Rabu, 8 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Jambi

Dosen Jurnalistik Islam UIN STS Jambi Soroti Dilema Profesi Wartawan

- Dosen Jurnalistik Islam Fakultas Dakwah UIN STS Jambi, Muhammad Al Hafizh mengungkapkan, berbagai tantangan yang dihadapi oleh para jurnalis,

Penulis: Rifani Halim | Editor: Rohmayana
Tribunjambi.com/ Rifani Halim
Dosen Jurnalistik Islam UIN STS Jambi Soroti Dilema Profesi Wartawan 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Dosen Jurnalistik Islam Fakultas Dakwah UIN STS Jambi, Muhammad Al Hafizh mengungkapkan, berbagai tantangan yang dihadapi oleh para jurnalis, khususnya mereka yang bekerja di media lokal. 

Menurut Hafizh, profesi ini sering dihadapkan pada tanggung jawab besar dengan jam kerja yang tidak kenal waktu. 

"Kadang, wartawan harus standby 24 jam untuk meliput berita, terutama jika ada peristiwa mendadak seperti kecelakaan atau bencana," jelasnya.  

Namun, ia menyoroti bahwa gaji yang diterima sering kali tidak sebanding, bahkan sebagian jurnalis tidak memiliki gaji dengan beban kerja yang berat. 

"Wartawan lokal, misalnya, terkadang baru menerima gaji tiga bulan sekali dalam bentuk rapel. Hal ini jelas menyulitkan mereka dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari," tambahnya.  

Selain itu, ia menekankan risiko yang harus dihadapi para jurnalis saat bertugas. 

"Banyak teman-teman jurnalis yang harus meliput di tengah ancaman atau situasi berbahaya tanpa perlindungan yang memadai. Bahkan, alat kerja seperti kamera dan kendaraan sering kali menggunakan milik pribadi tanpa kompensasi dari perusahaan," ujarnya.  

Baca juga: Ketua AJI Jambi: Banyak Media Belum Penuhi Upah Layak untuk Jurnalis

Baca juga: 2 Jurnalis Asing Foto Bareng OPM, Jubir: Mendukung Perjuangan Bangsa Papua, Merdeka?

Menurutnya, profesi jurnalis adalah profesi yang bekerja untuk masyarakat, memberikan informasi yang akurat dan penting. Namun, ironisnya, jaminan sosial seperti asuransi kesehatan atau tunjangan kerja masih jarang mereka dapatkan.  

"Inilah dilema yang dihadapi para wartawan, terutama wartawan lokal di daerah. Mereka bekerja di garis depan demi kepentingan publik, tetapi hak-hak mereka masih banyak yang terabaikan," pungkasnya.

Selain itu, sejumlah mahasiswa tidak diperbolehkan menjadi jurnalis karena isu kesejahteraan telah sampai ke telinga orang tua. Hal ini tentunya akan mengancam kelangsungan hidup media karena mahasiswa jurnalistik lebih memilih menjadi pekerja media sosial ketimbang media massa yang memiliki peran penting dalam demokrasi.  (Tribunjambi.com/Rifani Halim)

Dapatkan Berita Terupdate Tribunjambi.com di Google News

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved