Sabtu, 9 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Pengeroyokan Siswa di Kota Jambi

Psikolog Jambi Bedah Akar Pengeroyokan Sekolah: Agresi Jadi Jalan Pintas

Psikolog sekaligus Dosen Universitas Jambi, Dessy Pramudiani, menegaskan pengeroyokan di sekolah bukan sekadar pelanggaran disiplin biasa. 

Tayang:
Penulis: Syrillus Krisdianto | Editor: Darwin Sijabat
Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi
PENGEROYOKAN - SMP Negeri 5 Kota Jambi, Jalan Prof Dr Moh Yamin, Kelurahan Payo Lebar, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, pada Kamis (23/4/2026). Terjadi tindak kekerasan siswa di sekolah tersebut. 

Ringkasan Berita:Kasus Pengeroyokan di Jambi
  • Psikolog Jambi sebut pengeroyokan sekolah adalah hasil belajar agresi yang keliru.
  • Remaja lakukan kekerasan demi pengakuan kelompok dan akibat emosi tak terkelola.
  • Dampak pengeroyokan picu trauma PTSD pada korban dan krisis empati bagi pelaku.
  • Sekolah didorong gunakan pendekatan restorative justice daripada sekadar hukuman.
  • Kerja sama orang tua dan sekolah krusial guna bangun karakter serta kesehatan mental.

 

TRIBUNJAMBI.COM – Kasus dugaan kekerasan berupa pengeroyokan yang terjadi di SMPN 5 Kota Jambi memicu keprihatinan mendalam dan menjadi alarm bagi dunia pendidikan.  

Psikolog Jambi sekaligus Dosen Prodi Psikologi Universitas Jambi, Dessy Pramudiani, menegaskan pengeroyokan di sekolah bukan sekadar pelanggaran disiplin biasa. 

Melainkan sinyal adanya masalah serius pada perkembangan emosi dan relasi sosial remaja. 

Menurut Dessy, perilaku agresif ini tidak muncul secara tiba-tiba.

Berdasarkan Social Learning Theory dari Bandura, kekerasan adalah hal yang dipelajari.  

Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat, terutama jika agresi dianggap memberikan hasil seperti dihormati atau diterima dalam kelompok. 

Tekanan Kelompok dan Rapuhnya Regulasi Emosi 

Dalam fase remaja, kebutuhan untuk diakui oleh teman sebaya sangat dominan.  

Baca juga: Siswa SMPN 5 Kota Jambi Trauma Berat, Menutup Diri Usai Alami Pengeroyokan

Baca juga: Banjir Bandang Merangin Jambi Terjang 2 Desa: 409 Rumah Terendam, 8 Roboh, Jembatan Putus

Hal inilah yang memicu peer pressure atau tekanan kelompok, di mana seorang siswa berani melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai pribadinya demi penerimaan sosial. 

“General Aggression Model (GAM) menjelaskan bahwa agresi merupakan hasil interaksi antara kondisi internal, seperti emosi yang tidak terkelola, impulsivitas, atau cara berpikir yang keliru dengan situasi eksternal seperti provokasi, konflik, atau norma kelompok yang permisif terhadap kekerasan,” ungkap Dessy melalui pesan WhatsApp, Minggu (26/4/2026). 

Ia menambahkan bahwa pada usia ini, kemampuan remaja untuk mengelola amarah dan rasa kecewa masih belum matang.

Akibatnya, agresi sering kali diambil sebagai "jalan pintas" yang keliru saat mereka merasa tersingkir. 

Lingkaran Dampak: Trauma Korban hingga Masalah Pelaku 

Dampak dari pengeroyokan tidak hanya berhenti pada luka fisik.  

Korbanpengeroyokan  berisiko mengalami trauma mendalam hingga potensi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). 

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved