Penerjunan Demi Bantu Perjuangan Rakyat di Kotawaringin, Jadi Asal Mula Terbentuknya Paskhas TNI AU

TNI Angkatan Udara memiliki pasukan khusus yang disebut Pasukan Khas atau Paskhas. Pasukan ini dikenal dengan baret jingganya.

Editor: Andreas Eko Prasetyo
TRIBUNNEWS
Paskhas TNI AU 

TRIBUNJAMBI.COM - Setelah Soekarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan, Indonesia secara tak langsung sudah dapat dianggap sebagai bangsa yang berdaulat.

Sebagai bangsa yang berdaulat, tentu membutuhkan militer yang kuat untuk menjaga wilayahnya.

Karena itu, Badan Keamanan Rakyat segera dibentuk untuk melindungi keamanan Indonesia. Statusnya kemudian ditingkatkan dengan berganti nama, hingga akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dalam perkembangannya, TNI memiliki peran besar dalam menjaga keutuhan wilayah Indonesia.

TNI sendiri terdiri dari tiga matra, yaitu darat, laut dan udara. Setiap matra memiliki pasukan dan tugas masing-masing untuk sesuai matranya.

Uniknya, setiap matra memiliki pasukan khusus untuk membantu dan melaksanakan tugas-tugas khusus.

Baca: 5 Operasi Militer Berat yang Dilakukan Paskhas TNI AU yang Pernah Halau & Gentarkan Tentara Asing

Baca: 5 Fakta dari Hantu Laut TNI AL yang Bernama Denjaka dengan Kemampuan Sebanding Ratusan Orang

TNI Angkatan Udara memiliki pasukan khusus yang disebut Pasukan Khas atau Paskhas. Pasukan ini dikenal dengan baret jingganya.

Adapun, pada 17 Oktober ini, Pasukan Khas TNI AU memperingati hari berdirinya.

Dilansir dari dokumentasi Harian Kompas, Paskhas TNI AU merupakan pasukan tempur yang bersifat infantri dengan format organisasi tempur yang khas bagi kebutuhan matra udara.

Paskhas TNI-AU menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem senjata matra udara.

Paskhas. (kompas.com)
Paskhas. (kompas.com)

Paskhas merupakan cikal bakal pasukan pertama dalam sejarah militer Indonesia. Dalam perkembangan Badan Keamanan Rakyat Udara, untuk dapat menjamin kelancaran operasi penerbangan militer maka dibentuk organisasi darat sebagai unsur bantuan dan pelayanan.

Ketika itu juga dirasakan perlunya dibentuk organisasi pasukan pertahanan yang mempunyai tugas pengamanan terhadap seluruh fasilitas dan instalasi pangkalan, serta pertahanan terhadap serangan lawan.

Kemudian, dibentuklah apa yang dikenal pada masa itu sebagai Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP). Kondisi pada waktu itu menyebabkan PPP bersifat lokal dan berkedudukan di beberapa pangkalan udara. Antara lain, di Bugis (Malang), Maospati, Mojoagung, Panasan, Maguwo, Cibeureum, Kalijati, Pameungpeuk dan di luar Pulau Jawa ada di Palembang dan Padang.

Pasukan Terjun Payung


Latihan Angkasa Yudha 2012 Prajurit Paskhas TNI AU memeragakan simulasi SAR tempur pada Latihan Manuver Lapangan Angkasa Yudha 2012 di Tanjung Pandan, Pulau Belitung, Bangka Belitung, Selasa (23/10). Latihan tersebut meliputi lima operasi udara, yaitu operasi serangan udara strategis, lawan udara ofensif, pertahanan udara, operasi informasi, dan operasi dukungan udara. Manuver lapangan ini melibatkan pesawat tempur, helikopter, pesawat angkut, pesawat intai dan pasukan TNI AU.
Latihan Angkasa Yudha 2012 Prajurit Paskhas TNI AU memeragakan simulasi SAR tempur pada Latihan Manuver Lapangan Angkasa Yudha 2012 di Tanjung Pandan, Pulau Belitung, Bangka Belitung, Selasa (23/10). Latihan tersebut meliputi lima operasi udara, yaitu operasi serangan udara strategis, lawan udara ofensif, pertahanan udara, operasi informasi, dan operasi dukungan udara. Manuver lapangan ini melibatkan pesawat tempur, helikopter, pesawat angkut, pesawat intai dan pasukan TNI AU. (RIZA FATHONI)

Dilansir dari Paskhas.mil.id, pasukan ini terbentuk karena permintaan Gubernur Kalimantan yang ketika itu dijabat Mohammad Noor untuk menerjunkan pasukan dalam membantu perjuangan rakyat Kalimantan.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved