News Analysis
Selat Hormuz, Kenaikan BBM, dan Dampak bagi Jambi menurut Analisis Dosen Unja
Kenaikan harga BBM tidak terlepas dari gejolak kenaikan minyak dunia saat ini disebabkan oleh konflik geopolitik yang terjadi di wilayah timur tengah
Penulis: Syrillus Krisdianto | Editor: Mareza Sutan AJ
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Akademisi Universitas Jambi, Dr Candra Mustika menilai, kenaikan harga BBM tidak terlepas dari gejolak kenaikan harga minyak dunia saat ini disebabkan oleh konflik geopolitik yang terjadi di wilayah timur tengah.
Perang antara Iran dan Israel yang didukung oleh Amerika serikat, menciptakan terjadinya berbagai kehancuran di wilayah ladang minyak, termasuk menyasar ke negara-negara timur tengah yang merupakan produsen minyak dunia.
Situasi ini menciptakan "badai sempurna" di pasar energi global karena beberapa alasan krusial.
Dia mengatakan, penyebab yang paling fatal ialah penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang kembali diperketat per 20 April 2026.
“Faktanya, sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dunia melewati selat sempit ini,” katanya, Senin (20/4/2026).
Ekonom FEB Unja itu menuturkan, ketika jalur itu terganggu atau ditutup, jutaan barel minyak tertahan. Sehingga, memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan global secara instan.
Berdasarkan laporan terbaru yang didapatkannya, terjadi gangguan produksi minyak di Timur Tengah.
Hal itu mencapai puncaknya pada April 2026, dengan penurunan hingga 9,1 juta barel per hari.
Menurut Sekretaris ISEI Provinsi Jambi itu, dunia sedang berebut mencari pengganti minyak dari kawasan Teluk, yang mendorong harga Brent sempat menyentuh angka di atas USD 100 per barel.
“Bahkan sempat mencapai titik tertinggi di USD 110-115 dalam beberapa pekan terakhir,” ujarnya.
Dia menyebut, pasar minyak sangat sensitif terhadap berita perang. Hal itu diperkeruh dengan aksi saling sita kapal tanker antara AS dan Iran.
Sehingga, membuat premi risiko atau biaya tambahan karenarisiko keamanan melonjak.
“Investor cenderung melakukan aksibeli (spekulasi) karena takut harga akan jauh lebih mahal di masa depan, yang justru mempercepat kenaikan harga saat ini,” ucapnya.
Dia menjelaskan, Indonesia adalah pengimpor minyak (net importer), kenaikan harga minyak mentah dunia, seperti jenis Brent atau WTI otomatis menaikkan biaya pengadaan BBM bagi Pertamina.
“Itulah sebabnya harga BBM non-subsidi seperti Dexlite dan Pertamax Turbo mengalami kenaikan drastis hingga lebih dari Rp6.000—Rp9.000 per liter pada penyesuaian terbaru,” jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Dosen-Ekonomi-Pembangunan-Universitas-Jambi-Dr-Candra-Mustika-SE-MSi.jpg)