Kantor Pos Riwayatmu Kini
Di era 1980-an dan 1990-an, Kantor Pos dan Giro menjadi pilihan masyarakat
Penulis: wahyu | Editor: Rahimin
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Wahyu Jati Kusuma
Di era 1980-an dan 1990-an, Kantor Pos dan Giro menjadi pilihan masyarakat mengirim dan menerima surat, telegram, paket barang hingga uang. Namun seiring hadirnya jasa pengiriman barang, kemudahan transfer, internet, handphone dan lainnya, membuat layanan pos tergerus.
Perusahaan milik negara ini berupaya keras menyesuaikan zaman. Menginivasi layanan sehingga tak kalah dengan jasa swasta dan perkembangan teknologi terkini.
"Kami sebagai BUMN yang bergerak di bidang pelayanan surat, paket, logistik dan berbagai pelayanan lainnya berusaha menjawab berbagai kebutuhan masyarakat melalui berbagai inovasi sehingga sampai saat ini kita masih tetap bertahan," ujar Kepala Kantor Pos Jambi, Mukhlis kepada Tribun, Kamis (14/4).
Mukhlis mengakui beberapa waktu lalu, perusahaan tempat dia bekerja sempat mengalami kelesuan. Namun dengan mengikuti perubahan zaman, PT Pos Indonesia kembali menjadi pilihan masyarakat.
"Memang saat ini orang yang mengirim surat sudah berkurang karena adanya SMS, tetapi bukan berarti pasar surat kita hilang," jelasnya.
Menurutnya, jumlah perbandingan pengguna jasa antar surat antara perorangan dengan perusahaan saat ini 20 persen dibanding 80 persen. "Kalau perorangan pribadi saat ini dalam sehari berkisar 30-40 pucuk surat yang dikirim melalu pos," imbuhnya.
Namun untuk dokumen dan surat-surat milik perusahaan, pos masih dipercaya. "Dengan Pos Express kita hanya perlu waktu satu hari untuk mengirim surat," jelasnya.
Mukhlis menambahkan, pada awal tahun ini PT Pos Indonesia Jambi mengeluarkan perangko dengan lambang Provinsi Jambi seharga Rp 1.500, dengan penjualan perbulan 3.000-5.000 lembar. Bahkan saat ini di Kota Jambi masih ada delapan bis surat.
"Meskipun sekarang banyak orang yang iseng terhadap bis surat mengisinya dengan benda yang aneh-aneh, tetapi tetap kita sediakan dan masih berfungsi," ceritanya.
Terkait keberadaan kartu pos, menurut Mukhlis memang sedikit berkurang jumlah penggunanya. Tetapi sampai saat ini, kartu pos masih ada dan masih tetap digunakan oleh berbagai kalangan.
Menurutnya untuk sekarang ini kartu pos banyak digunakan oleh perusahaan seperti untuk korespondensi, kuis dan sebagainya.
Hingga saat ini, jumlah kantor pos di Jambi mencapai 39 kantor. Untuk jumlah tenaga pengantar surat menurut Mukhlis justru lebih banyak jika dibandingkan zaman dulu, karena saat ini banyak perusahaan yang menggunakan jasa pos untuk layanan surat menyurat mereka. "Saat ini tenaga pengantar surat malah semakin banyak dibanding dulu," jelasnya.
Dengan 39 kantor pos yang tersebar di empat kabupaten dan satu kotamadya dengan jumlah karyawan yang mencapai 196 orang, PT Pos Indonesia Jambi kini siap melayani masyarakat.
Di era 1980-an dan 1990-an, Kantor Pos dan Giro menjadi pilihan masyarakat mengirim dan menerima surat, telegram, paket barang hingga uang. Namun seiring hadirnya jasa pengiriman barang, kemudahan transfer, internet, handphone dan lainnya, membuat layanan pos tergerus.
Perusahaan milik negara ini berupaya keras menyesuaikan zaman. Menginivasi layanan sehingga tak kalah dengan jasa swasta dan perkembangan teknologi terkini.
"Kami sebagai BUMN yang bergerak di bidang pelayanan surat, paket, logistik dan berbagai pelayanan lainnya berusaha menjawab berbagai kebutuhan masyarakat melalui berbagai inovasi sehingga sampai saat ini kita masih tetap bertahan," ujar Kepala Kantor Pos Jambi, Mukhlis kepada Tribun, Kamis (14/4).
Mukhlis mengakui beberapa waktu lalu, perusahaan tempat dia bekerja sempat mengalami kelesuan. Namun dengan mengikuti perubahan zaman, PT Pos Indonesia kembali menjadi pilihan masyarakat.
"Memang saat ini orang yang mengirim surat sudah berkurang karena adanya SMS, tetapi bukan berarti pasar surat kita hilang," jelasnya.
Menurutnya, jumlah perbandingan pengguna jasa antar surat antara perorangan dengan perusahaan saat ini 20 persen dibanding 80 persen. "Kalau perorangan pribadi saat ini dalam sehari berkisar 30-40 pucuk surat yang dikirim melalu pos," imbuhnya.
Namun untuk dokumen dan surat-surat milik perusahaan, pos masih dipercaya. "Dengan Pos Express kita hanya perlu waktu satu hari untuk mengirim surat," jelasnya.
Mukhlis menambahkan, pada awal tahun ini PT Pos Indonesia Jambi mengeluarkan perangko dengan lambang Provinsi Jambi seharga Rp 1.500, dengan penjualan perbulan 3.000-5.000 lembar. Bahkan saat ini di Kota Jambi masih ada delapan bis surat.
"Meskipun sekarang banyak orang yang iseng terhadap bis surat mengisinya dengan benda yang aneh-aneh, tetapi tetap kita sediakan dan masih berfungsi," ceritanya.
Terkait keberadaan kartu pos, menurut Mukhlis memang sedikit berkurang jumlah penggunanya. Tetapi sampai saat ini, kartu pos masih ada dan masih tetap digunakan oleh berbagai kalangan.
Menurutnya untuk sekarang ini kartu pos banyak digunakan oleh perusahaan seperti untuk korespondensi, kuis dan sebagainya.
Hingga saat ini, jumlah kantor pos di Jambi mencapai 39 kantor. Untuk jumlah tenaga pengantar surat menurut Mukhlis justru lebih banyak jika dibandingkan zaman dulu, karena saat ini banyak perusahaan yang menggunakan jasa pos untuk layanan surat menyurat mereka. "Saat ini tenaga pengantar surat malah semakin banyak dibanding dulu," jelasnya.
Dengan 39 kantor pos yang tersebar di empat kabupaten dan satu kotamadya dengan jumlah karyawan yang mencapai 196 orang, PT Pos Indonesia Jambi kini siap melayani masyarakat.
Berita Terkait