TribunJambi/

Naik Paralayang Awalnya Seram, Selanjutnya Bikin Ketagihan

Bagi anda penikmat olahraga ekstrem tak lengkap rasanya memanjakan diri terbang di atas Kota Batu dengan paralayang

Naik Paralayang Awalnya Seram, Selanjutnya Bikin Ketagihan
Tribun Jateng/A Prianggoro
Gunung Banyak satu-satunya spot olah raga paralayang untuk komersil di Kota Batu. Spot ini satu lokasi dengan objek wisata Omah Kayu di Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur. TRIBUN JATENG/A PRIANGGORO 

TRIBUNJAMBI.COM - Bagi anda penikmat olahraga ekstrem tak lengkap rasanya memanjakan diri terbang di atas Kota Batu dengan paralayang. 

Spot olahraga ini satu kompleks dengan destinasi wisata Omah Kayu di Gunung Banyak, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur.

Untuk sampai ke objek wisata Omah Kayu pengunjung harus melewati Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Dengan kendaraan pribadi waktu tempuh dari Kota Batu menuju tujuan sekitar 30 menit.

Seorang pengunjung asal Kabupaten Semarang, Nurdianto, sengaja meluangkan waktu liburannya ke Gunung Banyak.

Ia tidak sendirian, tapi mengajak sang istri, Kushandayani, dan ketiga anaknya, Untara (26), Risang (22), dan Lintang (20). Mereka sangat menikmati quality time bersama keluarga.

Baca: Nikmati Udara Sejuk dan Hamparan Kota Batu dari Objek Wisata Omah Kayu
"Saya kira tempat ini (Gunung Banyak, red) berbeda suasananya dibandingkan dengan tempat-tempat wisata yang sudah ada di Jawa Tengah. Di sini lebih tenang dan sejuk. Terlebih ada wahana paralayang, yang dikelola secara profesional," komentar Nurdianto.

Ketiga anak Nurdianto menyempatkan diri tandem paralayang bersama instruktur profesional. Tarif sekali terbang dengan paralayang per orang harus membayar Rp 350 ribu selama 5 sampai 10 menit.

Nurdianto bersama anggota keluarganya dari Kabupaten Semarang ke Gunung Banyak memang ingin merasakan sensasi terbang naik paralayang sembari menyaksikan keindahan Kota Batu.

"Awalnya deg-degan, tapi setelah terbang rasanya menyenangkan dan bikin ketagihan. Asyik bisa menyaksikan pemandangan kota saat naik paralayang," kata Lintang (20), anak Nurdianto.

Instruktur master tandem paralayang, Taufik (39), menceritakanGunung Banyak mulai menjadi spot wisata sekitar 2000.

"Baru booming lima tahun belakangan karena ramai di media sosial. Pilot paralayang yang stand-by menemani pengunjung ada 15 orang. Kami pernah mencapai rekor dalam sehari sampai ada 180 penerbangan bersama pengunjung," terang Taufik.

Gunung Banyak menjadi satu-satunya spot paralayang resmi diKota Batu yang dipakai untuk keperluan komersil.

Bagi Anda yang belum mahir atau belum pernah naik paralayang tak perlu khawatir karena bisa melakukan terbang tandem dengan instruktur yang bersertifikat.

"Panik dan takut itu sudah biasa, kami sudah sering bertemu pengunjung yang seperti itu. Yang terpenting adalah pengunjungnya ada kemauan mencoba, itu saja," ujar dia.

"Apakah serem? Ya tentu saja serem, karena pengunjung membayar mahal supaya bisa merasakan seremnya naik paralayang," ujar Taufik dengan nada bercanda.

Editor: bandot
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help