Advertorial
Jaga Gambut Jambi, Faperta UNJA dan Forkopimda Satukan Langkah Hadapi Ancaman Karhutla
UNJA menggelar Kuliah Umum “Antisipasi dan Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan pada Ekosistem Gambut di Provinsi Jambi”, Rabu (10/6/2026)
TRIBUNJAMBI.COM, Jambi – Di tengah ancaman musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan ekstrem dari biasanya, Universitas Jambi (UNJA) mengambil langkah konkret dengan menggelar Kuliah Umum bertema “Antisipasi dan Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan pada Ekosistem Gambut di Provinsi Jambi”, Rabu (10/6/2026), di Auditorium Lantai 1 Gedung UNIFAC Universitas Jambi.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian (Faperta) ini menegaskan posisi UNJA sebagai mitra strategis pemerintah dalam menghadapi salah satu ancaman lingkungan paling berulang di Provinsi Jambi.
Kuliah umum ini menghadirkan seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Jambi secara langsung mulai dari Gubernur, Kapolda, Danrem 042 Garuda Putih, hingga Kepala Kejaksaan Tinggi Jambi.
Kehadiran mereka sekaligus untuk menandatangani komitmen bersama pencegahan karhutla yang juga melibatkan APHI, PT. Wirakarya Sakti (APP Group), dan Sekretariat Bersama Pengelolaan Sumber Daya Hutan (Sekber PSDH) Jambi.
Rektor UNJA, Helmi, menyambut kegiatan ini sebagai kelanjutan dari komitmen institusi yang sudah dibangun sejak tahun sebelumnya. Tahun lalu, UNJA baru sebatas menggelar simulasi karhutla. Tahun ini, cakupannya diperluas dengan kuliah umum yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan di tingkat provinsi.
“Kebakaran hutan dan lahan menjadi tanggung jawab bersama. Tidak bisa hanya dilakukan oleh aparat dari Kepolisian, TNI, atau Pemerintah Daerah. Masyarakat harus berkolaborasi, harus berpartisipasi,” ujar Rektor
Rektor menegaskan bahwa UNJA telah berkontribusi melalui jalur penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Namun menurutnya, yang tak kalah penting adalah mengubah mindset tentang kapan antisipasi harus dimulai.
Baca juga: Dosen Unja Eks Winger PSMS Junior Bicara soal Prancis ,Cara Kuliah hingga Tantangan Sepak Bola Jambi
Baca juga: Tagihan Dapur MBG Triliunan Rupiah Memanas, Kepala BGN Nanik: Masalah Teknis
“Antisipasi itu artinya mencegah. Bukan ketika musim kering sudah akan tiba baru kita bersiap-siap,” ujar Rektor.
Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., menyoroti tantangan mendasar yang selama ini belum tuntas diatasi, yakni mengubah perilaku masyarakat yang masih memandang bakar lahan sebagai cara paling praktis membuka ladang.
“Yang paling sulit adalah mengajak masyarakat untuk sadar tentang bahaya kebakaran hutan ini. Banyak yang belum sadar dampak-dampak ekologis dari karhutla, seperti kesehatan terganggu, ISPA, sekolah dihentikan, transportasi terganggu. Bandara kita bahkan pernah tidak aktif selama tiga bulan pada 2015 akibat karhutla ini,” ujar Gubernur.
Menurutnya, mahasiswa UNJA, khususnya dari Jurusan Kehutanan dan Faperta memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh satgas mana pun: kehadiran mereka di tengah masyarakat, saat KKN, saat praktik lapangan, bahkan saat pulang kampung, adalah kesempatan edukasi yang jauh lebih organik dan mengakar.
“Saya berharap ini menjadi langkah awal yang konkret bersama mahasiswa dan perguruan tinggi untuk menyatukan perspektif bagaimana kita menangani persoalan karhutla di Provinsi Jambi,” tutup Gubernur.
Kapolda Jambi, Irjen Pol. yang Drs. Krisno H. Siregar, S.I.K., M.H., memaparkan strategi komprehensif Polri mulai dari patroli terpadu, pemantauan hotspot berbasis satelit, hingga sosialisasi zero burning. Ia membuka dengan pertanyaan yang menghentak:
“Saya khawatir lima tahun lagi tidak ada lagi hutan di Jambi. Adik-adik mahasiswa, saya minta kalian juga ambil peran,” ujar Kapolda.
Komandan Korem 042 Garuda Putih, Brigjen TNI Nyamin, S.I.P., M.M., memberikan gambaran yang lebih jauh tentang konteks iklim di balik kuliah umum ini.
BMKG mencatat bahwa per akhir Maret 2026, sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jambi sudah mulai memasuki musim kemarau, dan tahun ini prediksinya lebih mengkhawatirkan dari rata-rata. Meski demikian, ia mencatat tren karhutla jangka panjang di Jambi sebenarnya menurun, bukti bahwa upaya pencegahan yang konsisten membawa hasil.
“Tahun ini kita dihadapkan dengan ancaman El Nino yang tidak seperti biasanya. Kali ini akan lebih panas dan keringnya akan lebih lama. Ini harus kita hadapi dan tanggulangi, jangan sampai kasus-kasus yang lalu terulang dan lebih parah,” tegas Danrem.
Mewakili Kepala Kejaksaan Tinggi Jambi, Wakajati Jambi, Dr. Bima Suprayoga, S.H., M.Hum., menyampaikan perspektif hukum yang selama ini sering luput dari perhatian publik: bahwa ancaman pidana karhutla tidak berhenti pada masyarakat kecil yang kedapatan membakar lahan. Korporasi pemegang izin yang lalai juga dapat dijerat, baik secara pidana maupun perdata.
“Pertanggungjawaban pidana tidak berhenti pada perorangan di lapangan, tetapi menjangkau korporasi pemegang izin yang lalai menjaga areanya. Namun, asap yang telah mengepul dan hutan yang telah hangus tidak dapat dipulihkan oleh putusan pengadilan. Penegakan hukum bagaimanapun adalah upaya terakhir, bukan yang pertama,” ujarnya.
Usai sesi keynote, acara dilanjutkan dengan pemaparan empat narasumber: Kombes Pol. Taufik Nurmandia, S.I.K., M.H. (Direskrimsus Polda Jambi), Kolonel Inf. Wahyu Alfian Arisandi (Kasiops Kasrem 042/Gapu), Sujica W. Lusaka, M.Sc. (APP Group), dan Feri Irawan (Ketua Umum Sekber PSDH Jambi). Masing-masing membahas aspek kamtibmas, strategi TNI, best practice gambut, hingga model kelola masyarakat.
Rangkaian acara ditutup dengan simulasi pemadaman karhutla di Lapangan Sepakbola UNJA oleh Regu Pemadam Kebakaran APP (PT. Wirakarya Sakti) bersama Tim Reaksi Cepat Mahasiswa Faperta UNJA.
Hal ini memberikan mahasiswa pengalaman langsung menghadapi kebakaran gambut yang apinya bisa menjalar di bawah permukaan tanah, jauh lebih kompleks dari kebakaran biasa.
Provinsi Jambi memiliki kawasan ekosistem gambut seluas lebih dari 617.000 hektare. Ini merupakan ekayaan sekaligus kerentanan yang tidak bisa dikelola oleh satu pihak saja. Melalui kesempatan ini, UNJA telah menempatkan dirinya sebagai ruang pertemuan antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan aksi nyata.
Mahasiswa mendapat mandat untuk membawa kesadaran itu keluar dari kampus, ke desa-desa, ke lahan-lahan gambut yang butuh dijaga bukan dengan peraturan semata, tapi dengan kepedulian yang tulus dan terorganisir.
Klik www.unja.ac.id untuk melihat berita lainnya. (adv)
Ikuti saluran Tribun Jambi di WhatsApp
Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News
Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi
Baca juga: Tagihan Dapur MBG Triliunan Rupiah Memanas, Kepala BGN Nanik: Masalah Teknis
Baca juga: 25 UMKM Tanjab Barat Ikuti Pelatihan Mutu Produk dari SKK Migas PetroChina
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/11062026-unja.jpg)