Berita Jambi

Datangkan Helianti Hilman ke KCBN Muarajambi, Lewat Kuliner untuk Hidupkan Ekosistem

Dirjen Kebudayaan, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPK) V men

Penulis: A Musawira | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
ist
Kemendikbudristek) melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPK) V mendatangkan Helianti Hilman ke Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Dirjen Kebudayaan, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPK) V mendatangkan Helianti Hilman ke Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi.

Perempuan asal Jember, Jawa Timur itu sengaja didatangkan ke KCBN Muarajambi untuk penguatan ekosistem keanekaragaman hayati kuliner khas dilingkungan situs bersejarah ini.

Dirinya sukses mendirikan Javara Academy yang berfokus terhadap sekolah dan pemberdayaan petani.

Dengan begitu melalui gastronomi, dirinya mengajarkan ibu-ibu di lingkungan KCBN Muarajambi yang sudah bergelut dalam makanan khas tradisional.

Mereka diantaranya dari anggota Pasar Dusun Karet (Paduka) beserta perwakilan dari kaum perempuan yang berada dalam KCBN Muarajambi.

Kepala BPK Wilayah V, Agus Widiatmoko menuturkan kegiatan ini baru perkenalan awal, belum masuk kepada pelatihan. Tapi, pihaknya akan mengagendakan pelatihan hingga nanti melakukan studi komparasi untuk mengenal perbandingan dari daerah lain.

“Ini ekosistem KCBN Muarajambi, itu ada para pelaku UMKM yang sebelumnya disebut para pedagang. Selain Pelaku UMKM nanti juga ada ekosistem petani dan sebagainya. Program ini 1 tahun berjalan,”

“Khusus pelaku UMKM ini mulai Rabu kemarin kita mendatangkan ahli gastronomi, seniman pangan, ahli brending produk dan ahli tentang sejarah pangan,” katanya pada Sabtu (9/3/2024) dikonfirmasi Tribunjambi.com.

Agus berujar tujuan dari kegiatan ini semata-mata meningkatkan kapasitas para pelaku UMKM tentang pentingnya pangan. Sebab, setiap makanan punya cerita atau punya narasi yang khas.

“Bukan berarti sumber pangan langsung dibuat makanan untuk dijual begitu saja, tentu tidak. Misalnya tentang masakan gangan palapa. Masakan ini berbahan utama ikan toman yang diambil dari Sungai Batanghari. Nah, sungai ini dari sisi sejarah merupakan jalur transportasi peradaban masa lalu. Ikan toman ini juga diambil dengan teknologi tradisional masyarakat. Kemudian bumbu-bumbunya juga ada narasi dan cerita,” tuturnya.

Cerita yang dibangun ini nantinya menjadi branding yang menjelaskan tentang makanan di Jambi bukan sekedar sebagai kuliner tetapi mempunyai riwayat sejarah yang panjang. Terakit budaya masyarakat setempat termasuk di dalamnya ada teknologi tradisional dan pengetahuan tradisional.

“Ini contoh ya, tadi kita punya temu pauh, selama ini tanaman itu hanya untuk lalapan ya, seolah-olah tak ada gunanya, ternyata temu pauh ini dipraktikkan menjadi minuman jus. Ternyata enak sekali, artinya ini layak untuk ditampilkan menjadi minuman berkelas,” jelasnya.

Langkah awal mempelajari gastronomi, diharapkan berbuah manis sehingga delapan desa yang berada di lingkungan KCBN Muarajambi punya spesifikasi dan punya branding sendiri.

“Karena ini disebut ekosistem KCBN Muarajambi jadi bahan gastronomi ini dari kebun, nanti petaninya juga dilatih untuk menanamnya sebaik mungkin. Kalau mau dijadikan wisata, wisatawan juga diajak ke lokasi tanam dan pusat makanannya yaitu di Paduka KCBN Muarajambi. Jadi ekosistem ini tidak terputus, satu sama lain saling punya keterkaitan,” pungkasnya.

Baca juga: BWSS VI Jambi Segera Normalisasi 20 Km Kanal Purba di KCBN Muarajambi

Baca juga: Menapo di KCBN Muaro Jambi dari Abad ke 9 Masehi, Peneliti Arkeologi: Dipugar Harus Cermat

Baca juga: Mengunjungi Menapo di KCBN Muarojambi, Ada Batang Duku yang Berdiri di Atas Reruntuhan Candi

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved