Advertorial
"Kapan Kami Bisa Pulang ke Rumah?" Catatan Andi Firmansyah, Relawan BUMN Peduli PTPN Group di Aceh
Sudah hampir sebulan Ahmar dan ratusan warga lainnya mengungsi di area terminal yang kini lumpuh. Ruko-ruko berbentuk huruf "U" dan musala terminal
TRIBUNJAMBI.COM - Pelataran terminal tipe B Pidie Jaya, Nangroe Aceh Darussalam masih banyak anak-anak yang berkejaran dengan bola yang dimainkan, Rabu sore (17/12/25). Jam sudah menunjukkan pukul 18.00. Matahari di kawasan ujung Pulau Sumatera itu memang masih terang, tetapi cahaya jingga mulai merona.
Permainan sepak bola di lapangan aspal itu memang baru beberapa hari digelar setiap sore. Agenda itu merupakan salah satu cara Tim Relawan BUMN Peduli PTPN Group Posko Trauma Healing untuk memberi penguatan dan sedilit mengalihkan perhatian, terutama anak-anak. Cukup efektif. Sebab, hampir semua anak menikmati, meskipun dengan kemampuan yang alakadarnya.
Tak hanya anak-anak yang bermain, aktivitas baru itu juga mengundang orang-orang untuk menonton keseruannya. Seru dalam konteks ini bukan skor ketat, skil pemain, kerjasama tim, atau istilah sepak bola profesional lain, tetapi lebih kepada faktor lucu-lucunya. Mereka bermain bebas yang lebih cenderung “main teri”, semua berburu mengejar bola tanpa strategi tertentu.
Lapangan yang masih becek siswa lumpur bencana banjir itu masih ramai. Tetapi, Ahmar (9 tahun) sudah menepi. Tubuhnya berkeringat, pakaiannya basah bersama cipratan lumpur pekat, napasnya masih terengah. Di teras terminal tempat para relawan bermarkas, bocah kelas tiga MIN Pidie Jaya itu duduk menggelapor di lantai melepas penat, tak jauh dari tempat saya duduk memindahkan file foto dari kamera ke laptop.
“Pak, pajan lôn jeut woe u rumoh?” Ahmar mendekatkan wajahnya ke hadapan saya. Suaranya berat seperti tertahan oleh air mata dan rasa hati yang ingin ikut keluar. Matanya berkaca-kaca. Lalu menunduk.
Tak cukup paham dengan bahasa yang diucapkan, saya meminta teman seperjuangan lokal untuk menerjemahkan. “Dia bilang, kapan kami bisa pulang ke rumah?”, jelas teman.
Baca juga: Daftar Lengkap Kepala SMP Negeri Kota Jambi yang Baru dilantik Wali Kota Jambi Maulana
Pertanyaan itu tak mampu saya jawab. Belaian di kelapa bagian belakang saya lakukan untuk mendekatkan wajahnya ke dada saya yang tergetar. Saya tidak sedang memberi penguatan kepada Ahmar, tetapi sedang menutupi lubang busuk di dada yang tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan, untuk sebaris kata-kata jawaban atas pertanyaan.
Saya kehilangan kata-kata bukan karena tidak punya jawaban, tetapi lebih karena jawaban asli yang terjadi adalah kata “tak bisa diterka”. Itu karena saya punya data untuk menjawab pertanyaan. Data dari fakta lapangan yang tersimpan dalam otak saya adalah, bahwa desa (Blang Cut) yang didiami keluarg Ahmar adalah lokasi terparah bencana di 24 November 2025 lalu.
Hampir seluruh rumah terkubur lumpur pekat bercampur kayu-kayu gelondongan. Ya, bukan terenda, tetapi terkubur akibat banjir bandang luapan Sungai Krueng Meureudu.
"Sabar ya, Mar. Berdoa kepada Allah, semoga Ahmar dan keluarga cepat bisa kembali ke rumah," jawab saya lirih.
Ahmar kemudian bercerita tentang rumahnya yang hilang. Ia merindukan tempat tidurnya, momen makan bersama bapak, ibu, dan adiknya. Ia bercerita tentang sepeda kesayangannya dan rutinitas paginya memberi makan ayam, dan bebek, sebelum berangkat sekolah.
"Sering dapat telur dari kandang bebek, Om," kenangnya dengan mata berbinar, lalu meredup.
Air mata saya jatuh tanpa bisa dibendung. Anak sekecil ini harus menanggung beban kehilangan yang begitu besar. Terbesit amarah di hati saya terhadap realitas ini—mengapa keindahan masa kecil mereka harus direnggut oleh bencana sedahsyat ini?
Urgensi Status Bencana Nasional
Sudah hampir sebulan Ahmar dan ratusan warga lainnya mengungsi di area terminal yang kini lumpuh. Ruko-ruko berbentuk huruf "U" dan musala terminal menjadi saksi bisu perjuangan mereka bertahan hidup di atas tikar seadanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/asfsdgdhdhj.jpg)