Berita Tanjabtim

Aksi Petani Tebang Pohon Pinang, Kadisperindag Tanjabtim: Pemerintah Masih Mencari Pasar Baru

Aksi Petani pinang di Desa Siau Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjab Timur. Yang melakukan penebangan pohon pinang, dikarenakan harga pinang

Penulis: anas al hakim | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Tribunjambi.com/Anas Alhakim
Ilustrasi kebun pinang 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Aksi Petani pinang di Desa Siau Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjab Timur. Yang melakukan penebangan pohon pinang, dikarenakan harga pinang hampir dua tahun ini tidak ada perubahan bahkan semakin terpuruk.

Sejumlah Patanipun yang ada di Kabupaten Tanjab Timur telah sudah putus asa, bahwa untuk harga pinang tidak bisa diharapan lagi kedepannya. Apalagi berharap agar harga pinang ini naik seperti biasanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanjung Jabung Timur Awaluddin, saat dikonfirmasi, menjelaskan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, dan semestinya para Petani diharapkan untuk bersabar, karena pihaknya telah melukan beberapa upaya.

"Kami telah melakukan berbagai upaya, seperti upaya jaka pendek, jangka menengah dan ada upaya untuk jangka panjang, dan permasalahannya adalah dalam tata niaga atau regulasi Ekspor yang tidak berpihak kepada Komoditi Pinang, seperti india menetapkan pajak Ekspor pinang dari Indonesia yaitu 108 persen, tentu ini sangat tinggi," jelasnya, Kamis (23/11/23).

Lanjutnya, jadi dari regulasi -regulasi yang sudah dipetakan oleh Kementerian Perdagangan, bahwa saat ini Pemerintah pusat sedang melakukan negosiasi atau perundingan bilateral antara Negara penerima pinang dengan Indonesia. Dan ini memerlukan waktu yang cukup lama.

"Namanya juga regulasi antara dua negera, bukan regulasi antar daerah, jadi pasti memerlukan waktu yang cukup lama," singkatnya.

Dirinya meng imbau kepada Masyarakat, bahwa buah pinang masih menjadi komodi yang masih dibutuhkan oleh Negara pemakai. Seperti india dan Paksitan.

Dan saat ini, pihaknya sedang dalam upaya untuk mencari pasar baru, seperti negera cina dan amerika, walaupun volumenya tidak terlalu banyak.

"Untuk itu, saya menghimbau kepada Masyarakat atau Petani pinang, agar tidak melakukan hal tersebut, karena ini masalah regulasi bukan masalah bahwa pinang sudah tidak dibutuhkan, seperti India walapun negera penghasil pinang, namun setengahnya mereka tetap membutuhkan pinang dari kita," pungkasnya.

Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Plt Kadisdik Tanjabbar: Peran Guru Sangat Penting Dalam Mendorong Pembentukan Mental

Baca juga: Obrolan Terakhir Bharada Bonifasius dengan Ayah dan Tiga Adiknya Sebelum Gugur di Tangan KKB Papua

Baca juga: Bacaan Injil dan Renungan Katolik Hari Ini Jumat 24 November 2024: Jadikan Aku Tuhan Rumah Doa-Mu

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved