Sabtu, 18 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Peminat Bubuk Kopi di Jambi Semakin Merosot, Ternyata Ini Penyebabnya

Bahkan, peningkatan sangat signifikan ketika harga hasil pertanian seperti sawit dan karet tinggi

Penulis: Ade Setyawati | Editor: Rahimin
tribunjambi/rifani halim
Ilustrasi - Kopi Kawan dari Kabupaten Sarolangun. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Perkembangan bisnis bubuk kopi di Jambi semakin memprihatinkan.

Dari 2018 bisnis bubuk kopi terus mengalami penurunan peminat.

Diketahui, bisnis bubuk kopi mengalami peningkatan pada 2012 hingga 2017.

Bahkan, peningkatan sangat signifikan ketika harga hasil pertanian seperti sawit dan karet tinggi.

Namun, sejak 2018 permintaan bubuk kopi mulai mengalami penurunan bahkan setelah pandemi Covid-19 bisnis bubuk kopi semakin mengalami kemerosotan.

Fanny pengelola pabrik kopi yang berada di Kelurahan Simpang III Sipin mengatakan, yang beli bubuk kopi hanya orang yang ngampas.

"Sekarang yang beli itu hanya orang yang ngampas ke sabak, ke Nipah dan daerah lain di dalam provinsi Jambi," jelasnya, Selasa (2/1/2024).

Menurutnya, langganan-langganan setia yang dulu selalu membeli bubuk kopi dalam jumlah yang besar padanya, kini sudah tidak membeli lagi.

"Langganan-langganan lama itu juga sudah tidak ada. Dulu ada langganan yang di sabak, kampung Laut sudah langganan bahkan lebih dari 20 tahunan sekarang juga sudah tidak membeli lagi," ujarnya.

"Pelanggan-pelanggan ini selalu beli dalam jumlah yang cukup besar, dalam satu bulan itu bisa 200 kiloan dan itu baru satu lokasi," sambung Fanny.

Fenny bilang,, saat kondisi bubuk kopi masih banyak diminati dalam satu bulan bisa stok 4 hingga 5 ton biji kopi.

Namun, dalam kondisi yang sangat memprihatinkan saat ini, bahkan dalam satu bulan 1,5 ton sangat sulit menjualnya.

"Dulu 4-5 ton stok biji kopi untuk satu bulan, sekarang untuk satu bulan 1,5 ton saja tidak habis," ujarnya.

Kopi bubuk yang terus mengalami penurunan peminat dampak dari berbagai faktor, selain dari persaingan, harga pertanian yang murah juga menjadi faktor.

"Selain dampak dari pesaing yang semakin banyak, harga hasil perkebunan yang masih murah juga menjadi faktor yang kuat, seperti harga sawit dan karet yang masih murah," pungkasnya.

Baca berita  terbaru  Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Kopi Jambi Keliling Negeri, Dua Pemuda Jelajahi 28 Kota dari Merangin ke Bali, Seri 1

Baca juga: Butuh Impor Kopi Untuk Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri Imbas Penurunan Produksi

Baca juga: BRI UMKM EXPORT BRILIANPRENEUR Bawa UMKM Kopi Tembus Pasar Internasional

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved