AS vs Iran
Peringatan Eks Menteri Libya Agar Tak Percaya Amerika: Banyak Perangkap
Mantan Menteri Informasi Libya melontarkan wanti-wanti keras agar Teheran tidak terbuai oleh janji-janji diplomatik Amerika Serikat.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Ringkasan Berita:Peringatan Agar Tak Percaya Amerika Serikat
- Eks Menteri Libya Moussa Ibrahim peringatkan Iran soal perangkap diplomasi AS.
- Kehancuran Libya jadi bukti nyata risiko percaya pada janji manis negara Barat.
- AS dituding tak berniat damai, hanya ingin kontrol tensi demi kepentingan politik.
- Meja perundingan dinilai sebagai alat tekan ekonomi dan politik baru bagi Iran.
- Washington disebut sengaja ciptakan kekacauan agar tak ada kekuatan regional kuat.
TRIBUNJAMBI.COM - Di ambang perundingan krusial antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan hari ini, Sabtu (11/4/2026), sebuah suara peringatan dari masa lalu menggema.
Mantan Menteri Informasi Libya era Muammar Gaddafi, Moussa Ibrahim, melontarkan wanti-wanti keras agar Teheran tidak terbuai oleh janji-janji diplomatik Washington.
Dalam wawancara eksklusif bersama Russia Today pada Jumat (10/4/2026), Ibrahim meminta Iran berkaca pada nasib tragis negaranya.
Ia menegaskan bahwa kehancuran Libya bermula dari kekeliruan fatal dalam mempercayai komitmen negara-negara Barat.
"Libya dulu adalah negara yang sangat stabil dan kuat di Afrika. Namun, karena kami sempat percaya bisa menjalin hubungan baik dengan Barat, kami harus membayar harga yang sangat mahal," ungkap Ibrahim dengan nada getir.
Ibrahim mencium adanya perbedaan niat yang kontras dalam pertemuan di Islamabad hari ini.
Jika Iran dianggap tulus mencari solusi damai, sebaliknya AS dituding hanya ingin mengontrol tingkat ketegangan demi keuntungan politik sepihak.
Menurutnya, Washington memiliki perangkap diplomasi yang dirancang untuk melemahkan lawan tanpa perlu memicu perang terbuka.
Bagi Washington, kekacauan yang terkendali di Timur Tengah justru dianggap menguntungkan untuk memastikan tidak ada kekuatan regional yang tumbuh terlalu dominan.
Baca juga: Ketahanan Energi Indonesia di Tengah Gejolak Perang Iran
Baca juga: Kisah Anin, Siswa Terbaik Pati Lolos Kedokteran Undip Raih Skor Tertinggi SNBP 2026
Mantan pejabat tinggi tersebut menuding AS menggunakan meja perundingan bukan untuk mengakhiri permusuhan, melainkan sebagai sarana baru untuk menekan Iran.
Melalui jalur ekonomi dan politik, AS dinilai berupaya melumpuhkan kedaulatan Teheran tanpa harus mempertaruhkan reputasi militer mereka dalam konflik terbuka.
"Mereka ingin memastikan tidak ada kekuatan regional yang bersatu atau tumbuh terlalu kuat," tambah Ibrahim.
Ia memperingatkan Iran bahwa setiap lembar kesepakatan yang disodorkan AS mungkin mengandung jerat yang bisa melumpuhkan kemajuan negara di masa depan.
Negosiasi Deadlock
Negosiasi antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung 21 jam di Islamabad, Pakistan, berjalan buntu (deadlock) tanpa kesepakatan.
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance yang memimpin delegasi AS mengatakan tim negosiasinya meninggalkan Pakistan setelah gagal mencapai kesepakatan dengan Iran.
Vance menyebutkan kekurangan dalam perundingan tersebut dan mengatakan bahwa Iran telah memilih untuk tidak menerima persyaratan Amerika, termasuk untuk tidak membangun senjata nuklir.
"Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat," kata Vance dikutip dari Reuters, Minggu (12/4/2026) pagi.
"Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan. Kita telah menjelaskan dengan sangat jelas apa batasan kita."
Vance mengatakan bahwa ia berbicara dengan Presiden AS Donald Trump sebanyak enam kali selama pembicaraan tersebut.
Apa isi pembicaraan?
Pembicaraan delegasi AS dengan Iran di Islamabad merupakan pertemuan langsung pertama AS-Iran dalam lebih dari satu dekade dan diskusi tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam 1979.
Hasilnya dapat menentukan nasib gencatan senjata dua minggu AS dengan Iran.
Termasuk pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, titik rawan bagi sekitar 20 persen pasokan energi global yang telah diblokir Iran sejak perang 28 Februari 2026 lalu.
Konflik tersebut telah menyebabkan harga minyak global melonjak dan menewaskan ribuan orang.
AS mengutus Vance dan utusan khusus Steve Witkoff serta menantu Trump, Jared Kushner, dalam negoisiasi itu.
Baca juga: Menlu Iran Balas JD Vance: AS Biarkan Netanyahu Serang Lebanon Itu Bodoh
Baca juga: Bupati Tulungagung Ditahan KPK, Hanya Bisa Minta Maaf Usai Kantongi Rp2,7 M
Sementara Iran mengusut Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Delegasi Iran tiba pada hari Jumat mengenakan pakaian hitam sebagai tanda berkabung atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan korban lainnya yang tewas dalam perang.
Diperpanjang Satu Hari
Media Iran Tasnim News melaporkan pertemuan maraton antara negosiator Iran dan AS telah berakhir setelah 15 jam dan pembicaraan akan dilanjutkan hari ini.
Para pejabat Iran memulai pembicaraan pada pukul 13:00 waktu setempat pada hari Sabtu di Hotel Serena di Islamabad, Pakistan, pertama-tama dengan para pejabat Pakistan dan kemudian dengan delegasi Amerika.
Perundingan maraton tersebut berlanjut hingga pukul 03.40 waktu setempat pada hari Minggu.
Pembicaraan dijadwalkan akan berlanjut selama beberapa jam lagi pada hari Minggu.
Reporter Tasnim News yang dikirim ke Islamabad melaporkan bahwa “mengingat tuntutan yang tidak masuk akal dari pihak Amerika dan desakan delegasi Iran untuk menjaga kepentingan nasional, dengan usulan dari pihak Pakistan dan penerimaan dari kedua belah pihak, pembicaraan akan dilanjutkan untuk putaran berikutnya pada hari Minggu.”
Sebelumnya, koresponden Tasnim telah melaporkan bahwa putaran pembicaraan tatap muka lainnya antara Iran dan Amerika Serikat berakhir di Islamabad, Pakistan pada Minggu pagi.
Kedua pihak sekali lagi bertukar pesan singkat dengan kehadiran tim ahli.
Hal itu terjadi di tengah perbedaan serius yang masih ada antara delegasi Iran dan Amerika dalam perundingan tersebut.
Kini giliran Amerika untuk mengatasi tuntutan berlebihan yang berulang dan mengganti ambisi dengan pendekatan yang realistis.
Wapres AS JD Vance Sebut Isu Nuklir Jadi Biang Kerok
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, menyatakan bahwa perundingan dengan Iran, pada Minggu (12/4/2026) gagal mencapai kesepakatan.
Namun demikian, JD Vance menegaskan bahwa pihaknya masih akan mengajukan "tawaran terakhir dan terbaik" sebelum meninggalkan lokasi pembicaraan di Pakistan.
Melansir dari AFP, Vance mengisyaratkan pihaknya masih memberikan waktu bagi Teheran untuk mempertimbangkan tawaran terakhir tersebut.
Sebelumnya pada Selasa lalu (7/4/2026), AS telah menyampaikan akan menangguhkan serangan bersama Israel selama dua pekan demi kelancaran proses negosiasi.
"Kami berangkat dari sini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode kesepahaman yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik kami. Kami akan melihat apakah pihak Iran menerimanya," ujar Vance kepada wartawan usai 21 jam perundingan di Islamabad, Pakistan.
Vance menjelaskan bahwa akar utama perselisihan berpusat pada masalah fasilitas nuklir milik Iran.
Iran bersikeras tidak sedang berupaya memproduksi bom atom, sementara AS dan Israel telah membombardir sejumlah situs sensitif Iran, baik dalam perang yang meletus pada 28 Februari lalu maupun sepanjang tahun 2025.
"Fakta sederhananya adalah kita perlu melihat komitmen afirmatif bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir dan mereka tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir," tegas Wapres AS tersebut.
Baca juga: Mojtaba Khamenei: Kemenangan Final Iran Telah Menginspirasi Dunia
Baca juga: Istri Pelangsir BBM di Bungo Ancam Polisi Pakai Senapan Angin, Skandal Rp276 M Terbongkar
JD Vance menegaskan langkah Iran untuk menghentikan pengembangan nuklir ini jadi kunci dari negosiasi yang ada di antara kedua negara.
"Pertanyaan sederhananya adalah, apakah kita melihat komitmen fundamental dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir ...bukan hanya sekarang, bukan hanya dua tahun dari sekarang, tetapi untuk jangka panjang? Kami belum melihatnya. Kami berharap kami akan melihatnya." sambung JD Vance.
Dalam pernyataan singkatnya di sebuah hotel mewah di Islamabad tempat kedua delegasi bertemu, Vance tidak menyinggung perbedaan pendapat terkait isu krusial lainnya.
Vance juga tak menyinggung terkait masalah pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi penyebab kegaduhan ekonomi global.
Jalur sempit ini merupakan titik transit bagi seperlima pasokan minyak dunia yang diblokir oleh Iran sejak perang dimulai, memicu lonjakan harga energi global.
Vance juga menyatakan bahwa Presiden Donald Trump telah bersikap akomodatif selama perundingan.
"Saya pikir kami cukup fleksibel. Kami cukup akomodatif. Presiden mengatakan kepada kami, Anda harus datang ke sini dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik Anda untuk mendapatkan kesepakatan. Kami melakukan itu dan, sayangnya, kami tidak dapat membuat kemajuan," ungkap Vance.
Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News
Baca juga: 4 Kecamatan di Batang Hari Jadi Prioritas Distribusi 1.000 Dosis Vaksin PMK
Baca juga: Kisah Anin, Siswa Terbaik Pati Lolos Kedokteran Undip Raih Skor Tertinggi SNBP 2026
Baca juga: Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, KLH Ingatkan Lonjakan Drastis Karhutla
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Mantan Menteri Libya Era Gaddafi Peringatkan Iran: Jangan Terlalu Percaya AS, Banyak Perangkap
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Negosiasi Deadlock, Tim Negosiasi AS Tinggalkan Pakistan, Penjelasan Iran Berbeda
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Negosiasi Iran Buntu, Wapres AS JD Vance Sebut Isu Nuklir Jadi Biang Kerok
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20260412-Kolase-foto-Presiden-Donald-Trump-dan-Moussa-Ibrahim-belatar-bendera-AS-dan-Iran.jpg)