Rabu, 29 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Musim Durian di Jambi

Buah Durian dan Budaya Melayu Jambi, Alasan Banyak Nama Daerah Pakai Kata Duren

Sejak zaman dahulu, buah durian juga telah menjadi simbol di sejumlah daerah bahkan dijadikan nama sebuah wilayah.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: tribunjambi | Editor: Duanto AS
Tribun Jambi
Penjual durian di kawasan Tugu Juang, Kota Jambi, Selasa (21/1/2025). 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) produksi durian di Provinsi Jambi pada 2023 sebanyak 263.432 kuintal.

Angka tersebut menunjukan bahwa Provinsi Jambi memiliki ratusan hektare kebun durian di seluruh wilayah.

Sejak zaman dahulu, buah durian juga telah menjadi simbol di sejumlah daerah bahkan dijadikan nama sebuah wilayah.

Seperti di Kabupaten Muaro Jambi, terdapat desa yang bernama Desa Sungai Duren, Desa Simpang Sungai Duren, dan Desa Sipin Teluk Duren.

Begitu juga di Batanghari juga terdapat kelurahan yang bernama Durian Luncuk.

Selain itu, Jambi juga memiliki makanan khas yang berasal dari olahan durian yakni Tempoyak.

Desa di Kabupaten Batanghari, yakni Desa Teluk, Kecamatan Pemayung, bahkan mengadakan Festival Durian Teluk 2025 pada 7 Januari lalu.

Budaya Melayu Jambi juga tak dapat dilepaskan dari buah durian, ada satu seloko yang menyebutkannya sebagai berikut.

"Negeri aman padi menjadi aek bening ikannyo jinak rumput mudo kerbaunya gemuk ke aek cemetik keno ke darat durian gugur".

Menurut Sastrawan Jambi, Dwi Rahariyoso, seloko tersebut menggambarkan kesejahteraan Jambi.

"Kalau dalam tambo dan juga sejarah masyarakat, ada salah satu frasa yang berbasis pada buah durian, yakni "durian ditakuak rajo" sebagi batas wilayah kabupaten Bungo dengan provinsi Sumatra Barat," tuturnya.

"Dalam konteks tersebut, secara umum nampak bahwa durian punya manifestasi kebudayaan di wilayah Melayu," tambah Dwi Rahariyoso.

Metafora Durian

Namun, secara lebih dalam, kaitan antara Budaya Melayu Jambi dengan buah durian masih samar, karena sejauh ini durian hanya dijadikan metafora dan ikon saja.

"Secara diskursus, sejauh ini durian hanya dijadikan metafora dan ikon saja. Penjelasan lebih mendalamnya masih samar, bahkan sangat interpretatif," tegasnya.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved