Harimau Taman Rimba Mati lalu Dibakar, Diduga Gara-gara Paru-paru Basah

Seminggu setelah kematian Hori (singa jantan), Ayu seekor harimau betina di Taman Satwa Taman Rimba Jambi juga mati.

Harimau Taman Rimba Mati lalu Dibakar, Diduga Gara-gara Paru-paru Basah
Dok.BKSDA Jambi
Bangkai Ayu, harimau Sumatera yang mati diduga karena paru-parui basah dimusnahkan dengan dibakar. 

Laporan Wartawan Tribunjambi.com, Mareza Sutan A J

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Seminggu setelah kematian Hori (singa jantan),  Ayu seekor harimau betina di Taman Satwa Taman Rimba Jambi juga mati.

Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor BKSDA, Minggu (27/1/2019), Rahmad Saleh, Kepala BKSDA Jambi menjelaskan kronologi kematian Ayu.

Kata Rahmad, harimau betina itu mati pada Sabtu (26/1/2019) kemarin, sekitar pukul 00.53 WIB. Harimau betina dari peranakan induk dari Ragunan ini mati karena paru-paru basah (pneumonia).

"Pada tanggal 16 Januari 2019 pagi, Harimau Sumatera bernama Ayu mengalami muntah tetapi masih cukup aktif bergerak," terang Rahmad.

Kamis (17/1/2019) kondisi Ayu tidak mau makan dan kondisinya lemas. Keesokan harinya dilakukan penanganan medis dan pengambilan sampel darah untuk uji laboratorium. Pada Senin (21/1/2019), kondisi harimau betina berbobot sekitar 80 kg itu mulai membaik.

"Senin, 21 Januari 2019 penanganan medis terus dilakukan, kondisi harimau Ayu mulai bergerak," jelasnya.

Kata Rahmad, hasil uji laboratorium sampel darah di Laboratorium Dinas Tanaman dan Holtikultura Provinsi Jambi pada 21 Januari 2019, trombosit, hemoglobin, dan leukosit normal.

Baca: Begini Kronologi Kematian Hori, Singa Jantan di Taman Rimba Jambi

Baca: VIDEO: Viral WNA Mendaki Gunung Anak Krakatau Secara Ilegal, Ini Penjelasan BKSDA

Baca: Pemkab Tanjung Jabung Timur Buka Lelang Jabatan Eselon II, Ini Formasinya

Baca: Terdata 23 Penderita HIV AIDS di Muarojambi, Dinkes Lakukan Pendampingan 10 Penderita

Baca: Mengintip Sosok Anisha Dasuki Moderator Debat Capres-Cawapres Tahap 2, Ini Deretan Fotonya

Namun, berdasarkan uji laboratorium sampel darah di Laboratorium Sriwijaya, teridentifikasi paru-paru basah.

"Untuk penanganannya, saat itu kami melakukan pemberian infus, pemberian antibiotik, lasif, dan vitamin," sebutnya.

Namun, harimau berusia sekitar delapan tahun itu akhirnya mati pada Sabtu (26/1/2019). Bangkai harimau itu kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar, dan sisanya dikuburkan.

"Kenapa dibakar? daripada spesimen itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab nanti, saya mengambil keputusan, lebih baik dibakar," jawab Rahmad dalam keterangan persnya.

Penulis: Mareza
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved