LIPUTAN KHUSUS

Kepala Seperti Ular Kobra, Harga Ikan Chana Puluhan Ribu hingga Jutaan Rupiah

Ikan yang kepalanya mirip ular ini masih cukup digemari kolektor, hingga penangkapannya di alam liar menjadi mata pencaharian masyarakat

Penulis: tribunjambi | Editor: Duanto AS
TRIBUN JAMBI
Tribun Jambi Edisi Jumat, 9 Februari 2024 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI -  Ikan Chana atau snakehead emperor atau yang biasa dikenal dengan sebutan ikan gabus hias, sedang menjadi trend di Jambi sejak beberapa waktu terakhir.

Para pecinta dan kolektor menjadikan ikan jenis ini koleksi, hingga harganya bervariasi dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Ikan yang kepalanya mirip ular ini masih cukup digemari kolektor, hingga penangkapannya di alam liar menjadi mata pencaharian masyarakat.

Kolektor ikan hias yang kini juga menjadi penjual ikan hias di kawasan Pasar TAC, Hardiansyah, menuturkan sekarang ini banyak orang yang memiliki hobi baru mengoleksi ikan Chana.

"Ikan ini belum bisa dibudidayakan, jadi harus dicari di alam," ujarnya Selasa (6/2). Pasokan diperoleh dari masyarakat yang mencari di alam.

Dia mengatakan ikan ini banyak ditemukan di sungai-sungai di Indonesia, termasuk di Jambi. Bahkan, Jambi banyak memiliki sembilan jenis ikan tersebut.

"Di Jambi ada sembilan jenis Channa yang dijadikan ikan hias," ujarnya.

Selain di Indonesia, ikan jenis predator ini juga di temukan di beberapa negara ASEAN, bahkan Asia, seperti di Tiongkok, India Vietnam hingga Myanmar.

Ikan Channa dari luar negeri ini pun banyak diminati kolektor ikan Indonesia, termasuk Jambi.

Hardiansyah mengatakan para kolektor menyukainya karena corak tubuh yang unik. Selain itu, bentuk badan berkarakter unik, seperti mental ikan predator.

"Layaknya ikan predator yang banyak dijadikan hias, Channa ini memiliki karakteristik yang unik," ujarnya

Harga hingga jutaan

Harga ikan Chana bervariasi, mulai Rp10 ribu hingga jutaan rupiah.

Menurut Hardiansyah, tinggi rendah harga tergantung beberapa faktor, bukan hanya berdasarkan karakteristik dan corak, tapi juga ketersediaan ikan di pasaran.

"Jadi jika ikan tersebut coraknya bagus, karakternya bagus, namun jumlahnya cukup banyak, maka harganya bisa rendah," ujarnya.

"Namun jika ikan tersebut langkah, baik dari segi jenis, corak hingga karakteristik, apalagi menang kontes, harganya bisa sangat mahal," lanjut Hardiansyah.

Pemeliharaan mudah

Ada beberapa hal yang menyebabkan ikan air tawar ini dikoleksi orang.

Untuk memelihara ikan Channa cukup mudah dan tidak memerlukan peralatan komplit layaknya ikan hias lain.

Pemeliharaannya tidak membutuhkan pompa hingga aerator.

"Ikan ini cukup tahan, sehingga tidak memerlukan pompa hingga aerator," ujar Hardian.

Namun, tempat pemeliharaannya harus ditutup, karena karakteristik ikan predator ini suka melompat.

Layaknya ikan predator, ikan Channa biasa ditempatkan sendiri di dalam akuarium, apalagi yang berasal dari tanggapan langsung dari alam.

Sementara untuk ikan Channa hasil budidaya, dalam satu aquarium bisa ditempatkan beberapa ikan, namun dengan perlakuan khusus.

"Jadi kalau hasil budidaya, bisa beberapa ikan dalam satu akuarium, namun ukuran ikan hingga pakan harus benar-benar diperhatikan. Kalau tidak, akan timbul sifat kanibal," ujar Hardiansyah

Saat ini, pamor ikan Channa sudah mulai menurun dan harganya sudah tidak setinggi pada awal kemunculannya dahulu. Namun, ikan itu masih banyak dicari orang untuk koleksi.

Perburuan masif

Iktiolog (ahli tentang ikan) yang juga Dosen Universitas Jambi, Dr Tedjo Sukmono, mengatakan ikan gabus hias yang masuk famili Channidae itu sampai sekarang masih belum bisa dibudidayakan.

"Famili Channidae yang sudah bisa dibudidayakan itu baru Channa striata atau gabus konsumsi. Selebihnya belum bisa," ujarnya Kamis (8/2).

Hal tersebut membuat membuat penangkapan ikan yang hidup di rawa hutan itu menjadi objek perburuan yang masif.

Namun, Tedjo mengatakan ikan Channa bukan merupakan hewan yang dilindungi, jadi masih bebas untuk ditangkap di alam liar.

"Status Channa ini masih 'sedikit diperhatikan', belum sampai dilindungi," ujarnya

"Namun, jika terjadi penangkapan dalam jumlah yang besar dan masif, bukan tidak mungkin statusnya dinaikkan," lanjut Tedjo.

Sejak Covid-19

Komunitas pecinta ikan hias Channa cukup banyak di Jambi. Hardiansyah, kolektor ikan hias, mengatakan komunitas itu sudah ada di setiap kabupaten di Provinsi Jambi. Bahkan di Kota Jambi ada delapan komunitas.

"Komunitasnya cukup banyak ya, hingga ke kabupaten," ujarnya Selasa (6/2).

Dia mengatakan kini popularitas ikan hias Channa memang sudah sedikit menurun ketimbang beberapa tahun yang lalu.

Namun, masih banyak yang memelihara. "Channa ini boming saat pandemi Covid-19 lalu, sekarang memang agak sedikit menurun," ujarnya.

Meski tidak se-hits dahulu, kontes ikan Channa masih digelar sampai kini.

"Kalau untuk kontes sudah sering sekali ya, dalam waktu dekat ini akan di adakan di Lippo Mal," lanjutnya.

Belum Bisa Dibudidayakan

Iktiolog yang juga Dosen Universitas Jambi, Dr Tedjo Sukmono, mengatakan Channa atau snakehead emperor, atau yang dikenal dengan sebutan ikan gabus hias, masuk dalam famili Channidae.

Ciri kepalanya seperti ular, bahkan ada yang seperti ular kobra,

Famili Channidae atau keluarga Channa yang paling besar adalah toman, yang beratnya bisa mencapai 6-9 kilogram per ekor.

Kalau Channa hias, panjangnya bisa sampai 50 sentimeter.

Di alam liar, ikan Channa merupakan top predator, sehingga makanannya tidak hanya ikan kecil.

Dia bisa mengonsumsi belalang hingga kodok. Untuk kasus tertentu, ikan yang sudah berukuran besar bisa memangsa monyet yang sedang berada di pinggir air.

Dari segi sifat, Channa merupakan ikan yang memiliki teritorial atau menjaga wilayah kawasannya.

Dia akan agresif ketika ada yang memasuki kawasan. Namun, dia bukan termasuk ikan aduan.

Alat ikan Chana memiliki alat pernapasan yang berlabirin atau alat napas tambahan, sehingga bisa bernapas langsung di udara.

Ikan jenis ini biasa di sebut walk fish,bisa melompat ke darat dan berpindah ke perairan lain.

Daya tahan hidupnya di darat bisa mencapai enam jam.

Di Jambi pembesaran Bujuk dan Toman banyak di wilayah Manis Mato dan Kemingking, Kabupaten Muarojambi.

Sementara itu, untuk gabus hias, masih dilakukan penangkapan langsung dari alam.

Ikan Channa atau gabus hias habitatnya berada di rawa rawa yang berada di dalam hutan Ikan jenis itu tidak akan di temukan di sungai besar seperti Batanghari.

Untuk berkembang biak, ikan tersebut membutuhkan rumput untuk dijadikan sarang.

Jadi memang membutuhkan usaha lebih untuk mendapatkan ikan gabus hias ini.

Hanya Channa Striata atau gabus konsumsi yang bisa dibudidayakan, selebihnya belum ada teknologinya.
Untuk famili Channidae lainnya, hanya sebatas pembesaran saja.

Pebudi daya ikan menangkap anakan yang ada di alam, lalu membesarkan di kolam budi daya.

Itu pun hanya untuk jenis Bujuk dan Toman. Selain jenis gabus atau Channa, ikan lele juga cukup tahan tanpa air. (yon)

Baca juga: Tambang dan Alih Fungsi Lahan Akibatkan Banjir di Kerinci, Warga Waswas Banjir Dahsyat dan Lama

Baca juga: Membaca Banjir Besar Siklus 20 Tahunan di Kota Jambi, Bincang Kadis Damkartan Mustari

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved