Minggu, 26 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Jambi

Jambi Bakal Kena Dampak, Debit Sungai Batang Hari Bisa Susut 60 Persen dan Suhu 36 Derajat

Dalam kondisi kering ekstrem, debit air Sungai Batang Hari dapat turun hingga sekitar 1.000 meter kubik per detik.

Penulis: Syrillus Krisdianto | Editor: asto s
Tribunjambi.com
Tribun Jambi edisi musim kemarau dan Godzila El Nino 

Ringkasan Berita:
  • Mulai Mei, puncaknya Agustus
  • Suhu udara naik jadi 34-36 derajat Celsius
  • Debit air Sungai Batang Hari turun jadi 1.000 M3 per detik (normal 2.503 M3)
  • Dampak ke sektor pertanian
  • Ancaman karhutla naik

 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Debit air Sungai Batanghari bisa menyusut 60 persen akibat dampak fenomena El Nino pada musim kemarau 2026. 

Dari kondisi normal sekitar 2.503 meter kubik per detik, aliran air sungai terpanjang di Pulau Sumatra itu bisa turun drastis menjadi hanya sekira 1.000 meter kubik per detik. Kondisi itu bisa berdampak besar pada sektor pertanian di wilayah Jambi.

Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI menyatakan mulai memperkuat langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan yang dipicu Godzila El Nino. Penurunan debit air disebut menjadi tantangan utama, terutama bagi wilayah irigasi yang menjadi penopang produksi pertanian.

Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan SDA BWS Sumatera VI, Yudhi Pratikno, mengatakan pihaknya kini fokus mengantisipasi dampak berkurangnya ketersediaan air.

“Dalam menghadapi musim kemarau, terutama dengan adanya El Nino, kita harus siap mengantisipasi penurunan debit air,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut penyesuaian dalam pengelolaan irigasi, termasuk pengaturan distribusi air dan pola tata tanam agar kebutuhan pertanian tetap terpenuhi meski pasokan air terbatas.

Sebagai langkah awal, BWS Sumatera VI melakukan penelusuran langsung (walkthrough) pada jaringan irigasi untuk menginventarisasi kondisi lapangan. Selain itu, penguatan data hidrologi juga dilakukan guna memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

“Kita akan melihat sejauh mana data hidrologi yang dibutuhkan, terutama untuk daerah-daerah yang menjadi prioritas penanganan kekeringan,” katanya.

Ancaman ke Pertanian

Yudhi mengingatkan, kekeringan akibat penurunan debit air berpotensi menekan hasil pertanian secara signifikan. Produksi pertanian diperkirakan bisa turun antara 30-50 persen apabila pasokan air tidak mencukupi.

Karena itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten dalam upaya mitigasi dampak kemarau.

Saat ini, kondisi debit Sungai Batanghari masih terpantau normal. Namun, dalam kondisi kering ekstrem, debit air dapat turun hingga sekitar 1.000 meter kubik per detik, sementara saat banjir bisa meningkat di atas 3.000 meter kubik per detik.

BWS Sumatera VI menegaskan bahwa pengelolaan air harus dilakukan secara optimal untuk menjaga keseimbangan kebutuhan, terutama di tengah ancaman kekeringan.

“Dalam kondisi apa pun, air harus dijaga semaksimal mungkin melalui pengaturan dan pengendalian agar tetap sesuai kebutuhan,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved