Rabu, 6 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Kerinci

Terbangkan Drone di Gunung Kerinci Sekarang Bayar Rp2 Juta

TNKS resmi memberlakukan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp2 juta untuk setiap aktivitas penerbangan drone di kawasan konservasi.

Tayang:
Penulis: Herupitra | Editor: Mareza Sutan AJ
Tribun Jambi/ Herupitra
Keindahan Gunung Kerinci Jambi yang menjulang megah sering membuat wisatawan tergoda untuk mengabadikannya melalui kamera drone. 

TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI – Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) resmi memberlakukan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp2 juta untuk setiap aktivitas penerbangan drone di kawasan konservasi.

Kebijakan ini diterapkan guna menjaga keselamatan pendaki, melindungi satwa liar, sekaligus mengatur aktivitas wisata agar lebih tertib.

“Drone termasuk aktivitas khusus yang tidak bisa sembarangan dilakukan. Ada prosedur izin dan biaya PNBP sebesar Rp2 juta yang harus dipenuhi,” ujar Kepala BBTNKS Kerinci, David, saat dihubungi Minggu (7/9/2025).

Ia menjelaskan, aturan tersebut didasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2024 serta Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 12 Tahun 2025.

Lebih lanjut, penerbangan drone hanya diperbolehkan dalam radius tiga kilometer dari Puncak Gunung Kerinci.

Proses pembayaran juga wajib melalui mekanisme resmi negara.

"Bayar PNBP ke Kas Negara, nanti dikasih nomor billing-nya. Ntar bukti pembayarannya dilihatkan, dilaporkan saja ke petugas di pos," jelas David.

Selain biaya, operator drone diwajibkan mengurus izin resmi serta menyampaikan rencana penerbangan kepada petugas lapangan.

Tujuannya, agar tidak mengganggu ekosistem maupun kenyamanan pengunjung lainnya.

Pendaki: Terlalu Memberatkan

Aturan baru TNKS mengenai biaya penerbangan drone senilai Rp2 juta mendapat tanggapan beragam.

Sebagian pihak menganggap kebijakan ini penting untuk ketertiban kawasan konservasi.

Namun, sejumlah pendaki merasa tarif tersebut terlalu mahal.

“Kalau Rp2 juta untuk sekali terbang, terlalu memberatkan. Padahal banyak pendaki hanya ingin dokumentasi pribadi, bukan komersial,” ujar salah seorang pendaki.

Hal senada disampaikan pegiat wisata lokal.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved