AS vs Iran
Gencatan Senjata AS-Iran 'Sekarat', Trump Sebut Proposal Teheran Sampah
Trump melontarkan kritik pedas terhadap proposal perdamaian terbaru yang diajukan Teheran, dengan melabelinya sebagai "sampah".
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Ringkasan Berita:Gencatan Senjata Amerika Serikat dan Iran
- Trump sebut gencatan senjata dengan Iran "sekarat" usai baku tembak akhir pekan.
- Proposal damai Iran dilabeli "sampah" karena dianggap tidak masuk akal.
- Harga minyak dunia Brent melonjak ke 104 dolar AS akibat ketegangan ini.
- Trump tuding Iran tarik janji penyerahan stok uranium secara sepihak.
- Diplomasi memanas di tengah rencana kunjungan kenegaraan Trump ke China.
TRIBUNJAMBI.COM – Harapan dunia akan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat di Teluk Persia berada di titik nadir.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran kini berada dalam fase 'sekarat' dan 'sangat lemah'.
Hal itu menyusul insiden baku tembak sengit yang pecah akhir pekan lalu.
Dalam keterangannya di Ruang Oval Gedung Putih pada Senin (11/5/2026), Trump melontarkan kritik pedas terhadap proposal perdamaian terbaru yang diajukan Teheran, dengan melabelinya sebagai "sampah".
Hubungan kedua negara kembali menemui jalan buntu setelah Iran menolak tawaran Washington yang dianggap terlalu menguntungkan AS secara sepihak dan penuh tuntutan tidak masuk akal.
Donald Trump menyoroti inkonsistensi para pemimpin Iran sebagai hambatan utama dalam mencapai kesepakatan tertulis.
"Mereka adalah orang-orang yang sangat tidak terhormat. Dua hari lalu, mereka berkata, 'Kalian harus mengambilnya' (stok uranium). Namun mereka berubah pikiran karena mereka tidak menuangkannya ke dalam dokumen tertulis," tegas Trump sebagaimana dilansir dari NBC News.
Persoalan Uranium dan Dampak Ekonomi Global
Menurut Trump, Iran sempat setuju untuk menyerahkan stok uranium yang diperkaya—material krusial dalam perundingan nuklir—bahkan menyebut hanya AS dan China yang mampu menangani material tersebut.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Minta Angkatan Bersenjata Bersiap, Iran Antisipasi Serangan?
Baca juga: Rekonstruksi Penikaman Maut di Jambi: Kesaksian Tetangga Sudutkan Peran BM
Namun, klaim penarikan tawaran secara mendadak oleh Iran membuat Trump meradang.
Ketegangan ini langsung memicu guncangan di pasar energi.
Harga minyak mentah dunia jenis Brent Crude melonjak hingga 104 dolar AS per barel (sekitar Rp1,81 juta).
Situasi ini menjadi beban berat bagi Trump yang dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke China pekan ini, mengingat Beijing merupakan konsumen energi utama dari kawasan Teluk yang kini tengah membara.
Meski menyebut para pemimpin Iran tidak konsisten, Trump secara mengejutkan mengaku masih percaya pada celah solusi diplomatik karena watak pemimpin Teheran yang dianggapnya dinamis dan mudah berubah pikiran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20260512-Presiden-Amerika-Serikat-Donald-Trump.jpg)