Israel vs Iran
Pangeran Mahkota Arab Saudi Diduga Ikut Hasut Donald Trump Serang Iran
Sebuah laporan investigasi menyebutkan serangan udara besar-besaran pada Sabtu (28/2/2026) bukan sekadar keputusan sepihak Gedung Putih.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Ringkasan Berita:Serangan Israel ke Iran
- MBS & Netanyahu diduga lobi Trump serang Iran, Sabtu (28/2).
- Lobi privat MBS kontras dengan dukungan diplomatik publiknya.
- Saudi peringatkan AS: Iran kian kuat jika tak diserang sekarang.
- Lobi terjadi saat Jared Kushner masih negosiasi nuklir.
- Pejabat Saudi bantah hasutan dan klaim tetap dukung dialog.
TRIBUNJAMBI.COM - Tabir gelap di balik Operasi Militer "Epic Fury" Israel ke Iran yang meruntuhkan kekuasaan Ayatollah Ali Khamenei mulai tersingkap.
Sebuah laporan investigasi menyebutkan serangan udara besar-besaran pada Sabtu (28/2/2026) bukan sekadar keputusan sepihak Gedung Putih.
Melainkan hasil lobi intensif selama berminggu-minggu yang dilakukan oleh Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Berdasarkan laporan The Washington Post yang mengutip empat sumber internal, MBS diduga memainkan peran krusial dalam meyakinkan Presiden AS Donald Trump untuk mengambil opsi militer.
Meski secara publik Riyadh gencar menyuarakan dukungan terhadap solusi diplomatik, di balik layar MBS dilaporkan melakukan serangkaian panggilan telepon pribadi kepada Trump dalam sebulan terakhir guna mengadvokasi serangan langsung.
Strategi "penjepit" ini dilakukan bersamaan dengan kampanye terbuka Netanyahu yang konsisten melabeli Iran sebagai ancaman eksistensial.
Lobi ini terjadi tepat saat utusan presiden Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, sebenarnya masih berada di tengah meja perundingan nuklir dengan Teheran.
Peringatan dari Riyadh: Serang Sekarang atau Iran Menguat
Dalam diskusi tertutup dengan pejabat tinggi AS, para pemimpin Saudi dilaporkan memberikan peringatan keras.
Mereka berargumen bahwa penundaan serangan hanya akan membuat Iran semakin berbahaya pasca-pengerahan militer besar-besaran AS di kawasan tersebut.
Keseriusan ini diperkuat oleh Menteri Pertahanan Saudi, Khalid bin Salman, yang menggelar pertemuan rahasia di Washington untuk menekankan konsekuensi fatal jika AS tidak segera meluncurkan proyektilnya.
Baca juga: Peringatan Putra Mahkota Iran ke Pendukung Khamenei dan Pujian untuk Trump
Baca juga: JTTS Menuju Jambi Dikebut, Perbaikan Tol Kapal Jelang Mudik 2026 93 Persen
"Pemimpin Saudi memperingatkan bahwa Iran akan menjadi lebih kuat dan lebih berbahaya jika Washington tidak menyerang sekarang," ungkap sumber yang mengetahui diskusi sensitif tersebut.
Bantahan Resmi Kerajaan Saudi
Menanggapi bocornya informasi ini, seorang pejabat senior Saudi segera mengeluarkan bantahan tegas.
Kerajaan mengklaim bahwa posisi mereka tetap konsisten pada jalur perdamaian dan dialog kredibel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20260302-Pangeran-Arab-Saudi-dan-Presiden-AS-Donald-Trump.jpg)