Baru 5 Bulan Lulus Akmil, Pria Ini Gagalkan Pembajakan Pesawat, Lempar Pistol ke Pilot
Saat pesawat berada di ketinggian 14.000 kaki, Hermawan memaksa masuk ke kokpit. Seorang awak kabin mencoba melarang, namun ....
TRIBUNJAMBI.COM - Pernah terjadi beberapa pembajakan pesawat di Indonesia. Dari sederet peristiwa itu, pembajakan pesawat komersial yang pertama di Indonesia dialami pesawat Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 171.
Pesawat yang terkenal dengan penerbangan MZ-171 itu dibajak penumpang bernama Hermawan. Peristiwa terjadi pada 15 April 1972.
Saat pesawat penerbangan Manado-Makassar-Surabaya-Jakarta berada di ketinggian 14.000 kaki di atas langit Tegal, seorang penumpang tiba-tiba memaksa masuk ke kokpit.
Baca: Usia 13 Tahun Berani Serbu Markas Jepang, Besarnya Ditakuti dan Jadi Intelijen Andalan Kopassus
Baca: Ban Pesawat Dikempis sampai Kejar Perompak ke Pantai, Aksi Nekat Kopassus, Kopaska dan Marinir
Baca: Pangkoopsau Ditodong Senjata Pasukan Interfet, Paskhas Genggam Granat, Peristiwa Bandara Komoro
Penumpang bernama Hermawan itu menggenggam dua buah granat.
Hermawan memaksa pilot mendaratkan pesawat di Bandara Adisucipto Yogyakarta.
Saat pesawat berada di ketinggian 14.000 kaki, Hermawan memaksa masuk ke kokpit. Seorang awak kabin mencoba melarang, namun Hermawan memperlihatkan dua buah granat buatan Republik Rakyat China di genggaman.
Spontan, awak kabin bergeming dan membiarkan Hermawan masuk ke kokpit.
Di sana, dia mengancam pilot Captain Hindiarto dan copilot Captain Soleh. Hermawan mendesak supaya pilot memutar haluan pesawat ke arah timur.
Ternyata, pembajak yang merupakan desertir prajurit tentara itu mencoba nekad membuka pintu pesawat. Tetapi, sang pilot berteriak mengingatkan.
"Jika Bapak membuka pintu pesawat pada ketinggian ini maka anak telinga saya akan pecah, demikian pula telinga Bapak," kata pilot.
Mendengar peringatan itu, pembajak mengurungkan niat.
Pesawat itu akhirnya berhasil mendarat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta.
Setibanya di darat, pembajak melalui radio ke ATC (Air Traffic Control) Bandara Adisucipto menuntut tebusan Rp 20 juta.
Itu merupakan jumlah yang sangat besar pada masa itu, seperti dikutip dari wikipediadan sumber lain.
Kerahkan Kopasgat