Selasa, 5 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Harga LPG

Analisis Guru Besar Unja: Gas Nonsubsidi Naik dan Dampak Beruntun di Jambi

Fenomena terbaru di Jambi, sejumlah usaha kuliner di Kota Jambi gulung tikar, 3 hari setelah harga gas nonsubsidi mengalami kenaikan.

Tayang:
Penulis: tribunjambi | Editor: asto s
TRIBUN JAMBI/ISTIMEWA
Prof Haryadi Guru Besar Universitas Jambi 

Ringkasan Berita:Harga LPG Nonsubsidi di Jambi
- Gas 5,5 Kg naik Rp16 ribu, jadi Rp111 ribu
- Gas 12 Kg naik Rp33 ribu-Rp34 ribu, jadi Rp230 ribu

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Fenomena terbaru di Jambi, sejumlah usaha kuliner di Kota Jambi gulung tikar, tiga hari setelah harga gas nonsubsidi mengalami kenaikan.

PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi atau Bright Gas mulai 18 April 2026. Di Provinsi Jambi, gas 12 Kg naik Rp 16 ribu menjadi Rp230 ribu dan gas 5,5 Kg naik Rp33 ribu-Rp34 ribu menjadi Rp 111 ribu.

Informasi yang dihimpun Tribun Jambi, sudah dua tempat usaha terkenal, yaitu UMKM kuliner berbahan ayam dan UMKM kuliner siomay di Kota Jambi, tutup.

Kenaikan harga LPG nonsubsidi 12 kilogram dan 5,5 kilogram berdampak langsung pada biaya produksi tidak lagi sebanding dengan pendapatan pelaku usaha.

Pertama, sebuah usaha kuliner di kawasan Danau Sipin menutup operasionalnya per Senin (20/4/2026).

"Gas naik, plastik naik, kertas pembungkus naik. Sementara harga jual tidak mungkin dinaikkan karena saingan banyak” 
GG
Pengusaha Kuliner Gulung Tikar

Pemilik usaha yang enggan disebutkan namanya, menuturkan penutupan dilakukan setelah biaya operasional terus meningkat.

"Konsumen itu-itu saja, tapi penjual makin banyak," ujarnya, Rabu (22/4/2026).

NAIK - Potret toko yang menjual gas LPG di Muara Bulian, Batang Hari, pada Selasa (21/4/2026). Gas Elpiji nonsubsidi mengalami kenaikan drastis sejak dua hari terakhir.
NAIK - Potret toko yang menjual gas LPG di Muara Bulian, Batang Hari, pada Selasa (21/4/2026). Gas Elpiji nonsubsidi mengalami kenaikan drastis sejak dua hari terakhir. (Tribunjambi.com/Khusnul Khotimah)

Kenaikan harga LPG 12 Kg, ujarnya, menjadi beban terbesar dalam operasional usaha.

Hantaman Dobel

Menurutnya, dalam usaha kuliner berbasis ayam, gas merupakan kebutuhan utama untuk memasak.

Selain LPG, harga bahan pendukung seperti plastik dan kertas pembungkus juga mengalami kenaikan.

Sementara itu, pelaku usaha tidak dapat menaikkan harga jual karena tingginya persaingan.

"Gas naik, plastik naik, kertas pembungkus naik. Sementara harga jual tidak mungkin dinaikkan karena saingan banyak,” katanya.

Kenaikan harga LPG nonsubsidi yang berlaku sejak 18 April 2026 dinilai semakin mempersempit margin keuntungan pelaku usaha kecil.

Jika harga dinaikkan, dikhawatirkan pelanggan akan beralih ke tempat lain. Di sisi lain, jika tidak menaikkan harga, pelaku usaha berisiko mengalami kerugian.

Kondisi itu diperparah dengan kenaikan harga bahan baku lain seperti kacang yang sudah terjadi sejak akhir 2025.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved