Kamis, 21 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Makan Bergizi Gratis

Nasib Guru di Jambi Setelah Ada Program MBG, Keluar Tenaga Ekstra Tak Ada Reward

Kendala MBG di Jambi ada dari persoalan menu, teknis distribusi di sekolah, hingga reward yang diperoleh.

Tayang:
Penulis: Srituti Apriliani Putri | Editor: asto s
TRIBUN JAMBI/SRITUTI APRILIANI PUTRI
MBG - Sejumlah kendala sebenarnya dialami guru di Kota Jambi dalam melaksanakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut sudah berlangsung selama beberapa beberapa bulan. Kendala yang ada dari persoalan menu, teknis distribusi di sekolah, hingga reward yang diperoleh. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejumlah kendala sebenarnya dialami guru di Kota Jambi dalam melaksanakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut sudah berlangsung selama beberapa beberapa bulan.

Kendala MBG di Jambi ada dari persoalan menu, teknis distribusi di sekolah, hingga reward yang diperoleh.

Semisal di SMAN 3 Kota Jambi. Di sana program sudah dilaksanakan selama sepekan, sejak Senin (22/9) lalu. 

Ada 1.239 siswa sekolah tersebut yang mendapatkan MBG.

Kepala SMAN 3 Kota Jambi, Suyadi, mengatakan selama sepekan pelaksanaan secara umum program berjalan lancar.

Namun, ada keluhan dari siswa terkait menu makanan yang disajikan.

Keluhan itu muncul ketika menu MBG tidak sesuai kebiasaan makan sehari-hari siswa.

"Di hari ke berapa itu ada sandwich (roti isi). Mungkin, secara tradisi, kita orang Indonesia baru makan itu kalau sudah makan nasi," ujarnya Senin (29/9/2025).

Mendapat keluhan tersebut, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan dapur penyedia makanan agar ada perbaikan menu ke depan.

"Ini kita selesaikan dengan cara kekeluargaan. Langsung kita hubungi dapur. Mudah-mudahan ke depan ada penyesuaian," katanya.

Selain menu, sekolah juga menyoroti soal teknis distribusi makanan. 

Di SMAN 3 Kota Jambi, distribusi MBG dilakukan oleh tenaga tata usaha (TU) yang dibantu guru dengan jumlah terbatas.

"Hanya enam orang. Selain itujuga melibatkan siswa. Dalam setiap kelas, ada empat orang yang ditugaskan mengambil dan mengembalikan omprengan (wadah) makanan," ujarnya.

Dia berharap untuk tenaga TU maupun guru yang ikut membantu distribusi MBG mendapat reward

Itu mengingat, untuk mendistribusikan makanan MBG merupakan tugas tambahan bagi TU dan guru.

"Harapannya nanti, dapur juga bisa memberi reward. Tidak harus banyak, minimal untuk enam orang yang setiap hari membantu distribusi di sekolah," pungkasnya.

Ribet Jika Ada Masalah

Beberapa waktu lalu, siswa SMKN Kota Jambi menemukan ulat pada menu MBG yang akan disantapnya.

Setelah temuan ulat itu, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan pihak dapur.

Kepala SMKN 2 Kota Jambi, Woro Handayani, menuturkan peristiwa temuan ulat pada makanan MBG siswa terjadi di hari pertama pelaksanaan MBG SMKN 2 Kota Jambi pada Senin (22/9) lalu.

Woro mengatakan ulat yang ditemukan tersebut diyakini sudah mati dan berasal dari sayuran.

"Itu dari 1.600 siswa (yang mendapat MBG) ada satu ulat, mungkin dari sayur yang jatuh pada nasi dan tidak di makan anak, langsung di kembalikan," jelasnya

Untuk SMKN 2 Kota Jambi, makanan MBG siswa dikelola langsung oleh Yayasan Samadhia Indonesia Berdaya di Kecamatan Jambi Selatan. 

Makanan siswa tersebut diantar langsung ke sekolah kemudian didistribusikan ke siswa.

Setelah kejadian tersebut, ia mengatakan program MBG masih tetap berlanjut dan tidak ada laporan siswa yang sakit.

"Alhamdulillah kejadian di hari pertama sama hari ke lima ini, semua sehat dan tidak ada yang menolak program MBG," jelasnya. 

Lebih Baik Bawa dari Rumah

Sejumlah kasus keracunan makan bergizi gratis (MBG) di berbagai wilayah di Indonesia membuat orangtua mulai khawatir

Sejumlah orangtua murid di Kota Bekasi, Jawa Barat menolak pendistribusian MBG di sekolah.

"Saya salah satu orangtua yang menolak MBG sebenarnya, karena ngeliat dari sosmed, tetangga cerita segala macam itu banyak keracunan, jadi saya orangtua yang menolak adanya ngasih makan MBG ke anak saya," kata Orangtua murid berinisial AB, Selasa (30/9) siang.

Orangtua dari siswa SD Swasta di kawasan Kecamatan Bekasi Timur kelas satu, FY (7) itu menjelaskan, kalau ia melarang keras putranya mengonsumsi MBG sejak awal mendapatkan jatah.

Atau persisnya sudah sejak lebih kurang tiga minggu lalu pertama pendistribusian MBG di sekolah tersebut.

"Saya larang dari awal, biarin aja teman-temannya ngomong apa, tetap saya larang," jelasnya.

AB menuturkan penolakan disampaikannya ketika guru di sekolah itu meminta izin kepadanya memberikan MBG. Sebab FY selalu dibuatkan bekal makanan oleh ibu dari rumah sebagai ganti MBG.

"Jadi saya lebih baik bawakan makanan anak saya dari rumah, jadi liat temennya makan anak saya juga tetap makan, tapi bawa dari rumah yang disiapin oleh istri saya," tuturnya.

AB menyampaikan penolakan untuk anak mengonsumsi MBG itu diduga tidak hanya dilakukan dirinya, namun juga beberapa orangtua lainnya.

Selain karena kekhawatiran keracunan, AB dan beberapa diduga orangtua lainnya menilai kalau pemerintah diyakini tidak akan bertanggung jawab jika hal terpahit menimpa anaknya pasca konsumsi MBG.

"Ada berapa, tapi pastinya satu kelas itu saya belom tahu, yang pasti ada menolak dikasih MBG, alasannya sama, nanti kalau kenapa-napa emangnya ada tanggung jawab dari sekolah atau pemerintah, kan tidak ada," ucapnya. (Tribun Jambi/Srituti Apriliani Putri/Tribunnews)

Sejumlah Kendala Program MBG di Jambi

- Menu tidak sesuai selera siswa

- Distribusi melibatkan guru dan TU

- Petugas yang membereskan omprengan

- Tidak ada reward untuk guru dan TU yang membantu

- Dll

Baca juga: Efisiensi Rp300 Miliar, Tebo Terancam Tanpa Pembangunan Fisik di 2026

Baca juga: Paras Bule Wajah Anak Billy Syahputra dan Vika Kolesnaya, Mirip Orang Ini

Baca juga: Tanggal Merah Oktober November Desember 2025, Daftar Libur Nasional Cuti Bersama

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved