Rumah Mewah Diduga Pakai Sambungan PDAM Khusus Warga Miskin Ternyata Milik Anggota Dewan
Rumah mewah di Jambi Timur yang diduga menggunankan sambungan masyarakat berpenghasilan rendah PDAM Tirta Mayang, ternyata milik anggota DPRD.
Penulis: Rohmayana | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI- Rumah mewah di Jambi Timur yang diduga menggunankan sambungan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) PDAM Tirta Mayang, ternyata milik anggota DPRD Kota Jambi dari PDIP. Dia Adalah Sutiono, yang kini duduk sebagai Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Jambi.
Ketika dikonfirmasi awak media Sutiono mengatakan, pada tahun 2011/2012 memang dirinya mengusulkan supaya masyarakat sekitarnya mendapat sambungan MBR. Namun dalam perjalanan, ada satu anggota yang mengundurkan diri.
“Ada yang mengundurkan diri, karena tidak terima. Namun karena meteran MBR sudah keluar, jadi diletakan di depan rumah saya. Sampai disitulah, saya tidak pernah menggunakan air dari meteran MBR itu,” kata Sutiono, Senin (25/3).
“Demi Allah saya tidak pernah menggunakan sambungan MBR itu,” katanya.
Baca: Kasus Kredit Fiktif Bank Mandiri Tebo, Penasehat Hukum Gerry Cs Pertanyakan Kekayaan Bank Mandiri
Baca: Disperindag Kota Jambi Verifikasi 65.000 Data Penerima Kartu Kendali, Ada Ketua RT Kaya Masuk Daftar
Baca: Wacana Pilkades Secara e-Voting di Tanjab Timur Gagal, Ini Penyebabnya
Baca: 170 SMK di Provinsi Jambi Laksanakan UNBK, Disdik Targetkan Kelulusan 100 Persen
Baca: Tabligh Akbar di Masjid Jami Al Hikmah Kota Jambi, Ustaz Abdul Somad Disambut Gemuruh Suara Selawat
Sutiono menyebutkan, pada dasarnya memang meteran itu berada di depan rumahnya. Namun instalasi tidak masuk kerumahnya.
“Seperti apa pemakaian meteran itu, ketua kelompoknya sangat tahu, karena merekalah yang menagih setiap bulan. Kita merasa itu titipan, kita bayarlah 10 ribu tiap bulan,” katanya.
Kata Sutiono, kini catatan pemakaian pada meteran MBR depan rumahnya itu 99 kubik. Adanya catatatan pemakaian itu karena rumahnya tidak dipagar, sehingga kerap anak-anak bermain dan membuka kran air pada meteran tersebut.
“Sering ada anak-anak bermain dan kerannya dibuka dan tidak ditutup. Sering begitu. Itulah cerita sebenarnya,” jelasnya.
Lanjutnya, listrik di rumahnya juga bukan 900 watt, namun 1.300 watt. Sejak pindah ke rumah itu pada akhir 2011 lalu sebut Sutiono, dirinya menggunakan air sumur dengan mesin dan menggunakan penampung air.
“Air PDAM MBR itu dulunya memang pernah dipakai untuk orang bekerja ngecor buat parit tempat saya. Dari 2012 hingga sekarang cuma terpakai 99 kubik. Itulah buktinya,” ujarnya.
Meteran MBR tersebut hingga kini masih ada, memang belum dibongkar. Ia ingin mengembalikannya ke PDAM, namun saat ini memang dirinya masih meminta penunadaan peralihan ke sambungan reguler yang menjadi program PDAM Tirta Mayang.
Baca: Banyak Anggota BPD Perempuan, Berharap Pelayanan di Kecamatan Bathin XXIV Bisa Lebih Halus
Baca: VIDEO: Haris Buka Kantong Jenazah Korban Kecelakaan Maut di Merangin, Keluarga Menangis Tak Sanggup
Baca: Dianggap Bukan Komoditi Unggulan, 17 Ribu Hektare Kebun Pinang di Tanjab Timur Kurang Perhatian
Baca: VIDEO: Tangis Keluarga Pecah saat Korban Kecelakaan Maut di Merangin Dipulangkan ke Rumah Duka
“Memang itu akan dikembalikan ke PDAM. Namun kami masih meminta penundaan peralihan itu, karena permintaan pengurus. Sebab menurut pengurus MBR ini lancar, mereka masih mau mengelola. Dari PDAM minta dibuatkan surat permintaan untuk penundaan. Sembari berjalan rapat masyarakat anggota MBR, karena memang ada pro kontra. Ada masyarakat yang mau peralihan, ada juga yang tidak mau. Inilahnya yang mau di rapatkan dulu,” pungkasnya.