Berita Internasional
Daftar 20 Negara Siap Amankan Mobilitas di Selat Hormuz Pasca Ditutup Iran
Aliansi internasional mulai bergerak untuk memecah kebuntuan energi global pasca Iran menutup ruang gerak di Selat Hormuz.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Ringkasan Berita:20 Negara Siap Amankan Selat Hormuz
- 20 negara bergabung amankan Selat Hormuz demi stabilitas energi dunia.
- Inggris, Prancis, & Jepang jadi pelopor koalisi bersama 17 negara lain.
- Koalisi tuntut moratorium serangan terhadap instalasi minyak dan gas.
- Blokade Iran picu kenaikan harga BBM global akibat suplai LPG terhenti.
- Aliansi ini dibentuk pasca-serangan 28 Februari yang hancurkan infrastruktur.
TRIBUNJAMBI.COM – Gelombang perlawanan diplomatik dari aliansi Internasional terhadap blokade maritim Iran di Selat Hormuz kian menguat. Mereka mulai bergerak untuk memecah kebuntuan energi global.
Pemerintah Inggris secara resmi mengumumkan bahwa kini terdapat 20 negara yang menyatakan kesiapan untuk turun tangan mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Langkah kolektif ini diambil guna menyelamatkan rantai pasok energi dunia yang lumpuh total pasca-pecahnya perang pada 28 Februari 2026 lalu.
Koalisi Inti dan Perluasan Aliansi
Inisiasi ini bermula pada Kamis (19/3/2026), ketika enam negara pelopor seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang merilis pernyataan bersama yang menegaskan urgensi keamanan navigasi internasional.
“Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langkah yang tepat untuk memastikan pelayaran aman di Selat Hormuz. Kami menyambut komitmen bangsa-bangsa yang terlibat dalam rencana persiapannya,” bunyi petikan pernyataan bersama tersebut.
Memasuki Sabtu (21/3/2026), aliansi ini membengkak dengan bergabungnya 14 negara baru, termasuk kekuatan ekonomi dan maritim.
Negara itu seperti:
- Kanada,
- Korea Selatan,
- Selandia Baru,
- Norwegia,
- Swedia,
- Finlandia,
- Denmark,
- Republik Ceko.
Bergabungnya negara-negara Skandinavia dan Eropa Timur ini menandakan krisis di Teluk bukan lagi sekadar isu regional, melainkan ancaman eksistensial bagi stabilitas ekonomi global.
Baca juga: Trump Ultimatum Iran 48 Jam: Buka Selat Hormuz atau Kegelapan Total!
Baca juga: Lebaran Inklusif: Presiden Prabowo Buka Gerbang Istana untuk Rakyat dan Ojol
Misi Moratorium dan Dampak Ekonomi
Koalisi 20 negara ini menyerukan implementasi "moratorium komprehensif dan segera" untuk menghentikan segala bentuk serangan terhadap infrastruktur sipil, terutama instalasi minyak dan gas.
Mereka memperingatkan bahwa gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz, jalur kunci bagi suplai minyak dan LPG dunia, merupakan ancaman nyata bagi perdamaian global.
Krisis ini berakar dari serangan gabungan AS-Israel ke Teheran pada akhir Februari, yang memicu aksi balasan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat dan wilayah Israel.
Penutupan total Selat Hormuz sebagai respons Iran telah menyebabkan harga bahan bakar di berbagai belahan dunia meroket tajam, memaksa komunitas internasional untuk mengambil tindakan tegas demi memulihkan arus perdagangan energi.