Tidak Ada Lagi Angkot yang Full Modifikasi, Sopir: "Dak Telap Lagi Karena Jauh Lebih Mahal"

Suara musik remix terdengar saat saya menyetop angkot kuning. Angkot ini biasanya lewat di kawasan Kasang

Penulis: Nurlailis | Editor: Nani Rachmaini
tribunjambi/nurlailis
Angkot yang biasanya lewat di kawasan Kasang Dalam atau Tanjung Sari Jambi. 

Tidak Ada Lagi Angkot yang Full Modifikasi

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Nurlailis

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Suara musik remix terdengar saat saya menyetop angkot kuning. Angkot ini biasanya lewat di kawasan Kasang Dalam atau Tanjung Sari Jambi.

Suasana angkot tampak sepi, hanya ada dua penumpang lain selain saya sendiri. Bahkan hingga sampai ke terminal pun hanya ada satu tambahan penumpang.

Tidak ada kernet yang biasanya duduk di pintu angkot. Kalau mau membayar, langsung saja ke supir angkot.

Berdasarkan pantauan tribunjambi.com, terminal rawasari siang hari, Rabu (20/2) terlihat lengang. Kebanyakan angkot ngetem berada di luar terminal atau di sisi jalan depan teriminal rawasari.

Angkot yang biasanya lewat di kawasan Kasang Dalam atau Tanjung Sari Jambi.
Angkot yang biasanya lewat di kawasan Kasang Dalam atau Tanjung Sari Jambi. (tribunjambi/nurlailis)

Beberapa penumpang terlihat menunggu angkot yang sedang ngetem. Ia mengatakan akan naik kalau angkotnya sudah mau jalan.

Saya mencoba mengganti angkot untuk kembali pulang. Di dalam angkot itupun hanya ada dua anak sekolah, satu ibu yang membawa anak, dan seorang bapak-bapak. Padahal sudah cukup lama angkot itu ngetem, sekitar 15 menit sejak saya ikut masuk.

Diperjalanan pulang saya mencoba berbincang dengan sopir angkot. Gunawan namanya, ia mengatakan telah berprofesi jadi sopir angkot selama 30 tahun.

“Jadi supir angkot sudah 30 tahun. Dari zaman bayar angkot Rp 150 perak sampai sekarang bayar Rp 4 ribu. Rutenya memang dari dulu area kasang saja. Dulu itu bisa dapet Rp 100 ribu dalam waktu setengah hari. Sekarang kadang sampai sore pun tidak sampai 100 ribu,” ceritanya.

Ia mengatakan setiap hari jam kerjanya dari 6.30 pagi hinga 17.30. pendapatannya pun tidak menentu dengan rute yang bisa melewati area kasang dalam dan kasang luar. Kebanyakan Penumpang adalah anak sekolah namun yang umum juga ada.

Beberapa tahun lalu angkot identik dengan modifikasi yang membuat angkot terlihat keren dan gaul. Hal inilah yang membuat daya tarik bagi anak-anak sekolah dalam memilih angkot. Namun yang terlihat sekarang hanyalah angkot yang biasa-biasa saja.

Gunawan juga menceritakan pada masanya juga angkot miliknya dimodifikasi lengkap.

“Kalau sekarang tidak ada lagi angkot yang seperti itu. Dulu juga angkot saya gaul, variasi lengkap. Kalo sekarang dak telap lagi. Karena biaya itu jauh lebih mahal dari pendapatan. Lagi pula anak sekolah sekarang melihat supir, apakah dia kenal atau tidak. Baru dia mau naik. Dulu musik juga harus remix, sekarang tidak perlu lah pakai musik,” tuturnya.

Mengenai masuknya ojek online ia mengatakan sebenarnya tidak berpengaruh karena memang semakin lama orang sudah punya kendaraan masing-masing.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved