Bawa 9 Pawang Gajah, 40 Personil Berjibaku Selamatkan Gajah di Tebo
Sebanyak 40 an personil gabungan dari berbagai unsur dilibatkan dalam kegiatan yang direncanakan berlangsung selama 10 hari ini.
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Deni Satria Budi
Laporan Wartawan Tribun Jambi Heri Prihartono
TRIBUNJAMBI.COM, TRIBUN - Sebuah truk berwarna kuning menjadi perhatian masyarakat yang melintasi jalur II Muara Tebo, Selasa (25/9).
Truk tersebut membawa Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Rupanya gajah yang melintas tersebut sengaja didatangkan dalam operasi penyelamatan gajah hari ini, Rabu (26/9).
Sebanyak 40 an personil gabungan dari berbagai unsur dilibatkan dalam kegiatan yang direncanakan berlangsung selama 10 hari ini.
Baca: Karina Hidup Sendirian di Semak-semak, Operasi Penyelamatan Gajah Sumatera di Jambi Dimulai
Penyelamatan gajah diwujudkan dengan pemindahan tiga ekor gajah yang berada di dua lokasi berbeda. Ketiganya direncanakan akan dipindahkan ke areal restorasi Hutan Harapan yang dikelola PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI).
Gajah pertama yang akan dipindahkan yang diberi nama Karina adalah seekor gajah betina dewasa dengan bobot sekitar empat ton. Karina berada di Pintas Tuo, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo.
Karina merupakan gajah satu-satunya yang masih hidup di kelompoknya. Ia berada di wilayah yang didominasi semak-semak dan hidup terisolir terkepung areal perkebunan. Karina juga berada dekat dengan permukiman masyarakat.
Baca: Tiga Ekor Gajah Sumatera Akan Dipindahkan ke Hutan Harapan, 28 Instansi Dilibatkan
“Karina harus dipindahkan ke habitat yang lebih baik dan masih ada kelompok gajahnya. Hanya dengan cara itu maka Karina dapat diselamatkan. Bila dapat bertemu dengan kelompok gajah lain, masih ada harapan untuk berkembang biak,” sebut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Rahmad Saleh.
Untuk memindahkan Karina, didatangkan 3 ekor gajah jinak dari Pusat Konservasi Gajah (PKG) Minas, Provinsi Riau. Sembilan pawang gajah (mahout) termasuk mahout senior Nazaruddin.
“Karena aksesnya lebih mudah, maka Karina yang akan dipindahkan pertama kali. Gajah jinak digunakan untuk mengarahkan dan menjaga gajah liar selama proses pemindahan. Di areal pelepasan, Karina akan dipantau dengan menggunakan gajah jinak untuk memastikan dapat bertemu dengan kawanan gajah di PT REKI,” jelas Nazaruddin.
Baca: Sampaikan Nota Keuangan APBD Perubahan 2018, Wabup Harapkan Kritik dan Saran
Dua gajah yang akan dipindahkan berikutnya berlokasi di Desa Muaro Sekalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo. Gajah jantan muda ini sejak pertengahan 2018 mencoba keluar dari habitatnya (dispersal) yakni kelompok gajah Bukit Tigapuluh.
Sifat tersebut merupakan sifat alami gajah jantan muda guna mencari habitat baru dan gajah betina yang berbeda dari kelompok asalnya.
Namun dalam pergerakannya, gajah jantan muda tersebut menimbulkan konflik dengan masyarakat. Ini disebabkan karena seluruh habitat gajah ekosistem Bukit Tigapuluh telah dikelilingi perkebunan yang dikelola oleh masyarakat dan perusahaan yang kebanyakan ditanami pohon karet dan kelapa sawit.
Baca: Warga di Tebo Ini Ditodong Perampok Bersenpi di Rumahnya, Rampas Tas Berisi Rp 47 Juta
Kedua jenis tanaman itu termasuk jenis tanaman yang disukai gajah sehingga warga merasa dirugikan akan keberadaan gajah jantan tersebut. Sifat alami gajah jantan muda berdampak positif bagi kualitas genetika populasi karena menghindari terjadinya perkawinan sekerabat (in breeding).
Dengan kondisi habitat gajah yang terfragmentasi dan tidak terhubung satu sama lain, perkawinan sekerabat juga menjadi ancaman tersendiri bagi upaya konservasi gajah sumatera.