Berita Viral

Beda Jauh dengan Pertamina, 2 Direktur Shell Ini Pilih Undur Diri demi Perkembangan Perusahaan

Ya, dua mereka adaah Huibert Vigeveno (51) menjabat sebagai Direktur Utama Gas Terintegrasi sejak tahun 2020, sedangkan Zoe Yujnovich (48) sebagai

Penulis: Tommy Kurniawan | Editor: Tommy Kurniawan
ist
Baru-baru ini perusahaan energi global, Shell, jadi sorotan usai dua direktur utamanya mendadak mengundurkan diri. Ya, dua mereka adaah Huibert Vigeveno (51) menjabat sebagai Direktur Utama Gas Terintegrasi sejak tahun 2020, sedangkan Zoe Yujnovich (48) sebagai Direktur Utama Hulu. 

TRIBUNJAMBI.COM - Beda dengan Pertamina di Indonesia, meski pejabatnya sudah tersangkut korupsi besar tetap bertahan, tidak mau mengundurkan diri hingga tak kunjung dipecat.

Baru-baru ini perusahaan energi global, Shell, jadi sorotan usai dua direktur utama mereka mendadak mengundurkan diri.

Ya, dua mereka adaah Huibert Vigeveno (51) menjabat sebagai Direktur Utama Gas Terintegrasi sejak tahun 2020, sedangkan Zoe Yujnovich (48) sebagai Direktur Utama Hulu.

Dilansie dari laman Shell Global, Kamis (6/3/2025), Zoe Yujnovich mengundurkan diri pada setelah lebih dari satu dekade bergabung dengan perusahaan tersebut.

Imbas pengunduran diri keduanya, Shell menunjuk Cederic Cremers sebagai Presiden Gas Terintegrasi dan Oeter Costelo sebagai Presiden Hulu menggantikan sebelumnya.

Dikatakan CEO Shell, Warl Sawan, langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan menyederhanakan struktur kepemimpinan.

"Ke depan, kami akan mengurangi bagian struktur kepemimpinan tertinggi kami, yang bisa mencerminkan tiga bidang utama nilai bisnis - Gas Terpadu; Hulu; serta Hilir, Energi Terbarukan, dan Solusi Energi, sekaligus meningkatkan peran Perdagangan dan Pasokan," ujar Wael Sawan kepada Reuters, Rabu (5/3/2025). 

Baca juga: 2800 Rumah di Pekanbaru Riau Dilanda Banjir,Penyakit Gatal Mulai Serang Warga,14 Ribu Jiwa Terdampak

Baca juga: Heboh Patung Penyu Kardus Rp 15 Miliar di Sukabumi, Rekanan: Hanya Rp 30 Juta

Dalam upaya mengoptimalkan bisnisnya, Shell telah melakukan tinjauan strategis sejak 2023 untuk memangkas biaya dan memfokuskan investasi pada sektor dengan keuntungan tertinggi.

Salah satu keputusan besar adalah memisahkan Shell Energy—divisi yang mencakup energi terbarukan, pembangkit listrik, dan pasokan pelanggan—menjadi dua unit terpisah yang berfokus pada pembangkit listrik dan perdagangan.

Selain itu, perusahaan berencana mengintegrasikan direktorat Proyek dan Teknologi ke dalam lini bisnisnya pada paruh pertama 2026. 

Perubahan lainnya adalah pergantian gelar bagi pemimpin eksekutif Shell, yang mulai 1 April 2024 akan menggunakan gelar "Presiden", menggantikan gelar "Direktur" yang sebelumnya digunakan.

Upaya Shell untuk fokus pada tiga bidang utama bisnis: Integrated Gas, Upstream, dan Downstream, Renewables, dan Energy Solutions.

Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing di tengah perubahan lanskap industri energi global yang semakin kompleks dan kompetitif.

"Menunjukkan komitmen Shell terhadap transformasi energi dan transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan."

Pengumuman tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan strategi Shell dan dampaknya terhadap pasar energi global. 

Kedua eksekutif tersebut telah memberikan kontribusi signifikan selama bertahun-tahun berkarier di perusahaan minyak dan gas raksasa ini.

Huibert Vigeveno, Direktur Hilir, Energi Terbarukan, dan Solusi Energi, telah mengabdi selama 30 tahun di Shell.

Sementara itu, Zoë Yujnovich, Direktur Gas Terpadu dan Hulu, telah berkontribusi lebih dari satu dekade.

Keduanya menyatakan keinginan untuk mengejar peluang lain di luar Shell.

Sosok keduanya.

1.Huibert Vigeveno

Dikutip dari shell.com, Huibert Vigeveno (51) memulai kariernya di Shell pada tahun 1995 sebagai Analis Bisnis.

Selama lebih dari dua dekade, ia meniti karier dengan berbagai posisi penting. 

Sebelum diangkat sebagai Direktur Hilir Shell pada 1 Januari 2020, ia menjabat sebagai EVP Global Commercial, yang bertanggung jawab atas organisasi B2B Shell yang meliputi bisnis Pelumas, Penerbangan, dan Spesialisasi (Bitumen dan Sulfur).

Huibert Vigeveno juga memimpin integrasi BG Group, akuisisi terbesar Shell dalam lebih dari satu abad, dan menjabat sebagai Ketua Eksekutif Shell di Tiongkok.

Pengalamannya mencakup berbagai bidang di Shell, termasuk Kimia, Shell Capital, LPG dan Pelumas, serta sebagai Wakil Presiden Pasokan dan Distribusi, Eropa & Afrika. 

Karier internasionalnya telah membawanya ke Inggris, Belanda, AS, Meksiko, Brasil, dan Tiongkok.

Keahliannya dalam penjualan, pemasaran, dan manajemen umum telah menjadi aset berharga bagi Shell.

Pada November 2021, ia bergabung dengan Shell Foundation sebagai Wali Amanat.

Vigeveno meraih gelar Magister Administrasi Bisnis dari Universitas Erasmus di Rotterdam. 

Ia fasih berbicara dalam tujuh bahasa. 

Kombinasi pengalaman internasional, kemampuan manajerial, dan penguasaan bahasa menunjukkan kemampuan adaptasi dan kepemimpinan yang kuat.

2. Zoë Yujnovich

Sementara, Zoë Yujnovich (48) resmi bergabung dengan Shell sejak tahun 2014 dari Rio Tinto.

Ia ditugaskan untuk memimpin bisnis Pasir Minyak Shell di Kanada.

Sejak itu, ia memegang berbagai posisi manajemen senior di Hilir, Gas Terpadu, dan Hulu.

Sebelum pengunduran dirinya, ia menjabat sebagai Direktur Gas Terpadu dan Hulu.

Salah satu posisi penting yang pernah diembannya adalah Wakil Presiden Eksekutif Minyak & Gas Konvensional.

Zoë Yujnovich juga pernah menjabat sebagai Ketua dan Wakil Presiden Eksekutif Shell Australia Pty Ltd.

Pengalamannya di berbagai sektor dan wilayah geografis menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan mengelola operasi yang kompleks di lingkungan yang dinamis.

Pengalaman profesionalnya yang luas menunjukkan keahlian dan kompetensi yang tinggi dalam industri energi.

Jejak kariernya yang sukses di Shell dan Rio Tinto menjadi bukti kemampuannya dalam memimpin dan mencapai hasil yang signifikan.

Profil Presiden Baru (Sebelumnya Direktur)

Cederic Cremers, sebelumnya sebagai Wakil Presiden Eksekutif, Liquefied Natural Gas pada Agustus 2021. Perannya diperluas pada 2024 untuk mencakup aset Gas to Liquids milik Shell.

Ia bergabung dengan bisnis Ritel Shell pada 2002 dan telah memegang berbagai peran keuangan dan komersial di seluruh bisnis hulu dan hilir Shell, termasuk General Manager, Shell Chemicals Europe; Wakil Presiden, Pengembangan Bisnis Komersial dan Baru, Asia; dan Wakil Presiden Eksekutif dan Country Chair, Rusia.

Cederic adalah warga negara Belanda dan memegang gelar Master di bidang Ekonomi Bisnis dari Universitas Erasmus.

Sementara, Peter Costello sebelumnya sebagai Wakil Presiden Eksekutif, Minyak dan Gas Konvensional pada November 2021.

Peter bergabung dengan Shell pada 2016 sebagai Wakil Presiden, Nigeria dan Gabon setelah perusahaan tersebut bergabung dengan BG Group.

Peter Costello memegang berbagai peran senior yang tersebar di berbagai wilayah di Hilir, Tengah, dan Hulu, termasuk Presiden dan Country Head, Kazakhstan.

Karier Peter dimulai di bekas British Gas. Dia adalah warga negara Inggris dan memegang gelar Sarjana Sains & Teknologi Material dan gelar MBA dari Universitas Southampton.

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved