Human Interest Story
Bersih-bersih Sejak Seminggu Terakhir, Kemeriahan Imlek Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili
Dalam tradisi Tionghoa, pada momen seperti ini warna merah keemasan memang mendominasi karena menggambarkan kebahagiaan.
Penulis: tribunjambi | Editor: Duanto AS
NUANSA kemerahan dan keemasan terlihat di Kelenteng Leng Chung Keng, Kota Jambi.
Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili pada Sabtu (10/2) nanti, persiapan matang sudah dilakukan sepekan sebelumnya.
Dalam tradisi Tionghoa, pada momen seperti ini warna merah keemasan memang mendominasi karena menggambarkan kebahagiaan.
Itu terlihat juga pada senyum yang terlihat di wajah beberapa orang yang sibuk menyiapkan peralatan di sana.
Kota Jambi memiliki banyak kelenteng.
Sama seperti tahun tahun sebelumnya, perayaan Imlek di Kota Jambi disambut sukacita oleh warga Tionghoa di Jambi.
Pada momen itu, mereka akan melakukan berbagai kegiatan, selain beribadah juga silaturahmi antar saudara.

"Persiapan perayaan Tahun Baru Imlek ini terkait persiapan tentu sudah cukup panjang," ujar Rio Alviero, Pengurus Harian Kelenteng Leng Chung Keng, Kota Jambi, Kamis (8/2).
Rio menuturkan persiapan telah dilakukan jauh-jauh hari.
"Seminggu terakhir. Kalau sekarang sudah 80 persen, dan persiapannya juga tidak terlalu banyak," jelasnya.
Yang menjadi perhatian saat ini, tentu terkait persiapan di hari -H nanti.
Mulai dari barang-barang yang akan digunakan harus dipastikan, kemudian kebersihan lokasi ibadah, dan juga pengurus siap membantu orang dari luar yang ingin menjalankan ibadah di klenteng tersebut.
Kelenteng akan ramai umat yang akan sembahyang, mulai terlihat pada 9 Februari pada pukul 23.59 WIB.
Rio menuturkan kebanyakan dari mereka akan sembahyang di rumah terlebih dahulu. Setelah itu, nanti mereka akan melanjutkan di kelenteng pada pukul 02.00 WIB tengah malam Imlek.
"Di beberapa klenteng terkadang juga berbeda. Ada yang ramainya pada tengah malam atau ada juga ramainya di waktu pagi, sekitar pukul 06.30 WIB," tuturnya.
Setelah sembahyang, warga Tionghoa akan melakukan pai cia. Ini merupakan tradisi silaturahmi ke rumah saudara.
"Karena tahun ini bertepatan dengan tahun politik, kita mengharapkan mereka tidak melakukan aktivitas apapun yang berbau kampanye di seputaran kelenteng. Agar tidak memicu adanya keributan karena beda pilihan untuk menjaga kerukunan pada perayaan Imlek tahun ini," tuturnya.
Rio menyampaikan pesan, momen Imlek ini supaya benar-benar digunakan untuk perayaan saja.
"Karena momennya sangat berdekatan sekali , perayaan Imlek dan pemilihan (Pemilu 2014). Harapannya mereka bisa membedakan antara saat perayaan imlek dan kampanye," tuturnya.
Tahun Naga
Imlek tahun ini memiliki shio tahun Naga. Berdasarkan kepercayaan tetua terdahulu, tahun Naga ini akan membawa kebaikan dan rezeki yang besar.
Dalam tradisi Tionghoa, Naga memiliki makna keagungan yang besar dan merupakan tahun yang dinantikan.
"Selain membawa rezeki yang besar, tahun naga ini dipercaya juga tahun yang baik untuk menambah momongan," tuturnya.
Sekretaris Majelis Tinggi Agama Konghucu (Matakin) Kota Jambi, Johan Taswin, menambahkan biasanya tanggal 24 bulan 12 Imlek warga sudah melakukan pembakaran kertas sembahyang dan membersihkan patung Dewa (Senming).
Beberapa hal yang mungkin dapat dikatakan adalah pantangan saat perayaan Imlek atau pembersihan tadi, mungkin bagi kaum wanita yang tengah datang bulan (menstruasi), disarankan untuk tidak ikut serta dalam proses pembersihan kelenteng.
Antusias warga Tionghoa pada tahun ini diperkirakan bakan tinggi.
Mengingat ini merupakan perayaan tahunan, pasti akan disambut baik oleh umat yang akan merayakan bersama keluarga.
"Untuk tahun ini, dari informasi yang diterima sementara, untuk perayaan Cap Go Meh tahun ini tidak diadakan. Karena waktunya berdekatan dengan pemilu. Untuk mendukung kondusif dalam perayaan pemilu," ujar Johan.
Johan menyampaikan imbauan dari Matakin pusat, agar menjaga pemilu tahun tetap kondusif, baik sebelum ataupun sesudah pemilu berlangsung.
"Meskipun dalam umat memiliki pilihan yang berbeda-beda, namun harus tetap bersatu dan menjaga suasana tetap kondusif," ujarnya. (abdullah usman)
Baca juga: Ganjar “Terjun Payung” ke Hajatan Rakyat Banyuwangi
Baca juga: Pascabongkar Makam Anak Artis Tamara Tyasmara, Polisi Ungkap Hasil Penelitian Digital
Rahasia UMKM Jambi Buat Gula Merah dari Nira Kelapa Sawit yang Rasanya Lebih Legit |
![]() |
---|
Cara Wanita Jambi Menabung Uang Koin Seribuan untuk Beli Mobil Rp281 Juta |
![]() |
---|
Kisah Orang Rimba Jambi Beli Sapi dari Menabung dan Hidup di Sudung |
![]() |
---|
Juliana Perempuan Pertama Suku Anak Dalam Jambi yang Jadi Sarjana, Seri V |
![]() |
---|
Puluhan Tahun Alex Bertahan Jajakan Putu di Era Modernisasi Kuliner: Dulu Harganya Rp50 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.