Otomotif
Skuter Rasa Panser ala Edi Dharma
WARNA hitam mendominasi sekujur bodi skuter milik kartunis Edi Dharma itu.
Penulis: kelik | Editor: Deddy Rachmawan
Pola bentukan scotchlite merah tadi sederhanan saja. Namun, hasilnya terasa tegas. Tak cuma karena memadukan warna merah dengan latar belakang hitam. Itu karena pola yang dihasilkannya adalah ala simbol-simbol militer Jerman zaman Third Reich. Ada lambang swastika, ada juga Iron Cross. Bahkan pula ada foto sang Fuhrer, Adolf Hitler, lengkap dengan kumis kotak ala Charlie Chaplin-nya, menghiasi bagian depannya.
"Dia itu kan gambaran tentara yang kuat, terkuat di dunia," kata Edi tentang alasannya melekatkan motif ala Nazi dan Jerman era Perang Dunia II di skuternya. Ini dikatakan Edi ketika ditemui Tribun di rumahnya di daerah Thehok pada Selasa (12/4) pagi.
Hal menarik dari skuter Edi tak cuma sebatas itu. Ornamen ala NAZI tadi kian dikuatkan oleh benda-benda berbau militer di berbagai titik dari skuterrnya. Sebut saja dalam hal ini adalah senapan angin bercat hitam yang dipasang menghadap ke belakang di bagian samping kiri, gulungan matras yang terpasang di bagian belakang motor, juga veples alias botol minum ala tentara yang dipasang di bagian samping kiri, berdampingan dengan ban serep. Selain itu, Edi masih melekatkan pula sejumlah insignia metal di bagian depan skuternya, tak ketinggalan rak besi permanen plus tas berisi perkakas perbaikan di bagian bawah setang. Dengan semua tampilan ala militer tadi, skuter itu boleh dibilang serasa panser jadinya.
"Bedilnya masih fungsi itu, bisa dicopot dari tempatnya, bisa dipakai menembak," kata Edi seraya berkata bahwa senapan tersebut sekitar sepekan sebelumnya memang sempat dipakai berburu burung.
"Kalau botolnya...," kata Edi sambil menunjuk ke veples, "...sekarang untuk tempat oli samping."
Menurut Edi, skuternya tampil ala NAZI Jerman plus berornamen militer sejak setahun terakhir. Selain sekian hiasan yang telah diceritakan tadi, sebenarnya skuter milik kartunis yang karyanya kerap menghiasi sesi karikatur selepas berita di TVRI Stasiun Jambi tersebut masih memiliki asesoris lain yang berbau militer. Itu adalah sebuah jeriken bahan bakar berbahan metal eks perlengkapan jip Willys untuk dipasang di bagian belakang serta rak besi jungkit di bagian depan.
"Tapi itu dicopot lagi akhirnya. Raknya kalau dipasang bising bunyinya, malu sama orang kalau masuk kampung," ucap Edi seraya tersenyum lebar.
"Kalau jerikennya ternyata terlalu berat. Pernah hampir kebanting saya di jalan pas jerikennya masih dipasang. Cuma sekitar seminggu saya pakainya," sambung Edi. Akhirnya dua benda itu pun ditinggal saja di rumah.
Jerman, Italia, dan India
SKUTER ala militer Jerman merupakan hasil proyek modifikasi Edi Dharma setahun lebih yang lalu. Awalnya, Edi memang menyukai skuter sejak lama. Pada 2006, Edi telah menjadikan skuter Italia dari merek Piaggio dan tipe Vespa Super sebagai tunggangan hariannya. Sekitar tiga tahun berjalan, ia mengganti Vespa Super dengan Vespa Strada keluaran 1989 yang dirasanya lebih bertenaga dalam soal mesin.
Edi ternyata cuma bertahan dengan Vespa Stradanya sekitar setahun. Berbarengan dengan munculnya niat memiliki skuter bertampilan militer, Edi menjual bodi Vespa Strada, tapi tetap memertahankan mesinnya. Edi mengganti bodi Vespa Strada dengan bodi milik skuter versi negaranya Mahatma Gandhi, India, yakni Bajaj keluaran 1974. Bodi Bajaj ini dibelinya sebagai rongsokan di daerah Selincah.
"Kalau lihat bentuknya waktu pertama kali di loakan, sedih lihatnya," kata Edi. Pilihannya terhadap bodi Bajaj sebagai pengganti bodi Vespa Strada karena Bajaj dinilainya memiliki ketebalan lebih baik ketimbang Strada.
Dia sendiri lantas mengecat sendiri si bodi skuter Bajaj dengan warna hitam. Untuk penanganan pengelasan dan rombak mesin samping, Edi memasrahkannya kepada bengkel RMS Kasang untuk rombak mesin samping.
"Lampunya itu pakai lampu kabut truk PS. Cangkang lampunya dari sisa spatbor Vespa tahun 65. Bagian depan lampu depan saya beri behel," kata Edi. Imbihnya, pilihan terhadap lampu kabut truk PS adalah bertujuan menghasilkan kualitas penerangan yang kuat, menepis citra skuter sebagai jenis sepeda motor yang lemah dalam hal penerangan.
Supaya lebih nyaman dikendarai, serta nyaman kala diajak berlari, gas spontan dipasangkan di skuter ini. Karena itu skuter ini menurut Edi Dharma masih bisa dipacu kencang hingga lebih dari 100 kilomter per jam. (yoseph kelik)