Di Mata Sains, ini yang Menyebabkan Kota Sodom yang Melegalkan LGBT Hancur

Kota Sodom dan Gomora, berdasarkan kisah di kitab suci, dihancurkan Tuhan dengan bencana alam

Editor: Andreas Eko Prasetyo
Thenaturalhistorian
Pegunungan Sodom dilihat dari udara, di sebelahnya tampak Laut mati. 

TRIBUNJAMBI.COM - Kota Sodom dan Gomora, berdasarkan kisah di kitab suci, dihancurkan Tuhan dengan bencana alam karena polah mereka yang melegalkan hubungan sesama jenis atau LGBT.

Diduga kuat kota ini terletak di kawasan Laut Mati.

Peradaban mereka punah dan luluh lantak sekitar 4.000 tahun SM.

Seperti dilansir Sputniknews (23/11), para arkeolog dari Trinity Southwest University, sebuah lembaga pendidikan tinggi Kristen di New Mexico, Amerika Serikat meneliti lokasi-lokasi yang diyakini bekas peradaban kaum Sodom.

Mereka mengklaim, peradaban di Laut Matu hancur pada 3.700 tahun SM karena hantaman meteor dari angkasa luar.

Pada pertemuan tahunan American Schools of Oriental Research di Denver, Colorado,Phillip Silvia melaporkan temuan awal dari penggalian mereka di daerah tersebut.

Daerah tersebut diyakini oleh beberapa ilmuwan sebagai tempat bermukim kaum Sodom dan Gomora.

Penelitian menunjukkan, pemukiman yang terletak di wilayah Ghor Tengah di Lembah Yordan tersebut dulu dihuni sekitar 65.000 jiwa.

Baca: Sakit Hati Istrinya Diajak Melanggar Hukum, Ben Nekat Bakar Pria Ini Hingga Nyaris Tewas

Baca: VIDEO Rakornas KAHMI Rusuh, Wapres Jusuf Kalla Ada di Ruangan

Baca: Nak ke Mano Kito? Nih Agenda di Jambi Seminggu ke Depan

Baca: Sedang Berlangsung! Live Streaming di HP Persipura Vs PSMS Medan TV Online Liga 1 2018 Pekan ke 32

Rumah-rumah di sana kemudian lenyap disapu gelombang panas dan angin badai. Demikian laporan Science News.

Gelombang ledakan juga memicu terciptanya air asin di Laut Mati.

Menurut para peneliti, ledakan tersebut tidak hanya menghapus seluruh kehidupan kota-kota Zaman Perunggu Tengah tersebut, tetapi juga lahan yang dulunya subur.

(Geekychristian)

Ledakan meteor tersebut menyapu bersih seluruh kawasan termasuk kota kuno Tall el-Hammam, tempat para peneliti bekerja selama bertahun-tahun.

Penanggalan radiokarbon mengungkapkan, dinding bata lumpur tiba-tiba menghilang di kota Ghor Tengah, karena hanya fondasi batu yang tersisa.

Baca: Kisah Miris Masa Kecil Michael Jackson, Disiksa Sang Ayah Agar Jadi Artis Terkenal

Baca: Cuaca Ekstrem Masih Akan Mengguyur Wilayah Tanjabtim, Masyarakat Diimbau Waspada

Baca: Tak Seterkenal Dahulu, Nasib Miris Menimpa Aktor Arnold Schwarzenegger, Punya Masalah dengan Jantung

Tall el-Hammam diyakini dulunya merupakan kotta Sodom.
Tall el-Hammam diyakini dulunya merupakan kotta Sodom. (Geeklychristian)

Permukaan tembikar yang ditemukan di situs itu meleleh menjadi kaca, yang mungkin merupakan hasil dari suhu ekstrim.

Setelah dugaan ledakan itu, orang-orang tidak akan kembali ke wilayah itu selama 600-700 tahun.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved