Senin, 27 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Ramadan 2026

Awal Puasa 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada Kamis 19 Februari 2026

Pemerintah menetapkan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah/2026 M jatuh pada Kamis (19/2/2026).

Penulis: tribunjambi | Editor: Mareza Sutan AJ
Tribunjambi.com/Srituti Apriliani Putri
RUKYATUL HILAL - Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jambi menggelar rukyatul hilal untuk menentukan awal 1 Ramadhan 1447 Hijriyah/2026 Masehi. Tim Falakiyah Kantor Kemenag Jambi melakukan pemantauan dari Gedung Mahligai Bank 9 Jambi pada Selasa (17/2/2026) sore. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pemerintah menetapkan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah/2026 M jatuh pada Kamis (19/2/2026).

Ketetapan ini diambil melalui Sidang Isbat (penetapan) 1 Ramadan 1447 H yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, kawasan Lapangan Banteng, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026).

"Disepakati 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026,” ujar Menag dalam konferensi pers setelah Sidang Isbat Penetapan 1 Ramadan 1447 H, Selasa (17/2/2026) sore.

Menag menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan dua pertimbangan utama.

"Kita telah mendengar paparan Tim Hisab Rukyat Kemenag dan sudah didiskusikan, " ungkap Menag.

Dalam forum sidang isbat, pemerintah menghimpun laporan perhitungan astronomi (hisab) serta hasil pemantauan hilal (rukyat) dari berbagai lokasi pengamatan di seluruh Indonesia.

Sidang isbat merupakan mekanisme resmi pemerintah untuk menentukan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

Tradisi ini telah berlangsung sejak dekade 1950-an sebagai sarana musyawarah antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam dalam menetapkan awal bulan Hijriah.

Tahapan sidang isbat diawali dengan seminar mengenai posisi hilal pada pukul 16.30 WIB yang menghadirkan para ahli falak dan astronomi.

Sidang penetapan kemudian digelar secara tertutup mulai pukul 18.30 WIB, dan hasilnya diumumkan kepada publik sekitar pukul 19.05 WIB melalui konferensi pers.

Sidang ini dihadiri oleh perwakilan duta besar negara sahabat, Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung RI, Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta para pakar dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Turut hadir akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), pengelola planetarium, anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, pakar falak dari berbagai ormas Islam, serta pimpinan pondok pesantren.

Menag menyampaikan bahwa secara historis, sidang isbat selalu dijadikan rujukan nasional dalam menentukan awal Ramadan dan Idulfitri.

“Kalau kita lihat sejarah bangsa Indonesia, memang sidang isbat selalu jadi faktor penentu lebaran dan puasa. Dalam dua tahun terakhir memang ada perkembangan dan perbedaan, tetapi kita berusaha menjadi media penyatu dalam penentuan hari penting keagamaan,” ujar Menag, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Ia menambahkan bahwa perbedaan metode penentuan awal bulan di kalangan ormas Islam telah lama dikenal dalam khazanah fikih.

Muhammadiyah, misalnya, lebih menitikberatkan pada metode hisab dengan rukyat sebagai konfirmasi, sedangkan ormas lain menjadikan rukyat sebagai dasar utama dengan dukungan hisab.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved