Ramadan 2026
Sosok Muhammad Syafii, Wamenag Asal Medan Imbau Tak Sweeping saat Ramadan
Sikap Kementerian Agama melarang aksi sweeping rumah makan selama Ramadan 2026, ada sosok Muhammad Syafii yang berdiri teguh di baliknya.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Ringkasan Berita:Sosok Wamenag Larang Sweeping
- Wamenag Muhammad Syafii larang sweeping Ramadan.
- Politikus asal Medan ini aktif sejak 1978.
- Eks Ketua Pansus UU Terorisme & Komisi III.
- Tekankan keadilan bagi warga tak berpuasa.
- Imbau jaga persatuan di tengah perbedaan.
TRIBUNJAMBI.COM - Di balik ketegasan sikap Kementerian Agama melarang aksi sweeping rumah makan selama Ramadan 2026, ada sosok Muhammad Syafii yang berdiri teguh di baliknya.
Dia adalah Wakil Menteri Agama (Wamenag) yang akrab disapa Romo Muhammad Syafii.
Muhammad Syafii menekankan pentingnya menjaga wajah Islam yang moderat di Indonesia.
Pria kelahiran Medan, 21 September 1959 ini, bukan orang baru dalam panggung nasional.
Meniti karier politik sejak 1978, Syafii membawa pengalaman panjang dari legislatif daerah hingga dipercaya memimpin Pansus Revisi UU Terorisme di DPR-RI.
Pengalaman di Komisi III dan Badan Legislasi inilah yang nampaknya membentuk cara pandangnya yang menjunjung tinggi keadilan hukum dan sosial.
Pesan Toleransi dari Sang Legislator Ulung
Kini, sebagai Wamenag, ia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan tindakan sepihak terhadap warung makan yang buka di siang hari.
Baginya, menghormati bulan suci tidak harus dilakukan dengan memaksa orang lain.
“Enggak ada, enggak ada sweeping-sweeping. Itulah bentuk penghormatan kita bahwa selain kita yang berpuasa, masih ada saudara kita yang tidak berpuasa,” tegas Syafii usai sidang isbat, Selasa (17/2/2026).
Keadilan untuk Semua Golongan
Sebagai tokoh yang pernah menjabat di Badan Pengkajian MPR RI, Syafii sangat memahami bahwa persatuan bangsa adalah prioritas utama.
Baca juga: Wamenag Imbau Tak Sweeping saat Ramadan: Masih Ada Saudara yang Tak Puasa
Baca juga: Drama Baru Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Ungkap Ada 6 Versi
Ia menilai tidak adil jika masyarakat yang tidak berkewajiban puasa kehilangan akses fasilitas publik hanya karena sebagian besar orang sedang beribadah.
"Enggak mungkin gara-gara kita puasa, semuanya harus merasakan puasa. Yang tidak puasa karena keyakinan berbeda tidak bisa makan dan minum. Ini harus dipertimbangkan dalam membangun kebersamaan," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20260218-Wamenag-Muhammad-Syafii-asal-Medan.jpg)