Kebijakan AS dan China, Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Jambi

Meningkatnya tensi perdagangan global menyusul kebijakan proteksi AS berpotensi menghambat pemulihan ekonomi global.

Kebijakan AS dan China, Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Jambi
THINKSTOCKS
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. 

Laporan wartawan Tribun Jambi Fitri Amalia

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Bank Indonesia mencatat terdapat beberapa hal yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi menjadi lebih rendah dari yang diproyeksikan.

"Terdapat lima hal yang akan mendorong perlambatan pertumbuhan ekonomi Jambi," ujar Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Jambi, Bayu Martanto saat Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jambi.

Faktor yang pertama yaitu meningkatnya tensi perdagangan global menyusul kebijakan proteksi AS berpotensi menghambat pemulihan ekonomi global bahkan pertumbuhan dapat menjadi lebih rendah dari perkiraan.

Ia mengatakan, kondisi tersebut selanjutnya akan berdampak pada penurunan neraca perdagangan global yang secara langsung mempengaruhi ekonomi Provinsi Jambi.

"Ekonomi Provinsi Jambi kan masih berbasis pada komoditas sektor pertanian dan pertambangan," katanya.

Kedua, pergerakan pasar komoditas migas dan batubara yang cenderung fluktuatif berisiko mengalami koreksi ke bawah. Pertemuan negara OPEC pada akhir Juni 2018 telah menyepakati untuk kenaikan produksi minyak mentah sebesar 1 juta bph. Sementara data cadangan minyak mentah amerika serikat tercatat terus menunjukan peningkatan sehingga harga minyak mentah berpotensi mengalami koreksi.

Disisi lain, komoditas batubara masih menghadapi isu pencemaran udara yang berimbas pada kebijakan pengurangan penggunaan batu bara oleh sejumlah negara terutama Tiongkok sebagai negara importir terbesar.

Ketiga, kebijakan negara tujuan utama ekspor produk kelapa sawit yang memberlakukan proteksi dagang akan mempengaruhi kinerja komoditas unggulan subsektor perkebunan.

"Kebijakan yang diterapkan mencakup penerapan tarif impor yang sangat tinggi, pengenaan bea masuk antidumping, serta pelarangan dan pembatasan kuota impor," sebutnya.

Lalu faktor yang keempat, normalisasi kebijakan moneter oleh AS dengan menaikan suku bunga acuan berpotensi menyebabkan arus modal keluar, sehingga memicu kenaikan biaya dana dan ketidakpastian di pasar keuangan yang berdampak pada pelemahan kinerja investasi.

Terakhir, pertumbuhan ekomomi Tiongkok yang diperkirakan berada dalam level moderat pada tahun 2018 dapat mengakibatkan pelemahan rantai pasokan komoditas global yang berdampak langsung pada ekonomi daerah.

"Hingga saat ini tiongkok merupakan negara tujuan utama untuk komoditas ekspor Provinsi Jambi," pungkasnya.

Penulis: fitri
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved