Pilpres 2024

Jabatan Menteri Prabowo-Gibran Jadi Rebutan?, Politisi Golkar: Posisi Terbatas, Tak Guna Gabung

Politisi Partai Golkar ingatkan tidak adanya gunanya bergabung dengan Prabowo-Gibran jika hanya mengejar kursi menteri, sebab posisi menteri terbatas.

|
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Ist
Politisi Partai Golkar mengingatkan bahwa tidak adanya gunanya bergabung dengan Prabowo-Gibran jika hanya mengejar kursi menteri, sebab posisi tersebut terbatas jumlahnya. 

Dalam koalisi tersebut, Menteri Pertahanan dan Wali Kota Solo itu diusung delapan partai meliputi empat partai yang saat ini memiliki kursi di DPR RI dan empat lainnya, partai baru dan nonparlemen.

TRIBUNJAMBI.COM - Politisi Partai Golkar mengingatkan bahwa tidak adanya gunanya bergabung dengan Prabowo-Gibran jika hanya mengejar kursi menteri, sebab posisi tersebut terbatas jumlahnya.

Seperti diketahui bahwa pasangan nomor urut 02 di Pilpres 2024 itu diusung oleh Koalisi Indonesia Maju.

Dalam koalisi tersebut, Menteri Pertahanan dan Wali Kota Solo itu diusung delapan partai.

Delapan partai itu meliputi empat partai yang saat ini memiliki kursi di DPR RI, yakni Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai Amanat Nasional.

Sementara empat lainnya, partai baru dan nonparlemen, yakni Partai Solidaritas Indonesia, Partai Gelora, Partai Bulan Bintang, dan Partai Garuda.

Dengan jumlah partai dalam koalisi terseut, DPP Partai Golkar mengingatkan kementerian di kabinet sangat terbatas.

Sehingga untuk partai di luar Koalisi Indonesia Maju yang ingin bergabung di pemerintahan selanjutnya tidak kecewa jika tak mendapat jatah menteri.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Firman Soebagyo mengakui kerja sama dalam membangun bangsa sangat penting.

Akan tetapi bukan berarti jika telah gabung ke pemerintah, harus mendapatkan posisi.

Baca juga: Pengamat Prediksi Ketum Megawati Bakal Cabut Menteri PDIP dari Kabinet: Hukuman Politik ke Jokowi

Baca juga: Daftar 7 Menteri PDIP yang Diprediksi Bakal Ditarik Megawati dari Kabinet Jokowi

Baca juga: Ajudan Prabowo Setia Temani Nikita Mirzani Berobat, Netizen Malah Minta Rizky Irmansyah Hati-hati

Semakin banyak unsur yang bergabung, artinya semua harus menyadari ada keterbatasan posisi yang harus diisi dalam kabinet pemerintahan nanti.

Menurutnya hal tersebut tidak disadari oleh partai yang ingin bergabung, konsep penggabungan nantinya berakhir menjadi tidak efektif dan efisien.

"Oleh karena itu, penggabungan ini proporsional saja begitu. Tetapi, semua harus bersepakat untuk itu. Kalau kita bicara konsepnya itu efisiensi dan efektivitas, ya, tidak ada gunanya kalau bergabung itu tujuannya adalah semuanya kepengin jadi menteri," ujar Firman saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (24/2/2024). Dikutip dari Kompas.id.

Firman menambahkan pembagian "kue" kekuasaan tidak melulu harus di kementerian, tetapi bisa di banyak tempat lain. Mereka bisa berpartisipasi melalui legislatif, dunia usaha, atau bahkan di sektor yudikatif.

Di isi lain Firman juga tidak sepakat apabila kekritisan parpol di parlemen nanti, menjadi berkurang karena telah bergabung dalam koalisi parpol pendukung pemerintah.

Ia menilai meski berada di pemerintahan, parpol tersebut juga boleh mengkritik kebijakan pemerintahan selama isinya obyektif, konstruktif, dan proporsional.

"Kalau menteri itu melakukan kebijakan yang salah, kita diam, tidak seperti itu. Check and balances itu, tetap penting." ujar Firman.

Baca juga: Tim Gakkumdu Proses Dugaan Pelanggaran Pidana di 3 Lokasi, PSU 12 TPS di Provinsi Jambi Selesai

Begitu pula bagi partai yang bakal menjadi oposisi. Menurut Firman tidak baik pula jika kemudian mereka ingin menjatuhkan kekuasaan atau pemerintahan. Namun, mereka cukup memberikan peringatan.

"Jangan berlebihan. Jangan dikit-dikit hak angket. Indonesia ini negara yang sangat besar, dengan kemajuan yang sedemikian rupa dan besar. Nah, itu yang harus kita jaga. Jangan semua dibesar-besarkan karena perbedaan pendapat," ujar Firman.

Adapun Koalisi Indonesia Maju yang mengusung pasangan Prabowo-Gibran terdiri dari delapan partai, meliputi empat partai yang saat ini memiliki kursi di DPR, yakni Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai Amanat Nasional.

Empat lainnya, partai baru dan nonparlemen, yakni Partai Solidaritas Indonesia, Partai Gelora, Partai Bulan Bintang, dan Partai Garuda.

Saat menyampaikan pidato kemenangan di Pilpres 2024, Rabu (14/2/2024), Prabowo menyampaikan keinginannya merangkul semua unsur.

Hal ini kemudian ditindaklanjuti dengan adanya pendekatan ke partai politik pengusung capres-cawapres pesaing Prabowo-Gibran, yakni Ganjar Pranowo-Mahfud MD dan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, untuk bergabung. Ada lima partai pengusung kedua pasangan calon itu, PDI-P, PPP, Nasdem, PKB, dan PKS.

Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Viral Pengendra Motor Cekcok dengan Pengemudi Mobil karena Buang Puntung Rokok Sembarangan

Baca juga: Arsenal 4-1 Newcastle: The Gunners Terpaut Dua Poin dari Liverpool

Baca juga: Daftar 7 Menteri PDIP yang Diprediksi Bakal Ditarik Megawati dari Kabinet Jokowi

Baca juga: Pengamat Prediksi Ketum Megawati Bakal Cabut Menteri PDIP dari Kabinet: Hukuman Politik ke Jokowi

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved