Asrie, gencar melakukan  perang pemikiran” terhadap Indonesia.
Apa peran Radio Jambi?  Kita adakan siaran Paman dan Bujang dalam bahasa Jambi, dan kebetulan saya yang membawakannya. Stressing acara ini adalah mengkanter pernyataan-pernyataan Malaysia terhadap Indonesia,” beber Asrie dalam perbincangan sekitar 1,5 jam itu.
Keberadaan Radio Jambi pada akhirnya  dipersiapkan menjadi RRI Jambi. Menurut Kepala Siaran RRI Jambi, Rozali, kelahiran RRI tak lepas dari pembentukan Provinsi Jambi pada 6 Januari 1957.
Ditemui di ruangannya, Rozali memperlihatkan dokumentasi lawas mengenai sejarah RRI Jambi. Ia membacakan dokumen yang tulisannya ditik dengan mesin ketik tersebut. Dia bilang, RRI Jambi lahir tidak  lepas dari keinginan masyarakat daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri.
Kata dia, peranan Badan Kongres Rakyat Jambi tak bisa diabaikan dalam keberadaan RRI. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Asrie Rasyid, bahwa lahirnya RRI Jambi terbilang unik,  karena ini dari bawah bukan dari pusat.”
Rozali menceritakan, ketika Provinsi Jambi terbentuk pada 6 Januari 1957, turut pula dibentuk badan persiapan radio. Ketika itu, ujarnya, penanggung jawab RRI persiapan adalah R Sumardi PS.
Pada 24 Agustus 1959 dikeluarkan SK Menteri Penerangan bernomor 17/SK/AD/59 tentang berdirinya RRI Jambi. Baru pada tahun 1960, dari Jakarta mengirimkan timnya ke Jambi. Sejak saat itu, peran Radio Jambi berangsur-angsur berkurang seiring berdirinya RRI Jambi. (deddy rachmawan)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved