Berita Viral
Video Amien Rais Dihapus Komdigi, Lukas Luwarso: Ini Ciri Pemerintahan Otoriter?
Langkah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang menurunkan atau takedown video Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais, menuai kritik
Penulis: Tommy Kurniawan | Editor: Tommy Kurniawan
TRIBUNJAMBI.COM - Langkah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang menurunkan atau takedown video Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais, menuai kritik keras dari sejumlah kalangan.
Salah satu suara penolakan datang dari jurnalis senior Lukas Luwarso, yang menilai tindakan pemerintah tersebut sebagai bentuk pendekatan otoriter dalam mengelola ruang kebebasan berekspresi di Indonesia.
Menurut Lukas, keputusan Komdigi untuk menghapus video berjudul "Jauhkan Istana dari Skandal Moral" justru menunjukkan kecenderungan pemerintah menggunakan metode sensor yang bertentangan dengan semangat demokrasi.
Dalam video yang sempat beredar luas di media sosial itu, Amien Rais menyampaikan kritik tajam serta tudingan terhadap Prabowo Subianto dan Teddy Indra Wijaya, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Kabinet (Seskab).
Pihak Komdigi sebelumnya menyatakan video tersebut mengandung unsur fitnah, ujaran kebencian, serta informasi yang tidak berbasis fakta sehingga perlu diturunkan dari platform digital demi menjaga keamanan ruang publik.
Namun bagi Lukas Luwarso, alasan tersebut tidak cukup untuk membenarkan tindakan sensor.
Baca juga: Sosok Orang Terdekat Kiai Ashari Diduga Bantu Siapkan Kamar untuk Santriwati
Baca juga: Modus Kiai Ashari Terbongkar Saat Cabuli Puluhan Santriwati: Berani Lawan Guru Berarti Lawan Tuhan
Ia menyebut langkah Komdigi sebagai praktik pemerintahan yang menggunakan pola-pola lama yang identik dengan rezim otoriter.
“Saya rasa apa yang dilakukan Komdigi itu sudah masuk wilayah pemerintahan yang menggunakan cara-cara otoriter, cara-cara sensor,” kata Lukas, dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Minggu (10/5/2026).
Lukas menilai pemerintah tampaknya belum belajar dari sejarah panjang praktik sensor di Indonesia, terutama pada masa Orde Baru.
Menurutnya, metode pembungkaman informasi semacam itu hanya mungkin efektif jika diterapkan dalam sistem politik yang tertutup dan totaliter.
“Kalau kita belajar dari sejarah sensor di zaman Orde Baru dan sampai sekarang di negara-negara otoriter, itu hanya efektif kalau memang sistemnya betul-betul tertutup, sistemnya totaliter,” ujarnya.
“Ketika sudah disensor, tidak ada alternatif lain, tidak ada informasi lain. Tapi sekarang situasinya sudah berbeda,” sambung Lukas.
Dinilai Salah Strategi, Justru Bikin Isu Makin Besar
Lebih jauh, Lukas justru melihat keputusan Komdigi melakukan takedown malah memberikan panggung yang lebih besar bagi Amien Rais.
Alih-alih meredam polemik, langkah tersebut dinilai justru membuat isu yang sebelumnya terbatas menjadi semakin viral dan diperbincangkan publik.
| Sosok Orang Terdekat Kiai Ashari Diduga Bantu Siapkan Kamar untuk Santriwati |
|
|---|
| Modus Kiai Ashari Terbongkar Saat Cabuli Puluhan Santriwati: Berani Lawan Guru Berarti Lawan Tuhan |
|
|---|
| Roy Suryo Lempar Isu Negara Mafia, Ketum Jokowi Mania Tuding Penyesatan Publik |
|
|---|
| Wanita Sekap Calon Mertua Selama Setahun, Harta Rp2 Miliar dan Emas 1 Kg Diduga Digondol |
|
|---|
| Tangis Istri Iringi Kepergian Brigadir Arya Usai Ditembak Maling: Anak-anak Butuh Dia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Video-Amien-Rais-Dihapus-Komdigi.jpg)