Human Interest Story

Puluhan Tahun Alex Bertahan Jajakan Putu di Era Modernisasi Kuliner: Dulu Harganya Rp50

Alex (54), menjadi salah satu dari sedikit penjual kue putu yang tetap bertahan di tengah gempuran berbagai jenis jajanan modern.

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Mareza Sutan AJ
Mg Tribunnews/rRfqi Fawwaz Rijandra
KUE PUTU LEGENDARIS - Alex saat ditemui di daerah Banjarsari Solo, Rabu (16/7). Alex adalah salah satu dari sedikit penjual kue putu yang masih bertahan di tengah arus modernisasi kuliner. 

Di tengah suasana sore yang cerah, terdengar suara “tuuut” dari cerobong uap sebuah gerobak yang sudah akrab di telinga banyak orang sebagai penanda hadirnya kue putu.

TRIBUNJAMBI.COM - Alex (54), menjadi salah satu dari sedikit penjual kue putu yang tetap bertahan di tengah gempuran berbagai jenis jajanan modern.

Selama lebih dari tiga dekade, pria ramah ini berkeliling menjajakan kue putu khas Wonogiri secara mandiri, meneruskan usaha keluarga yang telah diwariskan sejak generasi sebelumnya.

“Dulu waktu saya mulai jualan tahun 1995, harganya masih 50 rupiah. Sekarang ya sudah beda,” tuturnya sambil tersenyum.

Di awal berjualan, Alex masih memikul dagangannya dan menggunakan minyak tanah untuk mengukus kue putu.

Kini, alat yang digunakan beralih ke gerobak dorong dengan kompor gas.

Meskipun peralatan telah berubah, cita rasa dan semangat dalam membuat kue tetap dipertahankan.

Kue putu yang dijualnya dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti tepung beras, kelapa parut, dan gula merah, namun sentuhan tangan serta nilai tradisi membuat jajanan ini tetap istimewa.

“Saya habiskan sekitar 2 kilogram adonan sehari, jadi 350 kue, satunya seribu jadi ya dapet 350an ribu,” ujarnya, Rabu (16/7/2025).

Setiap pagi, Alex menyiapkan bahan dagangannya, lalu mulai berkeliling menjajakan kue putu dari pukul 1 siang hingga 9 malam, khususnya di wilayah Banjarsari, Solo.

Suara khas “tuuut” dari pipa uap gerobaknya menjadi penanda yang tidak tergantikan.

Jika sebelumnya suara itu dihasilkan dari sambungan bambu, kini sudah menggunakan cerobong alumunium.

“Itu tandanya, kalau ada suara ‘tuuut’, berarti putunya siap,” jelas Alex sambil menunjukkan cerobong kecil yang terpasang di ujung gerobaknya.

Meski dalam dua tahun terakhir Alex juga bekerja sebagai kuli bangunan demi tambahan penghasilan, ia tetap setia berjualan kue putu.

Ia mengungkapkan bahwa harga bahan baku, terutama kelapa, terus mengalami kenaikan.

Saat ini harga kelapa mencapai Rp18 ribu, padahal dulu hanya sekitar Rp8 ribu.

Lewat usaha ini, Alex mampu menghidupi istri dan anak semata wayangnya yang kini telah berkeluarga.

Walaupun anaknya belum menunjukkan keinginan meneruskan usaha kue putu ini, Alex berharap tradisi tersebut tidak berhenti hanya sampai di dirinya.

 

(mg tribunnews/rifqi fawwaz rijandra)

 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul 20 Tahun Alex Menjajakan Kue Putu Khas Wonogiri: Dulu Harganya Rp50

 

Baca juga: Netanyahu Tetap Buron setelah ICC Tolak Permohonan Israel Cabut Surat Penangkapan

Baca juga: 43 Tentara Israel Akhiri Hidup sejak Konflik di Gaza, 15 Ribu Lainnya Alami Cedera Mental

Baca juga: Kakek Penjaja Mainan itu Tergeletak tak Bernyawa di Teras Ruko Kota Jambi Tadi Subuh

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved