Berita Tanjabtim

Cerita Nenek Aisyah, Demi Menyambung Hidup Rela 'Ngetek' Buah Sawit Diupah Rp 300 Per Kg

Puluhan tahun ditinggal suami tercinta, Asiyah meski sudan cukup berusia. Namun, sebagai buruh pelepas brondol sawit dari jenjangan atau sebagai penge

Penulis: anas al hakim | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Tribunjambi.com/Anas
Nenek Aisyah 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK- Puluhan tahun ditinggal suami tercinta, Asiyah meski sudan cukup berusia. Namun, sebagai buruh pelepas brondol sawit dari jenjangan atau sebagai pengetek buah sawit tetap semangat.

Dengan menggunakan baju warna ungu, dengan ciput biru, tampak kerutan kulit di wajah yang sudah tak muda lagi.

Nenek berusia 72 tahun warga Kelurahan Nibung Putih, Kecamatan Sabak Barat Tanjab Timur, tetap rutin setiap hari memaksimalkan waktunya dalam mengais rejeki, meskipun upahnya tidak seberapa.

Pekerjaan tersebut sudah ia lakoni selama 4 tahun lamanya, karena semenjak ditinggal oleh suami, terpkasa Asiyah harus mencari nafkah sendiri.

"Biasanya, kami selepas subuh sudah mengetek buah sawit, kemudian siang istirahat dan lanjut lagi hingga sore nanti, bisa dikatakan ini lah pekerjaan kami sehari-hari," jelasnya, Minggu (14/01/24).

Dalam per hari, Asiyah mampu membrondol buah kelapa sawit sebanyak 30 hingga 45 kilo yang di kumpulkan dalam karung. Kemudian setelah 1 minggu barulah ia jual.

"Untuk per kilonya saya di upah 300 rupiah, dan mampu menjual bisa 90 kilo dalam dua hari," terangnya.

Meski di bayar murah. Namun, Asiyah tidak mempermasalahkan hal itu, kerena kebutuhan dan tetap harus mencari rejeki walapun dalam kondisi badan kurang fit.

"Kalau dapat gaji, biasanya kami belikan kebutuhan sehari-hari seperti Beras dan sembako lainya," terang Asiyah.

Ia menyebutkan, bahwa buah sawit tersebut didapat dari PT atau gudang yang sudah di sortir. Dan pekerjaan ini tidak banyak resiko, dan tanpa modal, tinggal datang saja.

Namun, bisanya selama beberapa hari buah ini sebelum dilepaskan harus di diamkan terlebih dahulu selama beberapa haru, agar mudah saat di lepaskan dari tandan atau jenjangan nya.

"Kita busukan dulu selama lima hari, agar lebih mudah saat mau di lepaskan dari tandan nya," ucapnya.

Sejak kepergian Suaminya, ia mengaku tidak Pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah setempat, baik itu bantuan sembako, ataupun yang lainnya. Dengan alasan karena ia ikut bersama anaknya.

"Kami tidak pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah, mungkin karena masalah KK dengan anak. Jadi pinginya, ketika orang dapat bantuan, kami juga pengen dapat bantuan, tapi kalau pun tidak, ya alhamdulillah kami tidak apa-apa," pungkas Asiyah.

Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Ira Nandha Diajak Gabung ke Geng Nagita Slavina usai Diselingkuhi, Ditransfer Rp 50 Juta untuk Umroh

Baca juga: Renungan Harian Kristen 14 Januari 2024 - Karya Allah yang Mengatasi Logika

Baca juga: Download MP3 Nike Ardilla dan Indah Yastami Full Nonstop, Convert di YTMP3 Tanpa Web

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved