Sabtu, 9 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Viral

Mendadak Berubah, Trump Tunda Operasi di Selat Hormuz, Ada Peran Pakistan?

Pemerintah Amerika Serikat memutuskan menunda operasi militer di Selat Hormuz yang sebelumnya dirancang untuk mengawal kapal-kapal dagang di jalur

Tayang:
Penulis: Tommy Kurniawan | Editor: Tommy Kurniawan
Instagram
PERANG TIMUR TENGAH - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, 

TRIBUNJAMBI.COM – Pemerintah Amerika Serikat memutuskan menunda operasi militer di Selat Hormuz yang sebelumnya dirancang untuk mengawal kapal-kapal dagang di jalur strategis tersebut.

Keputusan ini diumumkan langsung oleh Presiden Donald Trump pada Rabu (6/5/2026), menyusul adanya perkembangan positif dalam jalur diplomasi dengan Iran.

Operasi “Project Freedom” Ditunda

Operasi bertajuk “Project Freedom” sebelumnya disiapkan sebagai misi pengamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz—salah satu rute utama distribusi minyak global.

Dalam rencana awal, AS mengerahkan kekuatan angkatan laut untuk mengawal kapal dagang dan tanker minyak agar tetap dapat melintas di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Langkah ini diambil setelah Iran memperketat kontrol di Selat Hormuz, yang sempat menyebabkan ratusan kapal tertahan dan mengganggu arus perdagangan energi dunia.

Baca juga: PSI Lepas Tangan, Grace Natalie Harus Hadapi Kasus Video JK Secara Pribadi

Baca juga: Keberadaan Ferdy Sambo Usai Putrinya Trisha Resmi Jadi Dokter Disorot, Terakhir Khutbah di Gereja

Baca juga: Heboh Harga Sepatu Siswa Sekolah Rp700 Ribu, KPK Mulai Bergerak Usut Pengadaan

Alasan Penundaan: Diplomasi Menguat

Namun, Trump memilih menghentikan sementara operasi tersebut. Ia menyebut keputusan ini sebagai bagian dari perubahan strategi dari pendekatan militer ke diplomasi.

Ada dua faktor utama yang melatarbelakangi langkah ini. Pertama, adanya dorongan dari Pakistan yang meminta agar operasi militer ditunda demi meredakan ketegangan regional.

Kedua, adanya kemajuan dalam proses negosiasi antara AS dan Iran yang membuka peluang tercapainya kesepakatan.

Dengan kondisi tersebut, Washington dinilai ingin memberi ruang lebih luas bagi dialog, ketimbang memperbesar risiko eskalasi konflik.

Sinyal Deeskalasi Ketegangan

Sejumlah pengamat menilai penundaan ini sebagai sinyal deeskalasi, atau upaya meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Alih-alih mengandalkan kekuatan militer, AS kini terlihat lebih mengedepankan pendekatan diplomatik untuk menyelesaikan konflik.

Meski demikian, sejumlah isu krusial masih menjadi ganjalan dalam perundingan, seperti pembukaan kembali Selat Hormuz, sanksi ekonomi, serta program nuklir Iran.

Namun, dengan adanya komunikasi yang terus berjalan dan proposal perdamaian yang mulai dibahas, peluang tercapainya kesepakatan dinilai tetap terbuka.

Langkah penundaan operasi ini pun dipandang sebagai strategi taktis untuk menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi negosiasi, sekaligus menghindari potensi konflik yang lebih luas di kawasan.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved