Ekonom Beberkan Kenaikan Harga Beras Dipicu Bansos

Harga beras masih mengalami kenaikan. Harga beras premium misalnya, naik sebesar Rp370 per kilogram (kg) menjadi Rp16.850 per kg dibandingkan harga

Editor: Suci Rahayu PK
Tribun Jambi
Ilustrasi beras 

TRIBUNJAMBI.COM - Harga beras masih mengalami kenaikan.

Dikutip dari laman Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga beras di tingkat nasional masih tinggi.

Harga beras premium misalnya, naik sebesar Rp370 per kilogram (kg) menjadi Rp16.850 per kg dibandingkan harga pada Rabu (13/3/2024).

Sementara harga beras medium naik sebesar Rp70 per kg menjadi Rp14.430 per kg.

Penyebab kenaikan harga beras

Ekonom senior, Agustinus Prasetyantoko, menyebut kenaikan harga beras disebabkan pembagian bantuan sosial (bansos) oleh pemerintah yang begitu intens, mengganggu distribusi.

Prasetyantoko menjelaskan, beras, sama seperti komoditas lainnya, harganya dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan atau supply and demand.

Baca juga: Anies-Muhaimin Siapkan 1.000 Pengacara, Prabowo-Gibran Siapkan 36 Pengacara

Baca juga: Terungkap, KPU Paparkan Unsur Dugaan Kesengajaan Pergeseran Suara Pemilu 2024 di Sarolangun

"Tapi ada satu aspek lain yaitu distribusi. Saya kira ini yang terpengaruh oleh bansos. Kalau dibilang beras itu ada dan tersedia, secara teoritis barang itu ada. Tetapi kenapa mahal? Itu problemnya di distribusi," katanya dalam program ROSI yang ditayangkan Kompas TV, Kamis (14/3/2024) malam.

"Salah satu kemungkinannya karena memang kemarin konsentrasinya dibagi untuk bansos. Dan bansos ini bisa dibilang salah satu alat politik yang penting dalam pemilu."

Ia mengatakan, bansos tidak hanya program yang dilaksanakan pemerintah. Tapi juga digunakan sebagai amunisi kampanye oleh para calon anggota legislatif.

"Jadi kira-kira kalau mau disederhanakan, suplai itu ada tapi konsentrasinya untuk kepentingan elektoral," katanya.

Prasetyantoko kemudian menjelaskan, bansos yang digunakan sebagai alat politik memang biasa terjadi pada pemerintahan mana pun.

Akan tetapi sekarang, menurut dia, intensitas bansos yang diberikan lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya sehingga mengganggu distribusi dan tidak diantisipasi sehingga mengakibatkan harga beras naik.

"Kalau kita lihat perspektif yang lebih luas bahwa yang namanya politik elektoral itu selalu digunakan oleh setiap rezim, di setiap pemilu, dan mungkin di semua negara, cuma intensitas yang berbeda," lanjutnya.

"Nah kali ini sangat mungkin intensitasnya tinggi dan karena itu mungkin kemudian mengganggu distribusi. Saya kira ini problem-problem kemudian agak teknokratis dalam arti kepastian instrumen-instrumen itu memastikan bahwa barang itu ada selain untuk kepentingan elektoral," tuturnya.

 


Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Cek 6 Zodiak Bernasib Baik Besok Sabtu 16 Maret 2024: Taurus, Scorpio, Sagitarius hingga Aquarius

Baca juga: Jadwal Acara NET TV Hari ini Jumat 15 Maret 2024: Makan Enak dan Bahagia Lansung Tunai

Baca juga: Terungkap, KPU Paparkan Unsur Dugaan Kesengajaan Pergeseran Suara Pemilu 2024 di Sarolangun

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved