Advertorial
Membangun Kepercayaan Melalui Kemitraan
Sejak tahun 2000, Umar mendedikasikan hidupnya untuk bertani kelapa sawit, menopang keluarga dan komunitas melalui kerja kerasnya.
Di balik setiap tandan buah kelapa sawit terdapat kisah kerja keras, harapan, dan kepercayaan.
Bagi petani seperti Umar dan Atno, bermitra dengan perusahaan perkebunan bukan sekadar urusan bisnis, melainkan jalan menuju masa depan yang lebih baik.
TRIBUNJAMBI.COM - Bagi Umar Isnadi, Ketua KUD Sidodadi di Desa Tanjung Benuang, Jambi, kelapa sawit lebih dari sekadar mata pencaharian. Ia mewakili harapan keluarganya dan ratusan anggota koperasi yang ia pimpin.
Sejak tahun 2000, Umar mendedikasikan hidupnya untuk bertani kelapa sawit, menopang keluarga dan komunitas melalui kerja kerasnya.
Sejak awal, ia memilih bermitra dengan PT Kresna Duta Agroindo (KDA), menyadari banyak manfaat yang ditawarkan.
Melalui kemitraan dengan PT KDA dalam Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) skema Sarana Produksi/Saprodi, petani menerima input pertanian berkualitas tinggi seperti bibit bersertifikat, pupuk, dan alat pertanian penting.
Dukungan ini memastikan praktik peremajaan yang tepat, menghasilkan panen lebih tinggi dan pengelolaan kebun yang lebih berkelanjutan.
Baca juga: Jumat Siang Sistem Jaringan Bank Jambi Trouble Lagi, Transaksi di Teller Ditunda
Baca juga: Sopir Jambi Dirampok dan Gasak 28 Juta via M-Banking, Pelaku Diciduk Polisi
Dengan mengurangi beban finansial petani serta memberikan bimbingan teknis, program ini membantu meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan membangun kehidupan yang lebih tangguh.
Menurut Umar, menjadi petani sawit mandiri penuh tantangan. Petani selalu mencari cara untuk meningkatkan pengelolaan kebun, mulai dari perawatan tanaman, pemupukan, hingga pengolahan hasil panen.
“Kalau sendiri, semuanya terasa sulit. Semua harus diurus sendiri, padahal banyak hal yang belum sepenuhnya kami pahami,” jelasnya.
Kembali Bermitra untuk Masa Depan Lebih Baik
Umar pernah bermitra dengan PT KDA melalui skema plasma. Ketika masa plasma berakhir antara 2010 hingga 2015 di berbagai lahan miliknya, ia melanjutkan usaha secara mandiri.
Namun, pengalaman itu justru semakin meyakinkannya bahwa kemitraan adalah pilihan terbaik. Pada 2025, ia memutuskan kembali bergabung dengan PT KDA melalui Program PSR.
Saat mengelola kebun secara mandiri, produksinya menurun drastis. Sebelumnya, ia bisa mencapai 6–7 ton per bulan dari dua hektare lahan, namun turun menjadi hanya 2–3 ton. Penurunan ini berdampak besar pada pendapatan keluarga.
“Dulu saat masih bermitra, rata-rata bisa 6–7 ton per bulan. Setelah dikelola sendiri, paling banyak hanya 2–3 ton. Pendapatan kami terpangkas setengah, itu masa yang sangat sulit,” ungkap Umar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/27022026-petani.jpg)