Disutradarai L B Moerdani, Serbuan Kopassus ke Pesawat yang Dibajak Teroris, Senyap & Mengerikan

Indonesia juga tak kalah, miliki Komando Pasukan Khusus (Kopassus) keahlian pasukan elit milik TNI AD ini sudah tidak diragukan lagi

Editor: Andreas Eko Prasetyo
istimewa
Benny Moerdani 

TRIBUNJAMBI.COM - Bila negara lain miliki pasukan khusus yang dikenal sangar dan miliki kemampuan tempur yang hebat.

Indonesia juga tak kalah, miliki Komando Pasukan Khusus (Kopassus) keahlian pasukan elit milik TNI AD ini sudah tidak diragukan lagi dalam menjalani misi.

Sebagai pasukan khusus TNI AD yang sangat terlatih, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) memang penuh rahasia.

Hal ini karena baik dari segi latihan dan operasi tempurnya, sepak terjang Kopassus memang sangat dirahasiakan.

Sebagai gambaran, seorang wanita yang bersuamikan seorang prajurit Kopassus sudah sangat biasa ditinggal pergi suaminya tanpa memberitahukan jenis apa tugasnya dan juga lokasinya.

Kadang para prajurit Kopassus sendiri baru diberi tahu jenis dan lokasi misi tempurnya saat berada di pesawat terbang atau kapal laut yang mengangkutnya.

Tapi Kopassus masih memiliki pasukan antiteror yang dikenal sebagai Satuan Penanggulan Teror (Gultor) 81 yang baik misi tempur maupun misinya, bahkan para personelnya juga sangat dirahasiakan.

Baca: Ahmad Heryawan Dipastikan Tak Akan Gantikan Sandiaga Uno Jadi Wagub DKI

Baca: Rahasia dari Kekuatan Bambu Runcing yang Buat Belanda & Jepang Kocar Kacir Dalam Merebut Kemerdekaan

Hanya saja untuk ukuran Indonesia, Sat-81 meski sangat rahasia dan berada di bawah Kopassus TNI AD telah menjadi kiblat pasukan khusus lokal.

Mulai soal latihan, kemampuan, perlengkapan hingga persejataan, dan teknik operasi-operasi senyapnya.

Dari sejarahnya keputusan mendirikan Gultor tidak terlepas dari peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC-9 GA 206 Woyla di Bandara Don Muang, Bangkok, 31 Maret 1981.

Soal pembebasan Woyla ini, sejumlah literatur menyebutkan bahwa kesuksesan operasi melibatkan four-man squad Delta Force, AS.

Namun seberapa jauh peran Delta atau apakah memang ada pembagian tugas antara Delta dan tim Kopassus, masih perlu penjelasan dari otoritas terkait.

Dalam buku Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan (1993), disebutkan bahwa Benny memang mengajukan pinjaman flak jacket kepada CIA.

Baca: VIDEO: Akhirnya, Tersangka Dugaan Korupsi Insentif Guru Honorer PAUD Dijeblos ke Penjara

Baca: Tak Disangka, Bendera Pusaka yang Dijahit Ibu Fatmawati Ternyata dari Kain Tenda Warung

Benny Moerdani
Benny Moerdani 

Hanya saja urung dipakainya karena para personel Kopassus ternyata sudah ada di pesawat. Di buku yang sama dijelaskan bahwa semua bentuk pinjaman ditolak oleh Benny.

L.B. Moerdani saat itu menjadi sutradara operasi. Sedangkan komandan lapangan diserahkan kepada Letkol Inf Sintong Panjaitan.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved