Minggu, 12 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Ekonomi

Rupiah Mendekati Rp16 Ribu Per Dolar Bisa Pengaruhi Sejumlah Emiten

Hari ini, rupiah spot ditutup di level Rp 15.810 per dolar AS, menguat 0,09?ri akhir pekan lalu yang ada di Rp 15.825 per dolar AS.

Editor: Hendri Dunan
Kompas
Nilai tukar rupiah terhadap dolar 


TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Kinerja rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih loyo. Meskipun pada hari Senin (29/1) tercatat menguat tipis, tetapi rupiah sudah hampir mendekati Rp 16.000 per dolar AS.

Hari ini, rupiah spot ditutup di level Rp 15.810 per dolar AS, menguat 0,09 persen dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 15.825 per dolar AS.

Rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ada di level Rp 15.825 per dolar AS pada Senin (29/1). Rupiah di Jisdor BI ini menguat 0,02?ri akhir pekan lalu yang ada di Rp 15.829 per dolar AS.

Pelemahan rupiah ini mempengaruhi sejumlah kinerja sejumlah emiten yang bisnisnya menggunakan mata uang dolar AS.

Direktur Ekuator Swarna Investama, Hans Kwee mengatakan rupiah melemah karena ekspektasi pemotongan bunga the Fed berkurang dan potensi pemotongan mulai Maret mengecil peluangnya.

Di sisi lain, data Makro ekonomi AS lebih baik. Pertumbuhan PDB AS yang tinggi memberikan peluang soft-landing policy dari The Fed, sehingga penurunan bunga tidak mungkin sampai 5 - 6 kali.

“Rumor pengunduran diri Menteri Keuangan RI Sri Mulyani juga mempengaruhi kinerja rupiah. Bu Sri dianggap punya reputasi bagus mengelola keuangan negara, sehingga rumor tersebut direspons negatif oleh pasar,” tuturnya.

Hans melihat, semua sektor di pasar modal Indonesia akan terdampak negatif dari pelemahan rupiah.”Tetapi, mungkin sektor komoditas akan diuntungkan dari penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” paparnya.

Analis Phillip Sekuritas, Helen Vincentia mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah dipicu oleh rilis beberapa data ekonomi AS yang menimbulkan spekulasi bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga acuan dalam waktu dekat

Menurut Helen, sektor yang diuntungkan oleh penguatan dolar AS adalah sektor yang memiliki kontribusi ekspor yang besar, seperti sektor komoditas. “Sebaliknya, emiten dengan porsi impor bahan baku yang cukup besar berpotensi terkena dampak negatif dari pelemahan rupiah.

Begitu juga dengan emiten yang memiliki utang dalam mata uang asing,” ujarnya, Senin (29/1).

Jika melansir laporan keuangan per kuartal III 2023, sejumlah emiten properti tercatat memiliki obligasi dolar AS yang cukup besar.

PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) memiliki konsolidasi surat utang dengan nilai total Surat Utang Awal dan Surat Utang Tambahan adalah US$ 400 juta dengan tingkat bunga 4,875 % per tahun yang akan jatuh tempo pada tanggal 29 April 2028. Kedua surat utang itu tercatat di Bursa Efek Singapura dengan Bank of New York Cabang London sebagai Wali Amanat.

PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) diketahui memiliki obligasi senior senilai US$131,96 juta dengan kupon 5,95 % yang jatuh tempo pada 2024. PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) juga memiliki obligasi sebesar US$ 6,704 juta per kuartal III 2023.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, kenaikan tingkat suku bunga yang lebih lama dari The Fed, tingginya tensi geopolitik, hingga menaikkan tensi Pemilu 2024 membuat pelaku pasar dan investor asing khawatir.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved